$BELL Berikut adalah analisis tajam dan mendalam terhadap kinerja BELL. berdasarkan data laporan keuangan Q3 2025 yang Tersedia saat ini.
1. Bedah Angka Q3 2025: Anatomi Kinerja
Kita akan membedah angka per kuartal (Quarter-on-Quarter) dan akumulasi (TTM/Annualised) untuk melihat realita operasional perusahaan.
A. Sisi Top-Line (Revenue)
Q3 2025: Rp130 Miliar. Jika dibandingkan dengan Q3 2024 Rp145 M, terjadi penurunan pendapatan sebesar 10,3%.
Tren Kuartalan: Ada pola penurunan bertahap dari Q1 151 miliar ke Q3 130 miliar. Ini mengindikasikan pelemahan permintaan atau ketatnya kompetisi di pasar domestik sepanjang 2025.
Annualised (Estimasi setahun): Rp551 Miliar. Angka ini lebih rendah dari capaian 2024 Rp585 Miliar, menunjukkan sinyal negative growth secara tahunan jika Q4 tidak melakukan "keajaiban".
B. Bottom-Line & Profitabilitas (Net Income & EPS)
Net Income Q3 2025: Rp389 Juta. Walaupun angka ini positif, namun sangat tipis untuk perusahaan dengan aset Rp566 Miliar.
Recovery dari Q2: Kabar baiknya, Q3 berhasil membalikkan kondisi Rp 389 Juta dari kerugian di Q2 sebesar -Rp983 Juta.
EPS Q3 2025: 0,05. Secara kumulatif (TTM), EPS berada di angka 0,70. Penurunan tajam dibanding TTM Q3 2024 yang mencapai 1,21. Artinya, kemampuan cetak laba perusahaan merosot hampir 42%.
C. Rasio Margin (Sangat Mengkhawatirkan)
Net Profit Margin (Quarter): 0,30%. Ini adalah angka yang sangat berisiko. Margin laba bersih di bawah 1% berarti perusahaan hampir tidak punya "ruang napas". Sedikit saja kenaikan biaya bahan baku atau pelemahan kurs, perusahaan langsung berisiko rugi bersih.
Operating Profit Margin: 3,41%. Menunjukkan inefisiensi pada biaya operasional atau beban penjualan yang terlalu gemuk dibandingkan volume penjualan.
2. Struktur Neraca & Solvabilitas (Kesehatan Keuangan)
Quick Ratio: 0,55x. Ini adalah Red Flag. Idealnya di atas 1,0x. Rasio ini menunjukkan BELL hanya punya 55% aset sangat likuid (kas + piutang) untuk menutup utang jangka pendek yang akan jatuh tempo. Sisanya terjebak dalam Persediaan (Inventory).
Inventory Risk: Dengan Current Ratio 1,38x tapi Quick Ratio 0,55x, artinya sebagian besar aset lancar BELL berbentuk barang jadi/bahan baku. Jika barang ini tidak laku di Q4, risiko write-off atau penurunan nilai persediaan akan menghantam laba.
Debt to Equity Ratio (DER): 0,73x. Masih dalam batas aman (di bawah 1,0x), menunjukkan struktur modal masih didominasi ekuitas.
3. Analisis Valuasi: Mahal atau Murah?
Mari kita bicara angka:
PE Ratio (TTM) 255,09x Sangat Mahal (Extreme Overvalued)
Price to Book Value (PBV) 5,53x Mahal (Industri tekstil biasanya di bawah 1,5x)
EV/EBITDA 27,78x Mahal (Rata-rata industri sehat 8-10x)
Analisis: PE Ratio 255x berarti pasar menghargai BELL seolah-olah perusahaan ini akan tumbuh eksplosif seperti perusahaan teknologi, padahal kinerjanya (EPS) justru turun 40%. Valuasi ini tidak rasional untuk emiten tekstil dengan NPM 0,3%.
4. Waspadai Misteri Q4 2025
benar untuk waspada. Secara historis (lihat data 2024), Q4 biasanya menjadi puncak pendapatan Rp159 B Miliar Namun, pada 2024 Q4, meskipun pendapatan tertinggi, EPS-nya malah minus (-0,05).
Risiko Q4 2025: Ada potensi beban akhir tahun (bonus, maintenance, atau penyesuaian stok) yang bisa menyeret laba Q3 yang sudah tipis kembali ke zona merah.
Dividen: Dividend Yield hanya 0,39%. Tidak ada alasan kuat memegang saham ini untuk pendapatan pasif.
5. Hitung Harga Wajar & Batas Aman (Margin of Safety)
Menggunakan metode Benjamin Graham Revised atau pendekatan PE Standar Industri (Conservative):
EPS TTM: 0,70
PE Wajar Sektor Tekstil (Moderat): 10x - 12x
PBV Wajar: 1,0x (mengingat ROE hanya 2,17%)
A. Estimasi Harga Wajar (Fair Value)
Berdasarkan EPS: 0,70 x 12 = Rp8,4
Berdasarkan Book Value (BVPS): Rp32,36 (Ini adalah nilai intrinsik aset per saham).
B. Batas Aman Investor (Margin of Safety - MoS 30%)
Jika kita menggunakan nilai buku sebagai patokan harga wajar (karena PE tidak reliabel saat laba sangat kecil):
Harga Wajar: Rp32
Batas Aman (MoS 30%): Rp22 - Rp25
Kesimpulan Akhir:
STATUS: SEVERE OVERVALUED (Sangat Mahal)
Harga pasar saat ini Rp.179 sudah jauh meninggalkan nilai fundamentalnya.
Disclaimer : Analisis ini merupakan opini/ pendapat pribadi berdasarkan data keystats yang tersedia saat ini, Bukan Rekomendasi Ajakan Jual/Beli.
1/2

