#133
Jum, 13 Feb 2026
Semua Masalah di Pasar Saham Berasal dari Hubungan dengan Orang Lain
Lepaskan Keinginan untuk Diakui
Pasar saham bukan hanya tempat bertemunya penawaran dan permintaan.
Ia juga arena pertemuan emosi manusia: ketakutan, keserakahan, harapan, iri hati, dan keinginan untuk diterima oleh orang lain.
Banyak investor merasa gelisah bukan karena pergerakan harga itu sendiri, melainkan karena apa yang orang lain pikirkan tentang pilihan mereka.
Lihat saja pola yang sering terjadi:
• Saham blue chip stagnan selama setahun, sementara saham spekulatif melonjak 200–300%. Teman di grup chat/ Stream berkomentar: “Strategi lo lambat banget, masa nggak ikut yang lagi hot?”
• Anda memilih hold saham dengan fundamental kuat meski harganya turun sementara. Influencer di live streaming bilang: “Yang masih pegang saham ini pasti rugi besar, cepat cut loss!”
• Anda menolak ikut hype saham third liner yang sedang ramai dibicarakan. Ada yang nyinyir: “Lo ketinggalan kereta nih, masa nggak update?”
Dalam setiap kasus, ketidaknyamanan sebenarnya bukan dari pergerakan harga, melainkan dari hubungan dengan orang lain dari keinginan untuk diakui, diterima, atau tidak dikritik.
Masalah investasi yang paling dalam sering kali bukan tentang uang, tapi tentang keinginan untuk disukai atau dianggap benar oleh orang lain.
Ketika kita membiarkan opini orang lain menjadi ukuran kebenaran strategi kita, kita kehilangan kebebasan untuk menjalankan tugas kita sendiri.
Tugas kita sebagai investor adalah:
• Menganalisa perusahaan dengan objektif.
• Membeli saat ada margin of safety yang memadai.
• Memegang dengan sabar selama fundamental tetap kuat.
• Menjual saat valuasi sudah terlalu mahal atau bisnis berubah.
Tugas orang lain adalah:
• Memberi opini tentang strategi kita.
• Menilai apakah kita “ketinggalan” atau “kuno”.
• Menentukan apakah pilihan kita “benar” atau “salah” berdasarkan hasil jangka pendek mereka.
Kebijaksanaan sejati dimulai ketika kita memisahkan kedua tugas itu dengan tegas.
Kita tidak perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun.
Kita tidak bertanggung jawab atas perasaan orang lain terhadap pilihan kita.
Dan yang terpenting: kita tidak perlu disukai semua orang agar strategi kita valid.
Ketika kita melepaskan keinginan untuk diakui, kebebasan sejati muncul:
• Kita bisa tetap hold saham berkualitas meski orang lain bilang “udah telat”.
• Kita bisa menolak ikut hype tanpa merasa bersalah atau takut dikucilkan.
• Kita bisa mengambil untung secara bertahap tanpa takut orang bilang “lo kurang agresif”.
• Kita bisa tidur nyenyak meski IHSG merah, karena keputusan kita bukan untuk memuaskan orang lain, melainkan untuk menjaga prinsip kita sendiri.
Praktik sederhana untuk memulai kebebasan ini:
1. Saat mendengar komentar atau nyinyiran tentang strategi Anda, tanyakan dalam hati: “Apakah ini tugas saya atau tugas mereka?”
2. Jika itu tugas mereka (pendapat, penilaian, kritik), lepaskan tidak perlu menjawab atau membuktikan apa pun.
3. Kembalikan fokus ke tugas Anda: apakah saham ini masih undervalued? Apakah bisnisnya tetap sehat? Apakah margin of safety masih ada?
4. Tulis aturan pribadi: “Saya tidak akan mengubah strategi hanya karena opini orang lain.”
Pasar saham penuh dengan suara orang lain.
Tapi ketenangan sejati datang ketika kita berhenti mendengarkan suara itu sebagai ukuran kebenaran.
Kita hanya perlu menjalankan tugas kita dengan benar dan membiarkan hasil datang sebagaimana adanya.
Semangat menjalani perjalanan dengan hati yang lebih bebas.
Pasar saham bukan tempat untuk mencari pengakuan ia adalah tempat untuk mencari ketenangan.
— Hazn Store
Rantag : $IHSG $BBCA $PTRO
