Saham Menara yang Nyangkut di Saham Buyback Sendiri
Banyak perusahaan menara yang saat ini nyangkut dari sisi buyback dan MESOP. Bahkan mereka sendiri pun nyangkut di saham sendiri, seperti investor ritel selot-selot macam kita. Masalahnya bukan cuma harga turun, tetapi narasi korporasinya jadi terlihat tidak sinkron. Saat manajemen bilang undervalued lalu buyback di harga tinggi, tetapi harga pasar tetap lebih rendah, pasar membaca satu hal, keyakinan manajemen belum cukup kuat untuk mengalahkan sentimen. Saat MESOP dipasang di harga yang tidak realistis, insentif karyawan mandek, sementara investor merasa ada desain kompensasi yang tidak nyambung dengan realitas market. External Comunity Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community menggunakan kode: A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Secara substansi, buyback itu hanyalah sinyal dan alat, bukan jaminan. Sinyal karena manajemen menunjukkan keberanian memakai kas untuk membeli saham sendiri. Alat karena bisa menyerap tekanan jual, mengurangi jumlah saham beredar, dan memberi ruang untuk kebutuhan ekuitas seperti program kompensasi. Tetapi makna nyangkut muncul saat harga rata-rata beli atau plafon buyback lebih tinggi dari harga pasar sekarang, sehingga treasuri terlihat underwater dan pasar bertanya, apakah manajemen membaca siklus dengan tepat, atau sekadar memaksakan optimisme. Di sisi lain, Management and Employee Stock Option Program (MESOP) itu pedang bermata dua, kalau strike di atas harga pasar, opsi mati suri dan tidak ada dilusi, tapi juga tidak ada dorongan kinerja, kalau strike jauh di bawah harga pasar, opsi hidup dan memotivasi, tetapi investor bisa merasa ada transfer nilai melalui dilusi.
Kasus $TOWR paling jelas karena ada tiga lapis harga MESOP dan satu lapis buyback yang seolah berbicara dengan nada berbeda. Harga pasar saat ini Rp525, sementara plafon buyback mengimplikasikan harga maksimal sekitar Rp675, sekitar 28,57% di atas harga pasar. MESOP I asli di Rp1.000, sehingga harga pasar masih 47,50% di bawah strike, atau strike-nya 90,48% lebih tinggi dari harga pasar, ini jelas out of the money dan tidak menggigit. Sebaliknya MESOP II di Rp392 dan perpanjangan MESOP I di Rp285 itu justru in the money, masing-masing strike sekitar 25,33% dan 45,71% di bawah harga pasar. Jadi jelas, TOWR sedang membenahi desain insentif agar kembali relevan, sekaligus mencoba membangun lantai harga melalui buyback, tetapi konsekuensinya treasuri bisa cepat terpakai untuk eksekusi MESOP sehingga efek buyback ke jumlah saham beredar terasa lebih tipis.
$MTEL terlihat paling klasik dan justru paling nyangkut secara psikologis, karena semua instrumen utamanya berada di atas harga pasar. Harga pasar MTEL saat ini Rp540, sementara harga rata-rata treasuri dari program buyback sekitar Rp698, sekitar 29,26% di atas harga pasar. Harga MESOP tahap I Rp720, tahap II Rp636, tahap III Rp582, bahkan strike terendah Rp582 masih 7,78% di atas harga pasar, jadi masih out of the money tipis. Esensinya, MTEL punya stok treasuri besar yang dibeli mahal di siklus sebelumnya, dan sekarang pasar belum memberi ruang untuk pulang ke area itu. Kelebihannya, karena opsi masih out of the money, risiko dilusi dari MESOP saat ini relatif rendah, kelemahannya, insentif berbasis saham jadi kurang menggigit sampai harga pulih, dan posisi treasuri tetap menjadi pengingat bahwa stabilisasi harga pernah dilakukan di level yang lebih tinggi. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
$TBIG adalah contoh buyback yang agresif, lalu ditutup dengan langkah resell yang membuat cerita modalnya jadi unik. Harga pasar saat ini Rp1.710, sementara rata-rata buyback Mei 2024 sampai Juni 2025 sekitar Rp1.935, itu 13,16% di atas harga pasar. Rata-rata buyback 9M 2025 sekitar Rp2.097, itu 22,63% di atas harga pasar. Lalu ada resell treasuri ke pengendali di Rp2.138, itu 25,03% di atas harga pasar saat ini. Interpretasinya, TBIG menilai nilai wajarnya lebih tinggi dari harga sekarang, tetapi mereka juga pragmatis, treasuri bisa dijadikan instrumen manajemen permodalan, bukan sekadar parkir saham. Kelebihan TBIG ada pada fleksibilitas, mereka bisa menyerap saham saat harga rendah relatif terhadap keyakinan internal, lalu mengelola kembali struktur modal melalui penjualan, kelemahannya, investor bisa mempertanyakan apakah buyback itu murni untuk semua pemegang saham, atau juga bagian dari rekayasa arsitektur kepemilikan dan agio.
Kalau ditarik ke trend dividen, terlihat dua dunia yang berbeda antara emiten yang matang dan emiten yang sedang mengatur napas kas. Dividend Per Share (DPS) 2025 untuk BALI Rp50 naik 150,00%, GHON Rp180 naik 9,09%, MTEL Rp25,33 naik 40,64%. Di sisi lain TBIG Rp48,73 turun 11,72% dan TOWR Rp15,90 turun 34,02%, sementara CENT tetap nol. Substansinya, buyback dan MESOP biasanya muncul kuat saat manajemen ingin mengatur ekuitas, tetapi dividen menunjukkan preferensi distribusi kas. MTEL dan GHON terlihat condong ke pola pengembalian yang konsisten, sementara TOWR lebih memilih menahan dan mengalihkan sumber daya, entah untuk akuisisi, ekspansi, atau menjaga rasio utang, sehingga dividen turun. BALI jadi anomali karena tidak main buyback dan MESOP, tetapi justru berani membayar lebih besar, artinya mereka percaya pada arus kas dan ingin menjaga loyalitas pemegang saham.
Skala aset memperjelas siapa gajah dan siapa pemain spesialis, sekaligus memperlihatkan potensi salah-baca market. Aset per 30 September 2025, TOWR Rp78,29 T, MTEL Rp58,05 T, TBIG Rp44,72 T, CENT Rp27,37 T, SUPR Rp10,04 T, BALI Rp6,33 T, IBST Rp4,24 T, GHON Rp1,39 T, GOLD Rp0,46 T. Dari total aset gabungan sekitar Rp230,88 T, porsi TOWR sekitar 33,91%, MTEL 25,14%, TBIG 19,37%, jadi tiga raksasa ini menguasai sekitar 78,42% skala aset. Growth asetnya juga bicara, BALI tumbuh 7,50% paling tinggi, TBIG 2,85%, SUPR 2,42%, GOLD 4,51%, sementara MTEL -0,16%, CENT -1,92%, IBST -4,09%, GHON -2,91%, TOWR hanya 0,60%. Tafsirnya, yang besar tidak selalu tumbuh cepat, dan yang kecil bisa tumbuh agresif, tetapi pasar menilai bukan cuma growth, melainkan kualitas kontrak, pembiayaan, serta kejernihan strategi ekuitas seperti buyback dan MESOP. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Fenomena nyangkut buyback dan MESOP itu pada dasarnya konflik antara tiga harga, harga pasar, harga keyakinan manajemen, dan harga insentif internal. TOWR terlihat paling adaptif karena berani menurunkan strike MESOP sampai masuk akal, tetapi buyback mereka harus dilihat apakah benar efektif menahan tekanan harga atau hanya jadi pembelian simbolik. MTEL terlihat paling defensif, treasuri besar di harga lebih tinggi memberi beban persepsi, dan MESOP yang masih out of the money membuat pemulihan motivasi berbasis saham menunggu harga bergerak. TBIG terlihat paling taktis dalam mengelola treasuri, tetapi narasinya menuntut kejelasan bahwa manuver itu membangun nilai untuk semua pemegang saham, bukan hanya menyusun ulang modal. Potensi jangka menengah akan paling besar jika ada kombinasi pemulihan sentimen sektor, stabilisasi suku bunga, dan bukti bahwa eksekusi korporasi tidak sekadar ramai di atas kertas.
š harga pasar vs harga buyback
⢠š¦ TOWR Rp525 vs plafon buyback Rp675 sekitar 28,57% lebih tinggi
⢠š§ MTEL Rp540 vs rata-rata treasuri Rp698 sekitar 29,26% lebih tinggi
⢠š„ TBIG Rp1.710 vs buyback Rp1.935 sekitar 13,16% lebih tinggi
⦠šŗ vs buyback Rp2.097 sekitar 22,63% lebih tinggi
⦠𧾠vs resell Rp2.138 sekitar 25,03% lebih tinggi
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
šÆ Harga MESOP vs harga pasar
⢠𧩠TOWR
⦠š¤ Rp1.000 out of the money, harga pasar 47,50% di bawah strike
⦠┠Rp392 in the money, strike 25,33% di bawah harga pasar
⦠š Rp285 in the money, strike 45,71% di bawah harga pasar
⢠šļø MTEL
⦠š§ Rp582 out of the money sekitar 7,78% di atas harga pasar
šø Trend DPS 2025
⢠šļø BALI Rp50 naik 150,00%
⢠𧱠GHON Rp180 naik 9,09%
⢠šØ MTEL Rp25,33 naik 40,64%
⢠š„ TBIG Rp48,73 turun 11,72%
⢠š¦ TOWR Rp15,90 turun 34,02%
⢠⫠CENT Rp0 stagnan
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
šļø Aset dan growth 9M 2025
⢠š TOWR Rp78,29 T growth 0,60%
⢠šļø MTEL Rp58,05 T growth -0,16%
⢠šļø TBIG Rp44,72 T growth 2,85%
⢠š CENT Rp27,37 T growth -1,92%
⢠šļø BALI Rp6,33 T growth 7,50%
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/2

