$BBCA broker flow, khususnya dari aktivitas broker institusi dan investor asing, terlihat bahwa mayoritas pelaku pasar saat ini cenderung melakukan aksi jual (distribusi). Hampir seluruh broker institusi berada pada posisi distribusi, sementara akumulasi hanya tampak terbatas, salah satunya pada broker CC. Selebihnya, seperti ZP, YU, RX, AK, dan lainnya, menunjukkan pola distribusi yang dominan.
Di sisi lain, investor ritel justru menunjukkan kecenderungan yang berbeda. Meskipun investor asing melakukan distribusi, broker yang umumnya digunakan oleh ritel memperlihatkan pola akumulasi dengan tren yang relatif meningkat. Fenomena ini terlihat cukup merata, di mana sebagian besar broker ritel saat ini berada dalam fase pengumpulan saham.
Jika dilihat dari broker summary sejak 1 Februari, RX sempat mencatatkan net buy sekitar Rp300 miliar. Namun, nilai tersebut masih kalah besar dibandingkan aksi jual dari broker lain, seperti AK yang mencatat net sell sekitar Rp1,5 triliun, ZP sekitar Rp700 miliar, BB sekitar Rp200 miliar, serta KZ sekitar Rp146 miliar. Secara agregat, nilai net sell masih jauh lebih besar dibandingkan net buy, dengan total investor asing telah mencatatkan net sell sekitar Rp2,2 triliun sejak awal Februari.
Apabila ditarik lebih jauh sejak 1 Januari, investor asing tercatat telah melepas saham dengan nilai mencapai sekitar Rp11–12 triliun. Aksi jual ini terutama dilakukan oleh broker seperti ZP, AK, KZ, BK, YU, dan BB. Menariknya, pihak yang cenderung menyerap saham hasil penjualan asing tersebut adalah broker yang berafiliasi dengan investor ritel.
Pada data broker summary terbaru, investor asing masih melanjutkan aksi distribusi, dengan estimasi penjualan sekitar Rp1 triliun dalam satu hari. Rinciannya antara lain AK mencatat net sell sekitar Rp500 miliar, KZ sekitar Rp200 miliar, dan BK sekitar Rp170 miliar.
Secara fundamental, kinerja BBCA sebenarnya masih tergolong baik. Namun, tekanan yang terjadi diduga berkaitan dengan faktor eksternal, seperti kebijakan MSCI dan penilaian Moody’s sebelumnya. MSCI dilaporkan melakukan “freeze” terhadap saham Indonesia, yang memunculkan kekhawatiran akan potensi penurunan status pasar Indonesia dari emerging market menjadi frontier market. Kondisi ini memicu kekhawatiran terjadinya arus keluar dana (outflow) yang besar.
Sejumlah pandangan dari pelaku pasar juga menyebutkan bahwa institusi saat ini cenderung mengamankan likuiditas dan mengambil posisi wait and see. Baik institusi lokal maupun asing menunjukkan kecenderungan sikap yang lebih berhati-hati, bahkan mengarah ke sentimen bearish dalam jangka pendek, sambil menunggu kejelasan arah kebijakan dan aliran dana global.
#DYOR #NFA #LAKUKANRESEACHMANDIRI $IHSG $BMRI
1/5




