imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Apakah $IHSG ke 10.000 itu “mimpi di siang bolong”?

Basis ritel memang makin besar. Di akhir 2025 jumlah investor pasar modal sudah 20,35 juta SID dan investor yang punya saham sekitar 8,60 juta. Masuk akhir Jan 2026, SID naik ke 21,04 juta dan investor saham mendekati 8,98 juta. Artinya, “mesin domestik” makin tebal.

Menariknya, 2025 jadi bukti bahwa IHSG bisa naik meski asing keluar: IHSG naik ~22,13% dan tutup tahun di 8.646,94, sementara asing net sell ~Rp17,34T. Jadi, saat outflow asing, pasar masih bisa ditopang demand lokal.

Tapi apakah pola itu otomatis terulang di 2026–2027? Belum tentu. Awal 2026 sendiri sudah menunjukkan dua wajah: IHSG sempat bikin ATH 9.134,70 (20 Jan 2026), lalu tak lama terjadi gejolak sampai IHSG sempat jatuh sekitar -8% ke 7.654 (29 Jan 2026) dan memicu trading halt. Ini sinyal bahwa ketika kepercayaan terganggu (struktur pasar, MSCI, geopolitik, risk-off global), likuiditas bisa berubah cepat—ritel juga bisa ikut “ngerem”.

Tambahan lagi, banyak ritel masih “nyangkut” di saham-saham konglo seperti $BUMI, $PTRO, dan sejenisnya. Kalau likuiditas ritel terkunci di posisi nyangkut (dan cash buffer tipis), daya dorong untuk mengangkat market bisa berkurang saat butuh tenaga baru.

Makro juga jadi kunci: BI rate 4,75% (Jan 2026), inflasi 3,55% YoY (Jan 2026), dan ekonomi 2025 tumbuh 5,11% memberi fondasi, tapi arah market tetap sensitif ke kurs, kebijakan global, dan geopolitik.

Menuju 10.000 memang bukan mustahil, tapi realistisnya IHSG bisa lebih lama konsolidasi dulu. Bahkan range awal 2026 yang terjadi sudah lebar (sekitar 7,6k–9,1k), sehingga zona 7.000–8.000 bisa saja jadi area yang sering diuji sebelum ada katalis baru yang benar-benar kuat. CMIIW.

Read more...
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy