Obligasi Emiten Apa Saja Yang Pernah Gagal Bayar ? Urutkan dari Tahun 1997 - 2026?
(Maaf ya ini bukan menghina perusahaan orang lain, saya hanya ingin mengecek seberapa tangguh mereka bertahan ketika jatuh mereka sanggup bertahan & bangun lagi) Ini Hanya Cocok Untuk Investor jangka panjang selain mempertimbangkan Faktor2 lain.

Beberapa obligasi perusahaan tercatat di IHSG (Bursa Efek Indonesia) yang pernah mengalami gagal bayar (default) atau penundaan pembayaran bunga/pokok (restrukturisasi) historis meliputi emiten properti dan investasi.

Contoh utama yang pernah tercatat antara lain obligasi PT Duta Anggada Realty Tbk (sekarang PT Duta Putra Land), PT Bakrie & Brothers Tbk, PT Berlian Laju Tanker Tbk (BSML), dan PT Cipaganti Citra Graha Tbk. (Ralat ada di halaman komentar PT Duta Anggada Realty Tbk Emiten yang berbeda dengan PT Duta Putra Land)

PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA): Mengalami gagal bayar obligasi dalam jumlah besar akibat krisis industri pelayaran, memaksa restrukturisasi utang yang sangat panjang.

Kelompok Bakrie (misal: BTEL, BNBR): Beberapa anak usaha kelompok ini pernah tercatat kesulitan memenuhi kewajiban obligasi.

Emiten Properti/Investasi: Sektor ini kerap berisiko tinggi saat ekonomi melemah, seperti kasus historis gagal bayar sukuk/obligasi yang dialami emiten-emiten sektor tersebut.


Gagal bayar obligasi korporasi umumnya disebabkan oleh penurunan kinerja bisnis yang drastis, masalah likuiditas (ketidakmampuan arus kas), atau leverage yang terlalu tinggi. Investor disarankan memantau peringkat kredit (rating) dari lembaga pemeringkat seperti Pefindo untuk meminimalisir risiko ini.


Sejarah gagal bayar (default) obligasi korporasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) biasanya memuncak saat terjadi guncangan ekonomi besar. Berikut adalah rincian historis dari 1997 hingga proyeksi 2026:

1. Era Krisis Moneter (1997 – 2004)
Krisis ini merupakan periode terburuk dengan lonjakan utang luar negeri yang tidak terukur dan depresiasi Rupiah yang ekstrem.

Penyebab Utama: Utang dalam mata uang asing tanpa lindung nilai (hedging) membuat beban emiten membengkak drastis saat Rupiah anjlok.
Emiten Terdampak: Hampir seluruh sektor mengalami kesulitan.

Perusahaan besar seperti PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL), PT Polysindo Eka Perkasa, dan PT Asia Pulp & Paper (APP) melalui anak usahanya (seperti Indah Kiat dan Tjiwi Kimia) masuk dalam sejarah restrukturisasi utang terbesar di Asia.

2. Pasca Krisis Keuangan Global (2008 – 2015)
Meski Indonesia relatif bertahan dari krisis 2008, beberapa emiten dengan leverage tinggi mulai bertumbangan di tahun-tahun berikutnya.

PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL): Gagal membayar bunga dan pokok obligasi senilai US$ 380 juta pada tahun 2014, yang berdampak luas bagi kepercayaan investor pada sektor telekomunikasi.

PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA): Mengalami gagal bayar masif di tahun 2012 akibat penurunan harga komoditas global dan over-ekspansi armada, yang memicu restrukturisasi utang menahun.

PT Cipaganti Citra Graha Tbk: Kasus gagal bayar yang bermula dari koperasi namun menjalar ke entitas terkait, menandai krisis kepercayaan pada sektor jasa transportasi.

3. Era Pandemi & Sektor Komoditas (2020 – 2024)
Pandemi COVID-19 menekan arus kas perusahaan, terutama di sektor pariwisata, retail, dan properti.

PT Modernland Realty Tbk (MDLN): Sempat mengalami gagal bayar pada obligasi dolar di tahun 2020 sebelum akhirnya berhasil melakukan restrukturisasi.

PT Kapuas Prima Coal Tbk (ZINC): Pefindo menurunkan peringkat menjadi default pada awal 2024 setelah perusahaan gagal memenuhi kewajiban pokok obligasi tepat waktu.

PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT): Mengalami penundaan pembayaran bunga obligasi berkali-kali sejak 2023 hingga 2024 akibat beban utang infrastruktur yang sangat besar, memicu suspensi perdagangan saham.

4. Outlook 2025 – 2026
Memasuki tahun 2026, pasar obligasi masih dipantau ketat terkait risiko suku bunga tinggi.
Tren Gagal Bayar: Tingkat gagal bayar institusi non-keuangan cenderung fluktuatif di kisaran 2,5% tergantung pada stabilitas ekonomi makro.

Proyeksi: Emiten di sektor properti dan konstruksi yang masih dalam proses penyehatan neraca tetap menjadi perhatian utama. Sebaliknya, penerbitan obligasi baru tetap padat seiring IHSG yang terus mencetak rekor baru di awal 2026.

Saran Strategis: Anda dapat memeriksa peringkat terbaru dari Pefindo (Pemeringkat Efek Indonesia) untuk memastikan emiten yang Anda pegang tidak masuk dalam kategori pengawasan khusus atau memiliki prospek negatif.


Apakah Anda sedang memantau emiten spesifik di sektor konstruksi atau properti yang ingin dicek status gagal bayarnya?


Berdasarkan data terkini hingga Februari 2026, sektor konstruksi (BUMN Karya) masih menjadi fokus utama terkait kasus gagal bayar atau penundaan kewajiban obligasi.

Berikut adalah rincian emiten spesifik yang mengalami masalah tersebut:

1. Sektor Konstruksi (BUMN Karya)
Ini adalah sektor dengan kasus gagal bayar paling signifikan yang berlanjut hingga tahun 2025 dan 2026.

PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT)
Status: Sejak Mei 2023, perdagangan saham WSKT telah disuspensi oleh BEI akibat gagal membayar bunga dan pokok obligasi yang jatuh tempo.

Kondisi 2025-2026: Pefindo memberikan peringkat idSD (Selective Default) karena perusahaan belum menyelesaikan pembayaran utang obligasi tertentu. Per September 2025, Waskita mencatatkan rugi bersih sebesar Rp3,17 triliun, dan restrukturisasi masih terus diupayakan untuk menghindari delisting.

PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA)
Status: Mengalami gagal bayar surat utang pada awal 2025.

Kondisi 2025-2026: Peringkat obligasi dan sukuk WIKA diturunkan menjadi Default oleh Pefindo pada Desember 2025 setelah menunda pembayaran bunga dan bagi hasil pada 6 seri surat utang.

Hingga Februari 2026, WIKA masih dalam proses restrukturisasi utang yang mencapai sekitar Rp29 triliun.

2. Sektor Properti & Lainnya
PT Kapuas Prima Coal Tbk (ZINC)
Status: Pefindo menurunkan peringkat menjadi default setelah perusahaan gagal memenuhi kewajiban pokok obligasi tepat waktu pada awal 2024.

Perum Perumnas
Status: Teridentifikasi menghadapi ancaman gagal bayar dan masalah keuangan yang cukup serius pada akhir 2025.

PT Modernland Realty Tbk (MDLN)
History: Pernah mengalami gagal bayar pada obligasi dolar di tahun 2020 sebelum akhirnya berhasil melakukan restrukturisasi.

Rangkuman Risiko Berdasarkan Peringkat (Outlook 2026)

Hingga Februari 2026, investor disarankan memperhatikan label khusus pada bursa atau peringkat dari Pefindo untuk emiten berikut:

Nama Emiten Kode Saham Status Terkini (Februari 2026)
Waskita Karya WSKT Suspensi Saham, Peringkat Selective Default
Wijaya Karya WIKA Proses Restrukturisasi Utang Rp29 Triliun
Kapuas Prima Coal ZINC Pernah Default, Penurunan Peringkat

Catatan Tambahan: Meskipun ada kasus gagal bayar di sektor korporasi, Obligasi Pemerintah (SBN) tetap dianggap sebagai instrumen dengan risiko gagal bayar yang nyaris nol karena dijamin 100% oleh negara.

*Lampiran ScreenCapture di halaman Komentar
$IHSG $WSKT $ZINC

Read more...
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy