Mengapa Kita Begitu Mencintai Saham yang Kita Miliki?

Salah satu jebakan psikologis paling halus dalam investasi adalah kecenderungan kita mencintai saham hanya karena kita sudah memilikinya. Begitu transaksi selesai dan saham masuk ke portofolio, persepsi kita berubah. Saham yang sebelumnya dinilai secara dingin dan rasional kini terasa lebih berharga, lebih menjanjikan, dan lebih layak dipertahankan. Itulah yang dimaksud dengan endowment effect.

Secara sederhana, otak kita memberi nilai lebih tinggi pada sesuatu hanya karena itu “milik kita”. Dalam konteks saham, kepemilikan menciptakan ikatan emosional. Kita mulai merasa saham tersebut adalah perpanjangan dari identitas dan kecerdasan kita sebagai investor. Akibatnya, penilaian objektif perlahan memudar. Informasi positif terasa semakin meyakinkan, sementara sinyal negatif cenderung kita abaikan atau kita cari pembenarannya.

Di sinilah masalah mulai muncul. Ketika laporan keuangan memburuk, manajemen mengambil keputusan yang meragukan, atau industri memasuki fase sulit, kita tidak lagi bertanya apakah saham ini masih layak dimiliki. Sebaliknya, kita sibuk mencari alasan mengapa semua ini hanya sementara. Otak kita bekerja keras untuk membela keputusan masa lalu, karena mengakui kesalahan terasa menyakitkan. Menjual saham berarti mengakui bahwa keputusan awal mungkin tidak sebaik yang kita kira.

Endowment effect sering berjalan beriringan dengan confirmation bias. Kita cenderung membaca analisis yang sejalan dengan pandangan kita dan menghindari sudut pandang yang berlawanan. Bahkan ketika harga saham terus turun, fokus kita bergeser dari kualitas bisnis ke harapan bahwa harga akan kembali ke level beli. Padahal, harga beli tidak punya makna apa pun bagi masa depan perusahaan.

Cara mengatasinya bukan dengan menghilangkan emosi sepenuhnya, karena itu hampir mustahil. Yang bisa kita lakukan adalah membangun sistem yang membantu kita berpikir lebih jernih. Beberapa pendekatan berikut bisa membantu:

1. Pisahkan keputusan beli dan keputusan tahan. Setiap kali meninjau saham, tanyakan apakah kita akan membeli saham ini hari ini jika belum memilikinya.

2. Tetapkan kriteria rasional sejak awal. Misalnya, perubahan fundamental apa yang akan membuat kita menjual, terlepas dari untung atau rugi?

3. Biasakan menulis tesis investasi. Dengan begitu, kita bisa membandingkan kondisi awal dengan realitas terbaru tanpa distorsi emosi.

4. Pelajari pandangan yang berlawanan. Secara sadar cari argumen mengapa saham ini bisa menjadi investasi yang buruk.

Ingatlah, saham bukanlah pasangan hidup. Saham hanyalah alat untuk mencapai tujuan finansial. Mencintai proses belajar dan disiplin jauh lebih penting daripada mencintai saham tertentu. Bila kita memandang portofolio dengan kacamata ini, keputusan investasi akan terasa lebih ringan dan lebih rasional.

So, tinjau kembali portofolio Anda. Adakah saham nyangkut yang sulit sekali Anda lepaskan? Apakah itu karena fundamentalnya masih kuat atau semata karena Anda sudah terlalu lama nyangkut?

@Blinvestor

Follow my Telegram: https://cutt.ly/Btd6w8CM

Random tags: $ADHI $WIKA $PTPP

Read more...
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy