imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Geng Menara Telekomunikasi IHSG

Perusahaan menara telekomunikasi di IHSG itu sudah ada geng-nya masing-masing. Investor yang cuma lihat ticker sering mengira mereka ini bisnisnya sama, padahal struktur grup itu sudah seperti peta kekuasaan yang mengatur cara mereka tumbuh, cara mereka ngutang, sampai cara mereka perang harga. Di sektor menara, menang itu bukan cuma soal punya tower paling banyak, tapi soal siapa yang punya akses modal paling murah, kontrak paling lengket, dan kemampuan nyerap pemain lain tanpa bikin margin bocor. Makanya valuasi bisa terlihat aneh, ada yang asetnya segunung tapi dihargai diskon, ada yang asetnya kecil tapi diperlakukan seperti barang langka. Kalau investor baca data per 30 September 2025 dengan kacamata geng, banyak hal yang tadinya terasa kontradiktif jadi masuk akal. External Comunity Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community menggunakan kode: A38138 https://stockbit.com/post/13223345

Dari sisi pengendali, peta besarnya kebagi jadi dua raksasa swasta dan satu raksasa BUMN, lalu sisanya pemain mandiri yang hidup dengan cara berbeda. PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) jadi inti geng TOWR, dengan anak rantai yang makin rapat lewat PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR) yang efektif dikuasai 99,96% dan PT Inti Bangun Sejahtera Tbk (IBST) yang efektif dikuasai 99,98% melalui jalur Protelindo dan iForte. PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) jadi inti geng TBIG, lalu ada PT Gihon Telekomunikasi Indonesia Tbk (GHON) 50,43% dan PT Visi Telekomunikasi Infrastruktur Tbk (GOLD) 51,09% yang nempel sebagai satelit. Di luar itu ada PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) yang berada di orbit Telkom Group dan Pemerintah RI, lalu PT Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk (CENT) yang dikuasai Edgepoint 92,17%, dan PT Bali Towerindo Sentra Tbk (BALI) yang lebih lokal dengan pengendali PT Kharisma Cipta Towerindo. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Trend paling kelihatan itu konsolidasi dan sentralisasi risiko ke level grup. Geng TOWR itu contoh paling jelas, karena akuisisi SUPR dan IBST bukan sekadar nambah menara, tapi nambah kontrol atas kontrak, jaringan produk, dan posisi tawar, sekaligus membuat urusan pembiayaan jadi satu napas lewat corporate guarantee dan tanggung renteng atas fasilitas pinjaman grup. Geng TBIG lebih rapi secara struktur holding dan transaksi afiliasi, bahkan ada pola dukungan jasa manajemen dari entitas induk untuk urusan risiko dan merger-akuisisi, jadi geraknya terasa lebih korporat dan terukur. Di sisi lain, MTEL bergerak dengan gaya BUMN yang kuat di skala fisik dan backbone pelanggan, tapi tetap ikut permainan industri seperti sewa-menyewa silang, bahkan punya perjanjian payung untuk menyewa menara kompetitor lalu disewakan lagi ke operator. Lalu pemain mandiri seperti CENT dan BALI kelihatan lebih sering hidup di medan spesifik, termasuk medan sengketa perizinan dan lahan, yang membuat risiko mereka bukan cuma finansial tapi juga operasional dan legal.

