ATURAN 1 LOT = 100 SAHAM:
Kebijakan KUNO yang Mendiskriminasi INVESTOR RITEL

TOLONG ARTIKEL INI DI LIKE DAN REPOST DISEMUA MEDIA SOCIAL, STOCKBIT SEBANYAK-BANYAKNYA AGAR SAMPAI KE REGULATOR… SAYA PERCAYA Kekuatan Netizen Ritel Mampu Mendorong Regulator untuk Segera Bertindak.

MUMPUNG SAAT INI REGULATOR ADALAH ORANG-ORANG BARU DAN SAYA YAKIN TUJUANNYA BERNIAT MEMBENAHI BEI

SEBENARNYA DARI 2 TAHUN YANG LALU SAYA SUDAH MENULIS KRITIK INI, TAPI YA BEGITULAH… MEREKA, REGULATOR MASIH SEBATAS WACANA

Pasar modal seharusnya menjadi ruang inklusif, tempat siapa pun, tanpa memandang besar kecilnya modal, bisa ikut memiliki masa depan perusahaan-perusahaan terbaik di negeri ini. Namun realitas di Indonesia justru berkata lain. Aturan pembelian saham yang mewajibkan 1 lot = 100 lembar saham menjadi TEMBOK TINGGI yang menghalangi investor ritel kecil, terutama mereka yang baru belajar menabung saham secara disiplin.

Di tengah gencarnya literasi keuangan, kampanye “AYO INVESTASI”, dan semangat financial inclusion, regulator justru mempertahankan kebijakan yang secara nyata membebani investor pemula.

DCA dan Saham Blue Chip:
Mimpi yang Dipersulit Regulasi

Beberapa Bulan ini, ribuan bahkan puluhan ribu investor ritel baru bermunculan. Mereka tidak datang untuk berspekulasi. Mereka ingin melakukan Dollar Cost Averaging (DCA), menabung saham-saham fundamental kuat, khususnya blue chip dan perusahaan besar, STABIL, dan berkontribusi nyata pada perekonomian nasional.

Namun mari kita jujur.

Ketika harga saham-saham berkualitas sudah berada di atas Rp2.000, Rp5.000, bahkan Rp10.000 per lembar atau diatas Rp10.000 maka aturan 1 lot = 100 saham berarti:
- Rp200.000 per transaksi (harga Rp2.000)
- Rp500.000 per transaksi (harga Rp5.000)
- Rp1.000.000 per transaksi (harga Rp10.000)

Bagi investor pemula dengan gaji UMR, mahasiswa, atau masyarakat yang ingin belajar menabung saham dari Rp50.000-Rp100.000 per bulan, angka ini tidak realistis.

Akibatnya? Mereka terpaksa mengalihkan dana ke saham-saham murah, Atau Investasi ABU-ABU seperti Crypto, Scam dll.. yang sering kali fundamentalnya lemah, tidak likuid, atau bahkan gorengan.

Ketika Regulasi Mendorong Risiko, Bukan Edukasi

Ironisnya, aturan ini justru:
- Mendorong investor pemula ke saham berisiko tinggi
- Menjauhkan mereka dari saham berkualitas
- Meningkatkan potensi kerugian dini

Dan ketika investor pemula rugi karena saham murah yang tidak sehat, apa yang terjadi?

Mereka kapok.
Mereka takut.
Mereka berhenti berinvestasi.
Mereka lari ke Crypto, Judol dll.

Bukan karena pasar modal itu buruk, tetapi karena regulasi sejak awal salah arah.

Diskriminasi Terselubung terhadap Investor Kecil

Di banyak negara dengan pasar modal maju, pembelian saham per lembar (fractional shares atau single share) sudah menjadi standar. Investor pemula bisa membeli:
- 1 lembar Apple
- 0,5 saham ETF
- sebagian besar saham perusahaan besar

Tujuannya jelas: mempermudah partisipasi, memperluas basis investor, dan membangun kebiasaan investasi jangka panjang.

Indonesia merupakan negara dengan potensi pertumbuhan ekonomi tinggi, bonus demografi besar, dan kelas menengah yang berkembang malah justru masih mempertahankan SISTEM KUNO yang tidak ramah investor kecil.

Ini bukan sekadar soal teknis bursa.
Ini adalah bentuk DISKRIMINASI struktural terhadap investor ritel kecil.

Siapa yang Diuntungkan dari Aturan Ini?
Pertanyaannya sederhana:
- Apakah pasar modal ingin diisi oleh investor jangka panjang ?
A. Atau hanya ramah bagi pemilik modal besar dan trader aktif ?

Jika regulator benar-benar ingin memperkuat investor ritel dan stabilitas pasar, maka membuka opsi pembelian saham per lembar adalah langkah logis dan progresif.

Saatnya Regulator Berani Berubah

Sudah waktunya Otoritas Jasa Keuangan dan Bursa Efek Indonesia berhenti berlindung di balik alasan teknis dan mulai berpihak pada masa depan pasar modal Indonesia.

Membuka pembelian saham per lembar bukan ancaman.
Justru ini adalah:
- Investasi pada investor masa depan
- Fondasi pasar modal yang lebih sehat
- Bukti bahwa regulator benar-benar mendukung inklusi keuangan

Jika tujuan negara adalah menciptakan masyarakat investor yang cerdas, sabar, dan berorientasi jangka panjang, maka aturan 1 lot = 100 saham SUDAH TIDAK RELEVAN lagi.

Pasar modal tidak boleh menjadi klub eksklusif. Ia harus menjadi rumah bersama.

Dan perubahan itu harus dimulai sekarang.

(HAD1030)

Sekedar Tag:
$BBCA $BUMI $ADRO

Read more...
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy