Berdasarkan data terbaru hingga Februari 2026, arah kebijakan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan dampaknya terhadap IHSG.
1. Konteks Kebijakan: "Sentimen Negatif vs Optimisme Domestik"
lembaga pemeringkat internasional (Moody's, S&P, MSCI, dll) terhadap Menkeu Purbaya. Faktanya, pada awal Februari 2026, Moody's menurunkan outlook peringkat kredit Indonesia dari "Stabil" menjadi "Negatif".
Namun, Menkeu Purbaya menanggapi dengan santai karena:
PDB Berbasis Konsumsi: Sebanyak 54% PDB ditopang konsumsi domestik, sehingga ekonomi dinilai punya daya tahan terhadap guncangan eksternal.
Injeksi Likuiditas: Pemerintah telah menempatkan dana sekitar Rp200 triliun di perbankan untuk mendorong belanja dan aktivitas ekonomi.
Target Agresif: Purbaya tetap optimis pertumbuhan ekonomi 2026 bisa bergerak ke arah 8%.
2. Dampak Langsung terhadap IHSG
Meski ada tekanan "asing", arah kebijakan Purbaya justru memberikan sinyal yang cukup berani bagi pasar modal:
Volatilitas Jangka Pendek: Penurunan outlook oleh Moody's sempat memicu aksi jual (risk-off), menyebabkan IHSG terkoreksi ke area 7.700–7.900. Investor asing cenderung berhati-hati saat ada revisi peringkat utang.
Proyeksi Ambisius (Level 10.000): Sebelum isu Moody's mencuat, Purbaya secara terbuka menyatakan optimismenya bahwa IHSG bisa menembus 10.000 pada tahun 2026. Hal ini didorong oleh rekor All Time High (ATH) yang terjadi berkali-kali sepanjang 2025.
Kekuatan Investor Domestik: Kebijakan yang berfokus pada "kemandirian" ekonomi memperkuat peran investor lokal sebagai penopang bursa saat dana asing keluar.
3. Perbandingan Strategis
Kebijakan ini memposisikan Indonesia seperti Vietnam (dalam infografis): meskipun rating mungkin belum ideal di mata asing, indikator ekonomi riil tetap positif. Hal ini kontras dengan negara seperti Italia yang punya rating tinggi tapi ekonomi sering disebut lemah.
Tag: $IHSG $BBCA $BMRI
1/3


