#17 Pasar Tidak Berjanji Apa-Apa
Saya pernah masuk ke pasar saham dengan perasaan optimistis yang nyaris naif. Saya merasa sudah belajar cukup, sudah membaca banyak, dan karena itu pasar seharusnya memberi hasil yang pantas. Ketika realitas tidak berjalan sesuai rencana—harga turun, portofolio stagnan—muncul rasa kecewa yang sulit dijelaskan. Seolah ada janji tak tertulis yang dilanggar. Belakangan saya sadar, kekecewaan itu lahir karena saya berharap pada sesuatu yang sejak awal tidak pernah dijanjikan.
Dulu saya memperlakukan pasar seperti mitra yang bisa diajak kompromi. Jika saya sabar, ia akan membalas. Jika saya rajin, ia akan adil. Tapi pasar tidak bekerja dengan logika seperti itu. Ia tidak mengenal usaha, tidak mengenal niat baik, dan tidak peduli seberapa keras kita berharap. Ia hanya bergerak sesuai mekanismenya sendiri. Di situlah pelajaran pahit sekaligus penting itu datang: pasar tidak berjanji apa-apa, dan justru karena itu kita harus berhenti menuntut.
Ketika saya menerima kenyataan itu, sudut pandang saya berubah. Saya berhenti bertanya “kenapa hasilnya begini” dan mulai bertanya “apa yang bisa saya kendalikan”. Saya tidak lagi menggantungkan rasa tenang pada hasil jangka pendek, melainkan pada proses yang saya pahami. Risiko saya kelola, ekspektasi saya sesuaikan, dan keputusan saya ambil tanpa berharap balasan cepat. Anehnya, sejak berhenti menuntut, tekanan justru berkurang.
Hari ini, saya masih berharap investasi saya bertumbuh—dan itu wajar. Bedanya, harapan itu tidak lagi saya anggap sebagai hak yang harus dipenuhi pasar. Saya mengerti bahwa pasar tidak pernah berjanji memberi apa pun, tapi ia memberi kesempatan bagi mereka yang siap menghadapi ketidakpastian. Di titik itu, saya menemukan ketenangan yang sebelumnya sulit dicapai. Bukan karena hasil selalu baik, tapi karena saya tidak lagi menggantungkan rasa aman pada janji yang tidak pernah ada.
$IHSG $ASGR $MSTI
