$INPC Berikut adalah analisis fundamental tajam dan mendalam terhadap emiten INPC berdasarkan data laporan hingga Q3 2025
yang Tersedia di keystats Saat ini.
1. Bedah Komponen Laporan Keuangan (Detailed Breakdown)
A. Profitabilitas & Kinerja Operasional
Revenue (Top Line): Pendapatan bunga/operasional menunjukkan stagnasi cenderung melandai. Angka 1.675 B (TTM) hanya tumbuh tipis 1.51% (YoY) secara kuartalan. Ini mengindikasikan ekspansi kredit yang kurang agresif atau tekanan pada yield aset produktif.
Net Income (Bottom Line): Terjadi degradasi profitabilitas yang sangat signifikan secara kuartalan. Net Income Q3 2025 hanya 5 B, anjlok -91% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Akibatnya, Net Income TTM (81 B) jauh di bawah pencapaian 2024 (152 B).
Net Profit Margin (NPM): Angka 1.16% adalah level yang sangat mengkhawatirkan untuk sektor perbankan. Ini menandakan efisiensi operasional yang buruk atau adanya pembengkakan biaya pencadangan (provisi) akibat risiko kredit.
ROE & ROA: ROE 1.84% dan ROA 0.24% menunjukkan manajemen modal yang tidak efisien. Secara industri, bank yang sehat umumnya memiliki ROE di atas 10%.
B. Neraca & Solvabilitas (Balance Sheet)
Total Assets & Equity: Aset sebesar 33,243 B didominasi oleh kewajiban sebesar 28,830 B. Ekuitas berada di angka 4,413 B.
Debt to Equity Ratio (DER): Angka 0.09
"dalam konteks perbankan Di bank, "utang" utama adalah Dana Pihak Ketiga (DPK). Jika kita melihat Price to Book Value (PBV) di angka 0.83x, saham ini memang diperdagangkan di bawah nilai bukunya (undervalued secara aset, namun wajar karena profitabilitas rendah).
Cash Flow: Free Cash Flow (TTM) 6,212 B terlihat sangat besar, namun pada bank, arus kas sering kali fluktuatif karena pergerakan penempatan dana dan penarikan simpanan, bukan murni dari laba operasional yang ditahan.
C. Market Valuation
PER (Price to Earnings Ratio): Angka 45.11x (TTM) adalah valuasi yang sangat mahal untuk bank dengan pertumbuhan negatif. Pasar menghargai setiap Rp1 laba INPC dengan harga Rp45, padahal labanya sedang tergerus hebat.
EPS (Earnings Per Share): Penurunan dari 7.54 (2024) menjadi 4.01 (TTM) adalah sinyal red flag utama bagi investor pertumbuhan.
2. Perhitungan Harga Wajar (Intrinsic Value)
Data Input:
Harga Saat Ini: Berkisar Rp.180
EPS (TTM): 4.01
BVPS: 218.20
Growth (G): 3.8% (Annual YoY)
ROE: 1.84%
I. Metode Benjamin Graham (Simplified)
Menggunakan rumus Graham Number untuk menentukan batas atas harga beli berdasarkan aset dan laba.
Rumus: √ (22.5 x EPS x BVPS) -> (Kita hitung tanpa simbol akar untuk kemudahan salin)
Perkalian: 22.5 x 4.01 x 218.20 = 19,687
Hasil Akhir (Akar dari 19,687): Rp 140.3
2. Metode Peter Lynch (Fair Value)
Lynch menilai harga wajar berdasarkan pertumbuhan (Growth). Harga wajar = Growth Rate x EPS.
Growth Rate: 3.86 (kita gunakan 3.9)
EPS: 4.01
Harga Wajar: 3.9 x 4.01 = Rp 15.6
(Catatan: Metode ini menunjukkan INPC sangat mahal karena pertumbuhannya jauh di bawah PER-nya).
3. Metode Relative Valuation (PER Industry)
Rata-rata PER bank lapis kedua biasanya berada di angka 10x - 12x. Kita gunakan angka moderat 10x.
PER Standar: 10
EPS TTM: 4.01
Harga Wajar: 10 x 4.01 = Rp 40.1
4. Metode PBV Normal (Standard Valuation)
Mengingat ROE yang rendah (di bawah 5%), harga wajar biasanya dihargai pada PBV 0.5x hingga 0.6x.
BVPS: 218.20
PBV Wajar: 0.6
Harga Wajar: 0.6 x 218.20 = Rp 130.9
Analisis Akhir:
Secara fundamental, INPC sedang mengalami tekanan berat pada laba bersih (Net Income terjun bebas -91%). Valuasi PER sebesar 45x sangat tidak masuk akal untuk bank dengan ROE hanya 1.84%.
Harga pasar saat ini berkisar Rp.180 masih jauh di atas nilai intrinsik jika dihitung dari sisi kemampuan menghasilkan laba.
Saham ini hanya menarik dari sisi aset (PBV < 1), namun sangat berisiko dari sisi kinerja operasional. (Menurut Opini saya).
Disclaimer : Analisis ini merupakan opini pendapat pribadi berdasarkan data keystats yang tersedia saat ini, Bukan Rekomendasi Ajakan Jual/Beli.
1/2

