Jujur saja saya agak bingung setiap kali mendengar pengumuman target besar dari perusahaan tambang plat merah kita terutama soal hilirisasi yang seolah tidak ada habisnya dibahas. Saya membaca pernyataan dari Dony Oskaria yang sekarang menahkodai Danantara soal ambisi proyek smelter grade alumina refinery atau SGAR di Mempawah. Katanya fase kedua ditargetkan selesai tahun 2028 yang artinya kapasitas produksi bakal melompat jadi 2 juta ton alumina per tahun. Kedengarannya memang hebat dan sangat visioner tapi sebagai orang yang sudah cukup lama memperhatikan pergerakan $ANTM saya tidak bisa menahan diri untuk sedikit skeptis atau setidaknya merasa perlu menarik napas panjang. Kita sudah sering dijanjikan kemandirian industri tapi jalan menuju ke sana rasanya selalu berliku dan penuh dengan istilah fase satu serta fase dua yang seringkali bikin bingung investor ritel yang cuma ingin lihat laba bersih naik.
Kalau kita bicara soal struktur bisnisnya sebenarnya kolaborasi antara ANTM dan Inalum ini sangat masuk akal secara teori karena kita punya bahan mentahnya tapi malah sering impor hasil olahannya. Sekarang ada tambahan peran dari $PTBA yang bakal memasok listrik sampai 1,25 gigawatt yang menurut saya itu angka yang sangat masif untuk ukuran satu proyek saja. Tapi ya itu tadi membangun ekosistem raksasa seperti ini di tengah kondisi ekonomi global tahun 2026 yang masih penuh ketidakpastian tentu bukan perkara mudah. Suku bunga memang mulai menunjukkan tanda tanda melandai tapi biaya investasi untuk teknologi smelter itu mahal sekali dan resiko keterlambatan proyek selalu membayangi setiap jengkal pembangunannya. Saya jadi bertanya tanya apakah target tahun 2028 itu benar benar realistis atau hanya sekadar angka yang bagus untuk dipresentasikan di depan pemangku kepentingan sekarang.
Ada resiko tersembunyi yang kadang kita lupakan saat terlalu asyik melihat narasi hilirisasi ini yaitu soal efisiensi operasional dan bagaimana integrasi ini benar benar bekerja di lapangan nanti. Maksud saya begini kalau PTBA yang pasok listriknya lalu ANTM yang kelola bauksitnya dan Inalum yang ambil aliminanya maka pertanyaannya adalah siapa yang paling diuntungkan dalam rantai nilai ini secara margin keuntungan. Jangan sampai proyeknya jadi dan kapasitasnya dua kali lipat tapi beban utang atau biaya operasionalnya malah menggerus potensi dividen yang selama ini diharapkan oleh para investor ritel. Belum lagi kalau kita bicara soal harga komoditas global yang pergerakannya tidak pernah bisa ditebak dengan pasti meskipun narasi kendaraan listrik atau industri strategis sedang kencang kencangnya sekarang ini. Saya merasa pasar kadang terlalu bias dan menganggap semua proyek hilirisasi pasti berakhir dengan keuntungan melimpah padahal kenyataannya seringkali lebih rumit dari itu.
Namun di sisi lain saya juga melihat ada keunikan tersendiri dari cara Danantara mencoba merapikan aset aset strategis ini supaya tidak berjalan sendiri sendiri seperti dulu. Mungkin saya agak terlalu berhati hati tapi melihat sinergi yang melibatkan energi dari PTBA ini memberikan sedikit harapan bahwa masalah klasik soal biaya energi yang mahal dalam pengolahan mineral bisa sedikit teratasi. Proyek SGAR fase dua ini memang punya potensi besar untuk mengubah peta bisnis ANTM dari sekadar tukang gali menjadi pemain industri yang lebih serius kalau memang eksekusinya benar benar bersih dan tepat waktu. Tapi ya namanya juga investasi di sektor komoditas dan proyek infrastruktur kita harus siap dengan segala drama yang mungkin terjadi di tengah jalan nanti. Kita mungkin harus belajar lebih sabar lagi sambil terus memperhatikan apakah komitmen pembangunan ini benar benar berjalan sesuai jadwal atau malah ada penyesuaian penyesuaian lagi di masa depan yang ujung ujungnya menunda harapan kita.
Cerita soal ANTM dan ambisi aluminanya ini adalah soal bagaimana kita mengelola ekspektasi di tengah janji janji besar pembangunan nasional yang kadang terasa terlalu jauh di depan mata. Saya sering merenung apakah kita sebagai investor ritel hanya sedang membeli sebuah mimpi besar tentang kemandirian industri atau memang sedang menanam modal di perusahaan yang benar benar tahu cara mencetak uang dari setiap butir alumina yang mereka hasilkan nantinya. Tahun 2028 masih terasa cukup lama dan banyak hal bisa berubah dalam dua atau tiga tahun ke depan termasuk kebijakan politik atau dinamika pasar mineral dunia. Mungkin yang terbaik bagi kita sekarang adalah tetap mengamati dengan kritis tanpa perlu terlalu terbawa suasana euforia yang seringkali diciptakan oleh pemberitaan di permukaan saja. Jalan menuju 2 juta ton itu masih panjang dan penuh tanjakan yang mungkin belum terlihat jelas di peta yang mereka bagikan hari ini.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
$TINS