$FUJI Berikut adalah analisis tajam dan mendalam terhadap FUJI berdasarkan data laporan keuangan (Full Year 2025) yang Tersedia di keystats saat ini.
Eksplorasi Struktur Finansial & Operasional
1. Top-Line & Bottom-Line Analysis
Revenue Growth (YoY 5.30%): Pertumbuhan pendapatan sebesar Rp15 Miliar ini negligible (tidak berarti). Secara kuartalan (Q4 Revenue Drop), terjadi deselerasi aktivitas pembiayaan yang masif. Penurunan dari Rp7 M ke Rp4 M dalam satu kuartal mengindikasikan hilangnya momentum penyaluran kredit atau repayment yang macet.
Net Income Erosion (-24.32%): Terjadi negative operating leverage. Saat pendapatan naik tipis, laba bersih justru tergerus ke Rp8 M. Ini mengonfirmasi adanya lonjakan OPEX (Operating Expenses) atau impairment (cadangan kerugian penurunan nilai) yang menggerogoti profitabilitas.
EPS (Earnings Per Share) 6.42: Terjadi dilusi nilai laba bagi pemegang saham secara organik. Penurunan dari 8.49 ke 6.42 tanpa adanya aksi korporasi penambahan saham beredar menunjukkan kemunduran performa fundamental yang nyata.
2. Efisiensi Manajemen Modal
Capital Allocation Inefficiency: Kas sebesar Rp105 Miliar (lebih dari 50% Total Aset) adalah "Dead Capital". Di industri multifinance, kas seharusnya di-leverage menjadi Piutang Pembiayaan. Membiarkan kas menganggur menunjukkan manajemen gagal melakukan ekspansi pasar.
ROE (Return on Equity) 4.61%: Secara teknis, ini adalah underperformance yang parah. Dengan Cost of Equity di Indonesia rata-rata 10-12%, ROE 4.6% berarti perusahaan ini sedang "menghancurkan" nilai pemegang saham (destroying shareholder value). Menaruh uang di instrumen berisiko rendah seperti Obligasi Negara bahkan memberikan yield lebih tinggi (±6-7%).
Debt-to-Equity Ratio (DER) - Ultra Low: Liabilitas hanya Rp8 M vs Ekuitas Rp181 M. Meskipun profil risiko rendah, secara strategis ini menunjukkan perusahaan tidak menggunakan leverage untuk memacu pertumbuhan.
II. Metrik Valuasi Pasar
P/E Ratio (TTM) 75.03x: Secara komparatif, PE 75x biasanya diberikan untuk perusahaan High-Growth Tech. Untuk perusahaan pembiayaan dengan pertumbuhan laba negatif, valuasi ini adalah "Irrational Exuberance".
PBV Ratio 3.46x: Dengan ROE hanya 4.6%, membayar 3.4 kali nilai buku adalah anomali finansial. Secara teori Gordon Growth Model, perusahaan dengan ROE serendah ini seharusnya diperdagangkan di PBV di bawah 0.5x.
III. Kalkulasi Nilai Intrinsik (Fair Value)
Berikut adalah kalkulasi harga wajar:
1. Metode Benjamin Graham (Revised Formula)
Metode ini menggunakan bobot multiplier standar Graham untuk perusahaan dengan pertumbuhan rendah.
Formula: EPS x (8.5 + 2 x Pertumbuhan) x 4.4 / Yield Obligasi
Proses: 6.42 x (8.5 + 10) x 4.4 / 7
Proses: 6.42 x 18.5 x 0.628
Harga Wajar Graham: Rp74,5
2. Metode Peter Lynch (Fair PE Strategy)
Lynch mematok harga wajar berdasarkan Growth Rate (PEG Ratio = 1).
Formula: EPS x (Estimasi Growth x 100)
Proses: 6.42 x 5
Harga Wajar Peter Lynch: Rp32,1
3. Metode PER (Market Relative Valuation)
Menggunakan standar Conservative PE Multiplier (10x) untuk sektor keuangan berkapitalisasi kecil.
Formula: EPS x Standar PE Industri
Proses: 6.42 x 10
Harga Wajar PER: Rp64,2
IV. Kesimpulan
Secara fundamental, harga pasar Rp482 sudah terputus dari realitas kinerja keuangan (detached from reality). Selisih antara harga pasar dan harga wajar (rata-rata Rp57) menunjukkan Margin of Safety (MoS) Negatif.
Saham ini masuk kategori speculative play. Pergerakan harga kemungkinan besar didorong oleh likuiditas rendah (low free float)
Dan saham beredar yang bisa diperjualbelikan kurang lebih hanya sekitar 2jt Lot yang memudahkan harga dimanipulasi, bukan karena fundamental yang solid.
Disclaimer : Analisis ini merupakan opini/ pendapat pribadi berdasarkan data keystats yang tersedia saat ini, Bukan Rekomendasi Ajakan Jual/Beli.
