$ZONE Berikut adalah analisis fundamental mendalam terhadap emiten ZONE. berdasarkan data laporan keuangan yang tersedia di keystat saat ini sampai Q3 2025.
1. Bedah Angka: Efisiensi dan Operasional
Menganalisis performa ZONE memerlukan ketajaman dalam melihat disparitas antara pertumbuhan pendapatan dan profitabilitas bersih.
Revenue (TTM: 700 B): Terjadi stagnasi bahkan kontraksi ringan (YoY Growth -3.68%).
Angka 700 B ini menunjukkan top-line yang sulit menembus resistensi psikologisnya, mengindikasikan saturasi pasar atau daya beli segmen menengah yang tertahan.
Gross Profit Margin (58.29%): Ini adalah angka yang sangat impresif untuk sektor retail fashion. Margin setebal ini membuktikan ZONE memiliki brand equity yang kuat dan kontrol rantai pasok yang efisien.
Mereka mampu memproduksi dengan biaya rendah namun menjual dengan harga premium.
Net Profit Margin (-0.17%): Di sinilah letak masalahnya. Terjadi bleeding pada bottom-line akibat tingginya beban operasional (OPEX) atau beban bunga.
Selisih masif antara Gross Margin (58%) dan Net Margin (negatif) menunjukkan inefisiensi biaya operasional yang sangat ekstrem.
EPS (TTM: 9.30 vs Annualised: 17.52): Ada proyeksi pemulihan di kuartal mendatang, namun angka TTM 9.30 mencerminkan realitas yang jauh lebih rendah dibanding tahun-tahun kejayaannya.
2. Struktur Permodalan dan Solvabilitas
Debt to Equity Ratio (0.39): Secara struktur modal, ZONE cukup konservatif. Utang berbunga tidak mendominasi neraca, yang memberikan nafas dari sisi risiko kebangkrutan.
Current Ratio (1.89) vs Quick Ratio (0.15): Red Flag Utama. Disparitas ini menunjukkan bahwa sebagian besar aset lancar ZONE terjebak dalam Persediaan (Inventory).
Quick Ratio 0.15 sangat mengkhawatirkan karena ZONE hanya memiliki kas dan setara kas yang sangat kecil untuk menutupi kewajiban jangka pendek tanpa menjual barang dagangan terlebih dahulu.
Cash from Operations 77 B: Meski laba bersih tipis, arus kas operasi positif menunjukkan model bisnis ini sebenarnya menghasilkan uang tunai secara riil.
3. Valuasi Harga Wajar (4 Metode)
Berdasarkan data: EPS (TTM) = 9.30, EPS (Annualised) = 17.52, BVPS = 438.34, Growth (G) diasumsikan konservatif di 5%.
A. Metode Graham Number
Metode ini mencari titik keseimbangan antara aset dan laba (asumsi konservatif P/E x P/B tidak boleh lebih dari 22.5).
Menggunakan EPS TTM (9.30):
Harga wajar : √22.5 x EPS TTM 9.30 x BVPS 438.34 = Rp. 303
Menggunakan EPS Annualised (17.52):
√22.5 x 17.52 x 438.34 = Rp.415
B. Metode Graham Revised (Intrinsic Value)
Rumus: V = EPS x (8.5 + 2G)
V= 17.52 x (8.5 + 2 x 5) = 17.52 x 18.5= Rp.324
C. Metode Peter Lynch (Fair Value PE = Growth)
Lynch menilai harga wajar perusahaan tumbuh lambat/sedang berdasarkan tingkat pertumbuhan (G).
Harga Wajar= EPS x G
V = 17.52 x 5 = Rp.87
(Menunjukkan jika pertumbuhan hanya 5%, harga saat ini sudah sangat mahal secara relatif).
D. Metode Peter Lynch (Earnings Line)
Lynch sering menggunakan garis P/E = 15 sebagai standar perusahaan yang sehat.
Harga wajar = EPS 17.52 x 15 = Rp.262
4. Kesimpulan Tajam
Valuasi: Overvalued Harga saat ini (berkisar di atas angka wajar Graham) tidak didukung oleh pertumbuhan bottom-line.
Profitabilitas: Weak Margin kotor tinggi tergerus habis oleh beban operasional.
Likuiditas: Danger Risiko inventory pile-up (stok menumpuk) tercermin dari Quick Ratio yang rendah.
Final Verdict:
ZONE saat ini merupakan Value Trap kecuali manajemen mampu melakukan efisiensi besar-besaran pada beban usaha (S&A Expenses).
Pertumbuhan pendapatan yang melambat di tengah kenaikan biaya operasional membuat rasio P/E TTM 62.39x menjadi tidak masuk akal untuk perusahaan retail dengan pertumbuhan rendah.
Secara teknikal dan fundamental, harga wajar berada di rentang Rp260 - Rp320
(Menurut pendapat saya).
Disclaimer : Analisis ini merupakan opini/ pendapat pribadi berdasarkan data kesytat yang tersedia saat ini, Bukan Rekomendasi
Ajakan Jual/Beli.
1/2