Kalau investor bandingkan skala, angka market cap versus aset itu membuka kunci besar soal bagaimana pasar memberi harga pada tiap geng. TOWR punya aset Rp78,29 T tapi market cap Rp31,02 T, rasio market cap terhadap aset 0,39x, ini diskon tebal di level aset. MTEL market cap Rp45,12 T dan aset Rp58,04 T, rasionya 0,77x, lebih wajar dan lebih mahal dari TOWR jika diukur per Rupiah aset. TBIG market cap Rp38,74 T dan aset Rp44,71 T, rasionya 0,86x, paling mahal di antara tiga raksasa jika pakai ukuran ini. Yang paling anomali itu SUPR, market cap Rp49,88 T dengan aset Rp10,03 T, rasionya 4,97x, ini bukan premium biasa, ini perlakuan pasar yang ekstrem. Secara statistik sederhana, TBIG dihargai sekitar 2,21 kali lebih mahal dari TOWR dalam basis market cap per aset, MTEL sekitar 1,97 kali lebih mahal, sedangkan SUPR sampai sekitar 12,74 kali, jadi wajar kalau kesan yang muncul seperti pasar sedang bicara kelangkaan dan likuiditas, bukan sekadar aset. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Dari sisi valuasi laba, TOWR punya PE 9,11x, paling rendah, jadi secara harga laba terlihat paling murah untuk skala besar, apalagi laba masih tumbuh 4,41%. GOLD jadi kasus menarik karena PBV 0,98x, satu-satunya yang di bawah nilai buku, lalu liabilitas cuma 10% dari aset, jadi profil leverage-nya terasa santai, meski tetap perlu dicek seberapa besar skala dan daya tawarnya di kontrak. IBST tampil sebagai rising star pasca-masuk geng TOWR, laba neto tumbuh 113,49% dan Operating Profit Margin (OPM) 72,63%, ini kombinasi yang bikin investor gampang tergoda, karena cerita efisiensi pasca-akuisisi biasanya disukai pasar. Di sisi premium, SUPR PBV 6,53x dan PE 39,95x, tetapi OPM 69,69% sangat tinggi, jadi pasar seolah membayar mahal untuk mesin margin, ditambah faktor likuiditas dan kondisi perdagangan yang tidak normal. TBIG sendiri PBV 3,86x dan PE 26,22x sementara pertumbuhan laba -5,06%, jadi investor yang membayar premium di TBIG pada dasarnya sedang percaya pada kualitas kontrak, model akuntansi aset, dan kemampuan manajemen menavigasi siklus, bukan sedang membeli momentum laba. CENT adalah lampu merah, PE -1,95x karena rugi Rp1,47 T dan ROE -82,34%, ini bukan sekadar undervalued, ini masalah struktur beban bunga dan arsitektur pendanaan yang menggerus ekuitas.

Masuk ke arus kas dan utang, di sini terlihat siapa yang kuat napas dan siapa yang hidup dari oksigen kredit. Net debt terbesar ada di TOWR Rp44,53 T dan TBIG Rp29,85 T, TOWR sekitar 1,49 kali lebih tinggi dari TBIG, jadi sensitivitas TOWR ke suku bunga dan refinancing jelas lebih besar. Tetapi dua-duanya punya OPM di atas 50%, artinya mesin operasionalnya masih tebal untuk bayar bunga, jadi isu utamanya bukan bisa atau tidak bayar, melainkan seberapa fleksibel mereka saat kontrak ditawar ulang atau saat pertumbuhan tenancy melambat. MTEL terlihat paling sehat dari sisi kas karena Free Cash Flow (FCF) TTM Rp4,02 T, ini penting karena FCF adalah uang nyata yang bisa dipakai untuk capex tanpa harus menambah utang agresif. GOLD juga menarik karena liabilitas rendah, jadi ruang geraknya lebih luas jika mau ekspansi, tetapi tantangannya biasanya di skala dan bargaining power. CENT kebalikannya, beban bunga dari pinjaman pemegang saham jadi akar masalah, sehingga investor yang masuk tanpa tesis restrukturisasi pendanaan itu seperti berenang melawan arus. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Sektor menara itu bukan cuma cerita pertumbuhan data dan 5G, tapi cerita oligopoli kontrak jangka panjang dengan perang kecil di pricing, izin, dan akuisisi. Potensi terbesar biasanya muncul saat ada katalis industri, misalnya konsolidasi operator yang memaksa efisiensi jaringan, atau kebijakan capex yang mengubah pola sewa, atau akselerasi kebutuhan kolokasi, dan setiap geng akan merespons berbeda. Geng TOWR tampak seperti mesin konsolidasi yang memilih menang lewat skala dan integrasi, jadi upside-nya di re-rating valuasi jika pasar yakin utang terkendali dan sinergi benar-benar mengunci margin. Geng TBIG tampak seperti mesin eksekusi yang dijual premium, jadi upside-nya butuh bukti laba kembali tumbuh dan premium itu layak, sementara downside-nya terasa kalau pertumbuhan tetap negatif tapi valuasi tidak turun. MTEL tampak seperti opsi defensif yang hidup dari stabilitas kas, tapi upside-nya biasanya lebih lambat karena pertumbuhan laba stagnan 0,61% dan investor harus rela dibayar dengan ketenangan, bukan adrenalin. Pemain seperti GOLD dan IBST adalah ruang spekulasi yang lebih fokus, satu karena diskon PBV, satu karena lonjakan laba, sedangkan SUPR dan CENT adalah dua ujung ekstrem, SUPR ekstrem premium yang rawan normalisasi, CENT ekstrem rugi yang butuh perbaikan struktur.

โœ… Geng Menara
๐Ÿงฉ TOWR, SUPR, IBST satu napas pembiayaan, corporate guarantee dan tanggung renteng bikin risiko utang terkonsentrasi di grup, tetapi juga bikin akses modal dan sinergi lebih gampang
๐Ÿข TBIG, GHON, GOLD model holding yang rapi, transaksi afiliasi dan dukungan manajemen grup bikin eksekusi lebih terstruktur
๐Ÿ›๏ธ MTEL gaya BUMN, besar secara fisik, kuat di posisi ekosistem Telkom Group, tapi tetap main sewa silang untuk optimasi
๐ŸŒ CENT didukung modal global, tetapi kinerja rugi dan beban bunga membuat cerita sahamnya lebih mirip cerita restrukturisasi
๐Ÿ๏ธ BALI lebih lokal dan sering ketemu medan izin dan sengketa, jadi profil risikonya beda dari yang fokus finansial murni
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

๐Ÿ“ Valuasi Aset
๐Ÿช™ TOWR rasio market cap terhadap aset 0,39x, pasar memberi diskon besar terhadap aset Rp78,29 T
๐Ÿงฎ MTEL rasio 0,77x, hampir 2 kali lebih mahal dari TOWR dalam basis yang sama, wajar karena profil kas lebih tenang
๐Ÿ“Œ TBIG rasio 0,86x, sekitar 2,21 kali lebih mahal dari TOWR, berarti investor membayar premium atas kualitas dan konsistensi yang diyakini
๐ŸŽข SUPR rasio 4,97x, ini zona anomali, lebih banyak bicara kelangkaan saham dan kondisi perdagangan daripada efisiensi aset

๐Ÿ’ฐ Valuasi Laba
๐Ÿงฒ TOWR PE 9,11x dengan laba tumbuh 4,41%, secara angka ini paket value paling jelas di kelompok raksasa
๐Ÿท๏ธ GOLD PBV 0,98x dan liabilitas 10% dari aset, diskon buku ditambah leverage rendah, tetapi tetap perlu disiplin cek skala dan kontrak
๐Ÿš€ IBST laba tumbuh 113,49% dan OPM 72,63%, ini cerita momentum dan sinergi pasca-akuisisi
๐Ÿ‘‘ SUPR PBV 6,53x dan PE 39,95x dengan OPM 69,69%, premium setinggi ini sensitif terhadap normalisasi likuiditas dan ekspektasi
๐ŸŽฏ TBIG PBV 3,86x dan PE 26,22x saat laba turun -5,06%, investor yang masuk di sini sedang membeli keyakinan, bukan bukti pertumbuhan jangka pendek
๐Ÿšจ CENT PE -1,95x, rugi Rp1,47 T, ROE -82,34%, tanpa tesis perbaikan struktur bunga, risk-reward-nya timpang
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

๐Ÿฆ Utang dan napas kas
โš™๏ธ TOWR net debt Rp44,53 T, mesin margin tebal membantu, tetapi sensitivitas bunga dan refinancing tetap jadi bayangan utama
๐Ÿ”ฉ TBIG net debt Rp29,85 T, lebih ringan dari TOWR, tetapi premium valuasi menuntut pemulihan pertumbuhan laba
๐Ÿ›ก๏ธ MTEL FCF TTM Rp4,02 T, ini amunisi nyata untuk capex dan ketahanan saat siklus industri berubah
๐Ÿงฏ GOLD leverage rendah memberi opsi fleksibilitas, tetapi katalis biasanya harus datang dari ekspansi atau perbaikan persepsi pasar
๐Ÿงจ CENT beban bunga jadi pusat masalah, jadi fokus investor mestinya di skema pendanaan ulang, bukan di mimpi margin

๐ŸŒฑ Potensi yang paling masuk akal per tipe investor
๐Ÿงฑ Untuk investor konservatif, TOWR dan MTEL lebih mudah dipertanggungjawabkan, satu karena valuasi PE rendah, satu karena FCF kuat
๐Ÿช Untuk investor value hunting, GOLD menarik karena PBV 0,98x dan liabilitas rendah, tetapi jangan lupa cek likuiditas dan kualitas kontrak
๐Ÿš€ Untuk investor growth, IBST paling jelas momentumnya, tetapi waspadai efek base rendah dan potensi normalisasi setelah lonjakan
๐ŸŽฒ Untuk investor yang suka event-driven, CENT itu murni taruhan restrukturisasi, bukan taruhan bisnis menara yang normal
๐Ÿงฟ Untuk investor yang tergoda premium, SUPR itu high expectation, high consequence, satu perubahan sentimen bisa bikin valuasi kembali ke bumi

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
$TOWR $MTEL $CENT

Read more...

1/4

testestestes
2013-2026 Stockbit ยทAboutยทContactHelpยทHouse RulesยทTermsยทPrivacy