Pernah tidak kalian merasa sedang mengamati sebuah pesta eksklusif dari balik jendela kaca yang buram? Kalian melihat orang-orang di dalam tertawa, gelas berdenting, dan sepertinya ada kue besar yang sedang dibagi-bagi dengan penuh suka cita. Kalian ingin masuk tapi pintunya terkunci, atau setidaknya kalian tidak tahu siapa sebenarnya yang punya hajat dan siapa saja tamu undangan utamanya. Kurang lebih seperti itulah rasanya menjadi investor ritel di bursa kita, terutama saat melihat saham tertentu tiba-tiba terbang ratusan persen tanpa alasan fundamental yang masuk akal. Akhirnya, BEI mulai merasa perlu membersihkan kaca buram itu melalui rencana penerbitan daftar konsentrasi pemegang saham yang sedang ramai dibicarakan.
Kabar ini mencuat setelah pertemuan dengan MSCI, sebuah entitas yang kalau berdeham saja bisa membuat manajer investasi global gemetar. Masalahnya klasik namun fundamental, yaitu soal keterbukaan dan seberapa mudah sebenarnya sebuah saham bisa dibeli secara wajar tanpa menggerakkan harga secara liar. Selama ini kita mungkin hanya tahu siapa pemilik 5% ke atas karena aturannya memang begitu, tapi di bawah permukaan itu ada labirin kepemilikan yang sering kali membuat publik hanya kebagian sisa-sisa kecil di pinggiran piring. Padahal dalam dunia investasi modern, mengetahui siapa kawan sejalan kita di dalam sebuah emiten adalah bentuk pertahanan diri yang paling mendasar.
Rencana ini sebenarnya cukup revolusioner untuk standar pasar kita yang terkadang masih terasa seperti rimba belantara. Bayangkan saja, klasifikasi investor akan dipecah secara mendalam dari hanya 9 kategori menjadi 28 kategori. Artinya bursa ingin tahu lebih detail apakah yang membeli saham itu benar-benar dana pensiun yang sabar, asuransi yang konservatif, atau sekadar sekumpulan akun yang kebetulan memiliki pola transaksi yang sangat seragam. Target pengumpulan data ini memang dipatok pada Maret 2026, sebuah tenggat waktu yang menunjukkan bahwa otoritas tidak main-main dalam merespons keresahan investor global mengenai kualitas likuiditas di Indonesia.
Jika kita sedikit menoleh ke bursa Hong Kong yang menjadi inspirasi kebijakan ini, otoritas di sana sudah lama rajin memberikan tanda peringatan pada perusahaan yang sahamnya dikuasai segelintir orang. Ada satu kasus menarik di mana pengendali utama dan 20 pemegang saham lainnya menguasai lebih dari 90% saham yang beredar. Secara teknis mereka mungkin bisa berkelit dengan mengatakan bahwa 20 orang itu adalah pihak independen dan bukan afiliasi, sehingga aturan minimal saham publik tetap terpenuhi. Namun logikanya sederhana saja, kalau hampir semua barang sudah dipegang segelintir orang, harga mau dibuat naik setinggi langit pun mudah sekali karena tidak ada yang berani jualan di tengah jalan.
Risiko tersembunyi dari struktur kepemilikan yang terlalu terkonsentrasi adalah terciptanya ilusi pasar. Kita sering kali terkecoh melihat harga yang melonjak tajam dengan volume transaksi yang sebenarnya sangat sepi. Itu bukan lagi pasar yang sehat, melainkan panggung sandiwara di mana penontonnya dipaksa percaya bahwa harga tersebut mencerminkan nilai perusahaan yang sesungguhnya. Saat daftar konsentrasi ini nantinya dirilis secara rutin, narasi pasar akan dipaksa untuk lebih jujur. Investor tidak lagi hanya akan bertanya tentang seberapa besar laba bersih kuartal ini, tapi mulai melihat dengan kritis siapa saja sebenarnya para penumpang di dalam bus yang sama dengan mereka.
Menariknya, langkah pengungkapan kepemilikan hingga 1% ini akan membongkar banyak rahasia kecil yang selama ini tersimpan rapat di balik akun-akun nominal. Transparansi memang sering kali menjadi obat yang pahit bagi mereka yang suka bermain di area abu-abu atau hobi memancing di air keruh. Namun bagi kita yang ingin tidur lebih nyenyak tanpa takut bangun pagi dan menemukan saham kesayangan sudah jatuh tanpa pembeli, daftar konsentrasi ini adalah peta baru untuk menghindari ranjau. Meskipun bursa sudah memberikan peringatan, pada akhirnya karakter pasar tidak akan berubah dalam semalam hanya karena satu peraturan baru.
Orang akan tetap mengejar kilau harga yang melonjak meski tahu itu mungkin hanya ilusi dari sedikit tangan yang berkuasa. Barangkali keterbukaan ini bukan bertujuan untuk menghentikan spekulasi sama sekali, karena spekulasi adalah bumbu yang membuat pasar tetap hidup. Tujuan utamanya mungkin hanya memastikan bahwa saat kita memutuskan untuk masuk ke dalam sebuah pesta, kita setidaknya tahu siapa yang memegang kunci pintu keluar dan apakah mereka punya niat untuk menguncinya dari luar saat kita masih di dalam. Transparansi tidak menjanjikan keuntungan, dia hanya menjanjikan pandangan yang lebih jernih untuk mengukur risiko yang sanggup kita pikul sendiri.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
$BREN $TPIA $AMMN