#11 Bukan Pasarnya yang Kejam, Tapi Ekspektasi Kita
Saya pernah berada di titik di mana setiap koreksi pasar terasa seperti hukuman. Harga turun sedikit saja, dan pikiran langsung menyimpulkan: pasar kejam, tidak adil, penuh jebakan. Saya merasa sudah melakukan “semua yang benar”, tapi hasilnya tidak sesuai harapan. Baru belakangan saya sadar, yang membuat sakit bukanlah turunnya harga, melainkan ekspektasi saya sendiri yang terlalu tinggi dan terlalu cepat. Saya berharap pasar memberi hasil sesuai keinginan, bukan sesuai prosesnya.
Dulu saya membayangkan investasi sebagai jalan yang relatif lurus: analisis dilakukan, keputusan diambil, hasil mengikuti. Kenyataannya jauh lebih berliku. Pasar sering bergerak berlawanan dengan rencana, dan saya menganggap itu sebagai kesalahan sistem. Padahal, pasar tidak pernah berjanji memberi imbal hasil cepat atau konsisten setiap waktu. Ia hanya menyediakan peluang, bukan kepastian. Kekecewaan muncul karena saya menuntut sesuatu yang sejak awal tidak pernah dijanjikan.
Perlahan saya mulai menurunkan ekspektasi, bukan target hidup. Saya belajar membedakan antara harapan dan asumsi. Harapan bisa memotivasi, tapi asumsi yang tidak diuji justru menjerumuskan. Ketika saya menerima bahwa hasil jangka pendek bisa acak dan tidak selalu mencerminkan kualitas keputusan, tekanan mental berkurang drastis. Saya berhenti mengukur keberhasilan dari satu atau dua bulan, dan mulai melihat proses dalam rentang yang lebih panjang.
Hari ini, pasar masih sama—kadang ramah, kadang dingin. Yang berubah adalah cara saya memasukinya. Saya tidak lagi menuntut pasar untuk bersikap sesuai keinginan saya. Saya menyesuaikan ekspektasi dengan realitasnya. Di situlah saya menemukan ketenangan yang sebelumnya sulit dicapai. Bukan karena pasar menjadi lebih lembut, tapi karena saya berhenti bersikap keras pada diri sendiri.
$IHSG $CTRA $PWON
