imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Saya agak kaget saat membaca berita sambil menyeruput kopi yang sudah mendingin. Bukan soal politik yang memang biasanya selalu gaduh di negeri ini, tapi soal bagaimana pemerintah tiba tiba saja memutuskan untuk menarik rem tangan sekeras ini di sektor tambang kita. Bayangkan saja, kita ini sedang bicara soal batu bara yang tadinya diproduksi gila gilaan sampai hampir 800 juta ton tahun lalu, tapi sekarang dari kementerian bilang kalau tahun ini angkanya mau ditekan sampai di atas 600 juta ton saja. Entah apa yang sebenarnya ada di pikiran mereka, tapi rasanya seperti sedang asyik asyiknya makan di sebuah pesta hajatan besar lalu tiba tiba piring kita diambil paksa oleh tuan rumah sebelum kita benar benar kenyang. Ada satu pertanyaan besar yang terus mengganjal di kepala saya, yaitu apakah kita ini sedang benar benar melakukan strategi jangka panjang yang cerdas atau sebenarnya cuma sedang panik karena melihat harga pasar yang tidak kunjung sesuai harapan.

Kalau melihat urusan nikel, ceritanya malah terasa makin aneh dan sedikit dramatis bagi saya. Pemerintah secara resmi memangkas kuota produksi nikel nasional dalam RKAB tahun ini menjadi hanya sekitar 260 juta ton saja. Padahal kalau diingat ingat lagi, tahun lalu kita masih sangat percaya diri dengan angka 379 juta ton. Penurunannya tidak main main, sekitar 30% hilang begitu saja dari rencana awal. Katanya sih langkah ini diambil buat mendongkrak harga nikel dunia yang sempat jalan di tempat sepanjang tahun kemarin. Kita seolah sedang mencoba memainkan kartu kelangkaan untuk memaksa pasar global membayar lebih mahal pada kita. Tapi ya itu tadi, saya jadi merenung sendiri, apakah harga akan benar benar naik signifikan kalau kita membatasi diri seperti ini, atau jangan jangan negara lain malah akan tersenyum lebar melihat kita mengerem produksi sementara mereka diam diam mengambil celah pasar yang kita tinggalkan.

Lalu ada cerita soal Weda Bay Nickel yang menurut laporan Bloomberg kuotanya anjlok drastis sekali, dari 42 juta ton menjadi cuma 12 juta ton saja. Gila sih itu menurut saya. Saya membayangkan bagaimana perasaan para manajemen di sana atau mungkin investor yang sudah terlanjur menaruh uang di $ANTM misalnya, pasti sedang pusing tujuh keliling melihat perubahan kebijakan yang secepat kilat begini. Pemerintah bilang ini disesuaikan dengan kapasitas smelter, tapi kalau pemotongannya sampai sedalam itu, rasanya ada sesuatu yang lebih dari sekadar urusan teknis kapasitas. Belum lagi soal batu bara yang porsi DMO nya dinaikkan jadi 30% di awal tahun ini. Itu 30% lho, bukan angka yang kecil buat perusahaan yang harus setor ke PLN dengan harga yang sudah dipatok sedemikian rupa. Memang sih, perusahaan besar atau BUMN pemegang izin lama tidak kena pangkas kuota produksi, tapi ya tetap saja margin mereka akan tergerus karena porsi jualan ke pasar domestik jadi lebih besar dibandingkan jualan keluar yang harganya lebih menarik.

Kadang saya merasa kalau jadi investor ritel di Konoha itu memang butuh jantung yang sangat kuat. Kita nggak pernah benar benar tahu besok pagi menteri bakal bicara apa lagi di media yang bisa mengubah arah angin dalam sekejap. Ini soal ketidakpastian kebijakan yang menurut saya jauh lebih menakutkan daripada sekadar penurunan harga komoditas itu sendiri di pasar global. Kita sekarang sedang dipaksa ikut program diet ketat tanpa ada persiapan yang benar benar matang. Saya jadi bertanya tanya sendiri, apakah strategi menahan produksi ini bakal jadi kemenangan besar buat kedaulatan sumber daya kita atau justru malah jadi bumerang yang melukai laporan keuangan perusahaan tambang kita sendiri dalam jangka pendek. Entahlah, rasanya tidak pernah ada kata tenang kalau kita bicara soal urusan perut bumi di negeri ini, karena di balik angka angka laba yang sering kita puja, ada tangan tangan penguasa yang bisa mengubah segalanya hanya dengan satu tanda tangan di atas kertas evaluasi kuota yang misterius itu.

Ini bukan rekomendasi jual dan beli. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

$PTBA $NCKL

Read more...
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy