imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

AMOR: Dividen Dermawan, Harga Saham Sekarat

AMOR mungkin layak masuk museum rekor: dividen dibagikan lebih dari 100% setiap tahun, tapi harga sahamnya terus turun tanpa rasa bersalah. EPS ada, laba ada, dividen deras—namun grafik harga 5 tahun terakhir justru terlihat seperti papan seluncur ke bawah. Seolah pasar berkata: “terima kasih dividennya, tapi masa depanmu kami skip.”

Ironinya, dividen jumbo ini bukan tanda bisnis bertumbuh, melainkan lebih mirip strategi menghabiskan kas karena tidak tahu mau dipakai apa lagi. Tidak terlihat ekspansi agresif, tidak ada cerita pertumbuhan, tidak ada ambisi membangun bisnis ke level berikutnya. Yang ada hanyalah rutinitas tahunan: laba → dividen → harga turun lagi.

Pertanyaannya pun wajar muncul: apakah ini tanda AMOR sedang bersiap pamit secara elegan dari pasar Indonesia? Membagi dividen besar sambil membiarkan valuasi menyusut pelan-pelan sering kali bukan strategi menciptakan nilai, melainkan strategi mengakhiri cerita tanpa ribut. Investor dapat dividen, pengendali tetap nyaman, dan pasar dibiarkan menafsirkan sendiri akhir ceritanya.

Kesimpulannya, $AMOR bukan saham gagal, tapi juga bukan saham bertumbuh. Ia lebih cocok disebut “saham pensiun”: rajin memberi uang saku, tapi sudah berhenti bermimpi. Dan seperti pensiunan pada umumnya, pasar jarang memberi valuasi tinggi—meski jasanya di masa lalu tidak bisa dipungkiri.

$BBCA $BBRI

Read more...
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy