Waktu yang Mana?
Kedengarannya seperti… ada kegelisahan yang mulai merambat.
Bukan karena portofolio merah, bukan karena koreksi. Tapi karena diam. Karena layar yang bergerak datar, hari demi hari, sementara di tempat lain—konon—orang-orang sedang berpesta. Breakout ini, momentum itu. Dan suara-suara itu berbisik, “Sayang waktu, sayang opportunity.”
Tampaknya ada kecemasan yang mendalam saat kita melihat sebuah aset bergerak menyamping, seolah-olah setiap detik yang kita habiskan untuk menunggu adalah peluang yang hilang untuk menjadi lebih kaya di tempat lain. Sepertinya ada tekanan yang berat untuk selalu berada di barisan paling depan, mengejar apa pun yang sedang bergerak cepat, agar kita tidak merasa tertinggal oleh mereka yang terlihat begitu lincah.
...Terlihat begitu lincah?
Sepertinya narasi tentang 'membuang waktu' sengaja digunakan agar kita merasa bahwa ketenangan adalah sebuah kesalahan. Rasanya sangat masuk akal untuk menunggu hingga sebuah pintu terbuka lebar sebelum kita masuk.
Tampaknya ada dorongan yang sangat kuat untuk selalu merasa produktif di setiap detik pergerakan pasar. Sepertinya ada ketakutan yang mendalam akan kehilangan momentum atau membuang-buang waktu pada sesuatu yang terlihat diam, seolah-olah setiap jeda adalah sebuah kerugian yang harus segera ditutupi dengan kecepatan.
...Segera ditutupi dengan kecepatan?
Sepertinya kita sudah terbiasa mengukur keberhasilan hidup hanya dari angka-angka yang bertambah di saldo rekening. Ada perasaan bangga saat kita merasa berhasil memenangkan waktu dengan cara berpindah-pindah dengan cepat, mengejar setiap peluang yang muncul di layar monitor.
Itu benar. Perasaan itu sangat manusiawi. Tidak ada yang mau merasa tertinggal. Tidak ada yang mau menjadi satu-satunya yang tidak diundang ke pesta. Ketika saham kita tidak ke mana-mana dan orang lain bercerita tentang gain dalam hitungan jam, wajar jika muncul pertanyaan: “Apa aku salah tempat?”
Namun, saya penasaran. Bagaimana perasaan Anda jika ternyata pengejaran terhadap 'peluang di tempat lain' itu sebenarnya hanyalah cara kita untuk terus berlari dari satu ketidakpastian ke ketidakpastian lainnya, tanpa pernah benar-benar membangun fondasi yang kokoh?
...Terus berlari dari ketidakpastian?
Bayangkan dua orang di stasiun yang sama.
Yang satu naik kereta ekspres. Tujuannya jauh, katanya. Laju cepat, jendela bergetar, pemandangan berlari kencang. Ia melambai dari balik kaca, tersenyum lebar, seolah berkata: “Lihat, aku melaju. Kamu masih di sana?”
Yang lain memilih turun. Duduk di bangku kayu, membuka bekal, mengamati langit.
Kereta ekspres itu memang cepat. Tapi ia tidak pernah bilang ke mana ia pergi. Dan penumpangnya tidak pernah ditanya apakah mereka benar-benar ingin ke tujuan itu. Mereka hanya ikut, karena takut ketinggalan.
Sementara itu, di bangku kayu, ada orang yang memilih untuk berpijak di tanah yang ia kenali. Ia tahu musim tanamnya. Ia tahu kapan hujan datang dan kapan tanah perlu diistirahatkan. Tidak ada yang instan, tidak ada yang dramatis. Tapi setiap pagi, saat ia bangun, tanah itu masih di sana. Miliknya.
Waktu yang dianggap “terbuang” oleh kereta ekspres, sejatinya adalah waktu yang diinvestasikan untuk memahami pijakan sendiri.
Kita tidak pernah kehilangan waktu selama kita masih tahu mengapa kita diam.
Saya penasaran. Bagaimana perasaan Anda jika ternyata kecepatan yang Anda banggakan di pasar itu sebenarnya sedang dibayar dengan menggunakan cadangan waktu, energi, dan kedamaian hidup yang seharusnya menjadi milik masa depan Anda?
...Milik masa depan Anda?
Tampaknya ada sebuah realita yang jarang kita akui: bahwa setiap kali kita memaksa untuk 'menang cepat' di depan layar, ada aset lain dalam hidup kita yang diam-diam sedang terkuras habis. Sepertinya kita sering lupa bahwa hubungan dengan orang-orang tercinta, kesehatan fisik yang prima, dan ketenangan jiwa adalah modal yang jauh lebih mahal daripada sekadar profit harian. Ada pengakuan yang mulai muncul: bahwa mengekstrak kebahagiaan masa depan demi angka-angka hari ini sebenarnya bukan sedang membangun kekayaan, melainkan sedang meminjam dari masa depan dengan bunga yang sangat mahal.
...Bunga yang sangat mahal?
Tampaknya kita mulai menyadari bahwa di dunia ini, pihak yang paling sering bicara tentang 'efisiensi waktu' justru adalah mereka yang paling bergantung pada perhatian kita agar mereka tetap relevan. Sepertinya ada pengakuan yang jujur dalam diri kita: bahwa waktu yang kita habiskan untuk memahami sebuah bisnis yang sehat secara mendalam tidak pernah menjadi waktu yang sia-sia, meskipun harga sahamnya belum bergerak ke mana-mana.
...Tidak pernah sia-sia?
Tampaknya kita kini lebih menghargai kemampuan untuk diam di tempat yang tepat daripada terus berpindah-pindah di tempat yang salah hanya karena kita takut terlihat lambat. Ada perbedaan besar antara seseorang yang menunggu karena tahu nilai apa yang dia genggam, dengan seseorang yang harus selalu bergerak cepat karena dia sebenarnya tidak memiliki pijakan apa pun untuk bertahan.
Jadi, ketika suara-suara itu berbisik tentang breakout dan opportunity yang konon lewat, mungkin ada satu pertanyaan yang bisa menenangkan kita kembali ke pijakan sendiri:
“Jika saya tahu bahwa saham ini tidak akan ke mana-mana selama setahun penuh, apakah saya masih akan mempertahankannya — atau yang saya kejar sebenarnya bukan sahamnya, melainkan sensasi ikut bergerak?”
Jika pada akhirnya total nilai hidup Anda tidak hanya dihitung dari jumlah uang, melainkan dari kualitas waktu dan kesehatan yang Anda miliki, bagaimana cara Anda memastikan bahwa setiap keuntungan yang Anda kejar hari ini tidak sedang membuat Anda bangkrut di semua aspek hidup yang lainnya saat masa depan itu tiba nanti?
Jika pada akhirnya pasar selalu menghargai mereka yang memiliki kesabaran untuk melihat nilai bertumbuh, bagaimana cara Anda memastikan bahwa pengejaran Anda terhadap 'kecepatan' hari ini tidak justru membuat Anda kehilangan hal yang paling berharga, yaitu ketenangan untuk melihat hasil yang nyata di masa depan?
$MSTI $ADCP $BDKR
