imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Mengintip Kekuatan 5 Raksasa China di Balik Tender Proyek "Waste-to-Energy" Danantara Indonesia馃敟

Indonesia tengah memasuki babak baru dalam pengelolaan sampah perkotaan. Di bawah komando Danantara Indonesia, proyek Waste-to-Energy (WtE) atau Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) kini telah memasuki fase krusial. Tidak main-main, proyek ini difokuskan pada empat kota dengan volume sampah paling kritis: Bali, Bogor, Bekasi, dan Yogyakarta.

Dari ratusan pelamar, Danantara telah menyaring ketat menjadi 24 perusahaan internasional yang berhak masuk Daftar Penyedia Teknologi (DPT). Mereka berasal dari negara-negara maju seperti Prancis, Jepang, Singapura, Hong Kong, dan tentu saja, China.

Mengapa ini penting? Karena Danantara tidak hanya mencari kontraktor, melainkan mitra strategis. Fadli Rahman, Lead of Waste-to-Energy Danantara Indonesia, menegaskan bahwa perusahaan yang lolos wajib membentuk konsorsium. Tujuannya jelas: agar terjadi transfer teknologi kepada perusahaan lokal atau pemerintah daerah, serta menjamin tata kelola yang transparan dari hulu ke hilir.

Berikut adalah bedah profil mendalam dari 5 perusahaan asal China yang lolos seleksi dan siap bertarung memperebutkan tender yang akan diumumkan akhir Februari 2026 ini:

1. Chongqing Sanfeng Environment Group Corp., Ltd.
Kekuatan: Teknologi Jerman & Pemain Murni WtE

Sanfeng bukanlah sekadar kontraktor umum yang "kebetulan" bisa menggarap proyek lingkungan. Sejak berdiri tahun 2009, inti bisnis mereka adalah Waste-to-Energy. Keunggulan utama mereka terletak pada penguasaan teknologi. Sanfeng memegang lisensi teknologi grate incinerator dari Martin GmbH (Jerman), yang kemudian mereka lokalisasi dan kembangkan sendiri.

Artinya, mereka mampu memproduksi peralatan inti mulai dari tungku pembakaran hingga sistem pemurnian gas buang secara mandiri. Dengan portofolio lebih dari 250 proyek di berbagai negara dan kapasitas pengolahan total 220.000 ton sampah/hari, Sanfeng menawarkan model bisnis terintegrasi (investor sekaligus operator) yang menjamin efisiensi biaya jangka panjang.

2. Wangneng Environment Co., Ltd
Kekuatan: Jaringan Luas & Fleksibilitas Pengolahan

Berbasis di Huzhou, Zhejiang, Wangneng adalah raksasa dengan 98 anak perusahaan yang tersebar hingga ke Thailand, Kamboja, dan Australia. Keunikan Wangneng terletak pada diversifikasi pengolahannya; mereka tidak hanya membakar sampah, tapi juga ahli dalam mengolah limbah dapur, lumpur, hingga daur ulang karet.

Dalam tender Danantara ini, Wangneng membawa proposisi nilai yang menarik: mereka secara agresif mencari mitra lokal Indonesia (BUMN, BUMD, atau swasta nasional) untuk membentuk konsorsium. Kapasitas mereka mengonversi sampah menjadi 3,04 miliar kWh listrik bersih per tahun menjadi bukti nyata potensi energi yang bisa dihasilkan untuk ribuan rumah di Indonesia.

3. Zhejiang Weiming Environment Protection Co Ltd
Kekuatan: Pemain Lama yang Sudah Masuk Pasar Indonesia

Weiming mungkin adalah nama yang paling familiar bagi pemangku kepentingan di Indonesia. Melalui anak usahanya, Weiming Equipment, mereka telah menyuplai peralatan insinerator untuk proyek di kawasan industri Indonesia (Shanghai Dingxin/Qingshan Park).

Jejak langkah mereka cukup agresif. Weiming tercatat pernah menawarkan investasi USD 225 juta ke Pemprov Bali dan menjajaki teknologi insinerasi untuk TPPAS Cirebon Raya bersama Pemprov Jabar. Dengan model bisnis yang mencakup seluruh rantai pasok鈥攄ari desain, investasi, manufaktur alat, hingga operasi鈥擶eiming adalah kandidat kuat yang menawarkan solusi end-to-end.

4. SUS Indonesia Holding Limited (Shanghai SUS)
Kekuatan: Bukti Nyata di Makassar

Meskipun menggunakan nama entitas "Indonesia", perusahaan ini sepenuhnya berafiliasi dengan Shanghai SUS Environment Co., Ltd. Alasan mereka masuk pasar Indonesia sangat pragmatis: volume sampah yang besar dan krisis lahan TPA.

Namun, SUS memiliki keunggulan kompetitif yang sulit ditandingi: bukti nyata proyek yang sudah berjalan. Di Makassar, Sulawesi Selatan, SUS telah membangun fasilitas WtE yang mengelola 1.300 ton sampah per hari dengan output listrik 35 MW. Keberhasilan proyek di Makassar ini menjadi portofolio hidup yang membuktikan bahwa teknologi mereka kompatibel dengan karakteristik sampah di Indonesia.

5. PT Jinjiang Environment Indonesia (Zheneng Jinjiang)
Kekuatan: Investasi Jumbo di Palembang

Bagian dari Zheneng Jinjiang Environment Holding yang telah beroperasi sejak 1998, perusahaan ini baru saja menyelesaikan restrukturisasi internal pada pertengahan Februari 2026. Fokus utama mereka saat ini adalah proyek PLTSa di Palembang, Sumatera Selatan.

Tidak tanggung-tanggung, mereka mengucurkan investasi sekitar US$ 120 juta (Rp 1,8 Triliun) untuk fasilitas berkapasitas 1.000 ton/hari dengan skema Build Own Operate (BOO) selama 30 tahun. Kesiapan finansial dan pengalaman menangani 27 fasilitas WtE di China menjadikan mereka mitra yang sangat stabil secara modal.

Kesimpulan & Apa Selanjutnya?

Kelima perusahaan di atas hanyalah sebagian dari 24 nama besar yang sedang diverifikasi oleh Danantara. Siapapun yang terpilih nanti pada pengumuman akhir Februari 2026, harapannya satu: Indonesia tidak hanya bersih dari sampah, tetapi juga menjadi mandiri secara energi melalui teknologi yang diadopsi dari para raksasa dunia ini.

Menurut kamu siapa yang akan menjadi pemenang proyek raksasa WTE Danantara?
Komen emiten jagoan kamu dong 馃憞 馃槈
RT $SOFA $BIPI $OASA

Read more...
2013-2026 Stockbit 路AboutContactHelpHouse RulesTermsPrivacy