#8 Mengelola Rasa Takut Tanpa Menghilangkannya
Saya dulu berpikir bahwa menjadi investor yang baik berarti harus menghilangkan rasa takut sepenuhnya. Saya merasa takut adalah tanda kelemahan, sesuatu yang harus ditekan atau disingkirkan. Setiap kali rasa cemas muncul saat harga bergerak turun, saya memaksa diri untuk “lebih berani”, seolah keberanian itu berarti tidak merasakan apa-apa. Nyatanya, semakin saya mencoba mengusir rasa takut, semakin ia muncul dalam bentuk yang lebih kasar—keputusan tergesa-gesa, reaksi berlebihan, dan penyesalan yang datang belakangan.
Seiring waktu, saya mulai menyadari bahwa rasa takut sebenarnya tidak pernah benar-benar hilang, bahkan pada investor yang paling berpengalaman sekalipun. Bedanya, mereka tidak membiarkan rasa takut memegang kendali. Rasa takut hadir sebagai sinyal, bukan perintah. Ia mengingatkan bahwa ada risiko, bahwa ada hal yang perlu diperiksa ulang. Ketika saya berhenti memeranginya dan mulai mendengarkannya dengan tenang, hubungan saya dengan pasar perlahan berubah.
Mengelola rasa takut berarti memberi jarak antara perasaan dan tindakan. Saya belajar untuk tidak langsung bereaksi setiap kali jantung berdegup lebih cepat. Saya bertanya pada diri sendiri: apakah ini ketakutan yang rasional, atau hanya kecemasan karena melihat angka merah? Dengan proses itu, rasa takut tidak lagi mendorong saya untuk lari, tapi membantu saya memperlambat langkah. Ia menjadi alat refleksi, bukan pemicu kepanikan.
Hari ini, rasa takut masih ada setiap kali pasar bergejolak, dan saya tidak lagi menganggap itu masalah. Justru saya curiga jika suatu hari saya tidak merasakan apa pun—karena di situlah kecerobohan biasanya lahir. Saya belajar bahwa ketenangan bukan hasil dari ketiadaan rasa takut, melainkan dari kemampuan mengelolanya. Ketika rasa takut diterima, bukan ditekan, ia berhenti menjebak. Dan di sanalah saya menemukan cara berinvestasi yang lebih jujur, lebih manusiawi, dan jauh lebih berkelanjutan.
$IHSG $TOWR $UNVR
