imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

#19 Ketika Harapan Lebih Berbahaya dari Risiko

Saya dulu lebih takut pada risiko yang terlihat daripada harapan yang saya simpan diam-diam. Angka kerugian saya perhitungkan dengan cermat, potensi turun saya antisipasi, tapi satu hal luput saya jaga: harapan. Saya berharap terlalu banyak pada satu saham, satu momentum, satu skenario indah yang belum tentu terjadi. Ketika harga mulai bergerak berlawanan, saya tidak segera mengambil keputusan rasional, karena harapan itu membisiki bahwa semuanya akan kembali seperti yang saya bayangkan.

Di situlah saya belajar bahwa harapan bisa jauh lebih berbahaya daripada risiko. Risiko jelas bentuknya—bisa dihitung, bisa dibatasi, bisa dikelola. Harapan tidak. Ia tidak tertulis di rencana, tapi diam-diam mengendalikan tindakan. Saya menahan posisi bukan karena analisis, tapi karena berharap. Saya menunda evaluasi bukan karena data mendukung, tapi karena enggan melepaskan bayangan hasil yang pernah saya impikan. Tanpa sadar, harapan membuat saya melanggar aturan yang saya buat sendiri.

Momen paling jujur datang ketika saya akhirnya bertanya: apakah saya masih memegang saham ini karena alasannya masih benar, atau hanya karena saya berharap tidak salah? Pertanyaan itu tidak nyaman, tapi perlu. Saya mulai menyadari bahwa risiko yang diterima dengan sadar jauh lebih sehat daripada harapan yang dibiarkan liar. Risiko mengajarkan disiplin, sementara harapan yang berlebihan sering kali melumpuhkan logika.

Hari ini, saya tetap berharap—karena tanpa harapan, tidak ada alasan untuk memulai. Bedanya, saya tidak lagi membiarkan harapan menggantikan penilaian. Saya menempatkannya di tempat yang semestinya: sebagai motivasi, bukan pembenaran. Dari sana saya belajar satu hal penting: risiko bisa melukai portofolio, tapi harapan yang tidak terkendali bisa merusak keputusan. Dan di pasar saham, keputusanlah yang paling menentukan arah perjalanan.

$IHSG $MAPI $HRTA

Read more...
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy