Kita marah ketika ada oknum pejabat yang korup. Kita mengutuk keras tindakan tak bermoral itu. Kita ga mau membenarkan aksi jahat itu, apapun alasannya. Kenapa? Karena menormalisasikan tindakan itu adalah awal kehancuran dari sebuah negara. Kita nasionalis!
Kita geram ketika ada scammer di mana-mana. Kita menghujat keras tindakan tak berprikemanusiaan itu. Ga ada ruang untuk kompromi bahwa itu bukan aksi yang hina. Mengapa? Karena menormalisasikan tindakan ini adalah awal kerusakan kehidupan masyarakat. Kita humanis!
Tapi ketika di bursa, kita menyanjung para manipulator. Ga tanggung-tanggung, kita angkat beliau-beliau jadi 'nabi' junjungan. Bahkan yang bikin mengelus dada dan menepuk jidat, Tuhan kita ajak-ajak coy!!! Untuk memberkati beliau-beliau dan memuluskan rencananya.
Kita menormalisasikan tindakan manipulatif sebagai hal yang lumrah dan wajar. Hanya karena dapat tampias daripadanya. Hanya karena bukan kita korbannya (saat ini). Hanya karena bukan kita yang mengalami kerusakan sistem di masa depan.
Ke mana perginya nasionalisme dan humanisme itu? Apa iya karena sama-sama tujuannya cari uang dalam hidup, kita boleh memaklumi tindakan amoral seperti korupsi, manipulasi, dan tipu-tipu? Apa asal $CUAN itu jadi hal yang benar untuk dilakukan? Where do you want this country to be?
Ada pihak yang melihat, "Woi sistemmu sudah bermasalah banget. Segera benerin. Until then, we will give you negative outlook." Bukannya dianggap sebagai kritik yang membangun, malah muncul versi 'nasionalisme' palsu yang konyol, yaitu menyumpahi ketika saham pihak yang mengingatkan itu nyungsep. 馃槥
Mumpung libur, silahkan direnungkan!
Random tag semua, jangan diartikan macam-macam!
$PTRO $RAJA