$INTD Berikut adalah analisis mendalam untuk saham INTD berdasarkan keystat data laporan keuangan sampai Q3 2025.
Analisis Fundamental Mendalam: INTD
Secara umum, INTD sedang berada dalam fase turnaround atau pemulihan yang cukup menantang. Perusahaan sempat mencatatkan kerugian besar, namun mulai menunjukkan tanda-tanda profitabilitas di kuartal terbaru (Q3 2025).
1. Bedah Kinerja Laba Rugi (Income Statement)
Revenue (Pendapatan):
Q1-Q3 2025: Menunjukkan fluktuasi (9B, 10B, 7B).
Revenue (TTM) 32 B: Total pendapatan dalam 12 bulan terakhir adalah Rp32 Miliar.
Revenue Growth: Secara tahunan (Annual YoY) turun tajam -28.66%. Ini menandakan ada penciutan pasar atau perubahan strategi bisnis yang signifikan.
Net Income (Laba Bersih):
Q3 2025 (75 M): Ini adalah angka krusial. Setelah merugi di Q1 (-776M) dan Q2 (-1B), akhirnya di Q3 perusahaan mencetak laba bersih Rp75 Juta.
Net Income (TTM) (2 B): Meskipun Q3 positif, secara akumulasi 12 bulan terakhir perusahaan masih merugi Rp2 Miliar (tanda kurung dalam akuntansi berarti negatif).
EPS (Earnings Per Share):
EPS (TTM) -3.15: Setiap satu lembar saham yang Anda miliki menanggung kerugian Rp3,15. Namun, EPS Q3 sebesar 0.13 adalah sinyal positif pertama bahwa roda bisnis mulai menghasilkan uang kembali bagi pemegang saham.
2. Rasio Profitabilitas & Efisiensi
Gross Profit Margin (16.85%): Dari setiap Rp100 penjualan, sisa Rp16,85 setelah dikurangi biaya produksi. Margin ini tergolong tipis untuk sektor perdagangan/distribusi.
Operating Profit Margin (3.26%): Setelah membayar gaji dan biaya kantor, hanya tersisa sedikit keuntungan operasional.
Net Profit Margin (1.04%): Sangat tipis. Perusahaan tidak memiliki ruang kesalahan yang besar dalam operasionalnya.
3. Valuasi & Pasar
Current PE Ratio (TTM) -93.19: Karena perusahaan masih merugi secara akumulatif (TTM), rasio PE menjadi negatif.
Ini tidak bisa digunakan sebagai patokan harga murah/mahal secara konvensional.
Price to Sales (P/S) 5.38: Harga saham 5,38x lebih tinggi dari total penjualannya. Untuk perusahaan dengan margin tipis, angka ini tergolong cukup mahal (overvalued).
Biasanya, rasio P/S yang sehat di sektor ini berada di bawah 1x atau 2x.
4. Arus Kas (Cash Flow) : Sisi Mengejutkan
Cash From Operations (TTM) 12 B: Ini sangat menarik. Meskipun laba bersih negatif, uang tunai yang masuk dari operasional justru positif Rp12 Miliar. Ini bisa terjadi karena adanya penyusutan atau penagihan piutang yang kuat.
Free Cash Flow (TTM) 12 B: Perusahaan memiliki uang kas menganggur yang cukup besar dibandingkan skalanya. Ini adalah "bantalan" yang baik untuk bertahan hidup.
Penentuan Harga Wajar (Valuasi)
Menghitung harga wajar saham yang sedang merugi (EPS negatif) membutuhkan pendekatan berbeda. Kita akan menggunakan asumsi pemulihan ke depan.
Harga Saat Ini : Rp294
EPS (TTM): -3.15 (EPS Disetahunkan: -4.58)
Revenue Per Share: 54.70
Free Cash Flow Per Share: 19.61
Metode 1: Price to Sales Ratio (P/S)
Menggunakan rata-rata industri distribusi yang konservatif (P/S = 1.0x).
Rumus: Revenue\ Per\ Share x Target P/S
Perhitungan: 54.70 x 1.0 =Rp54,70
Metode 2: Graham Number (Berbasis Book Value)
Catatan: Data Book Value per share tidak tertera jelas di gambar (kosong), namun jika kita melihat aset yang ada, biasanya saham "gorengan"atau micro-cap memiliki harga wajar jauh di bawah harga pasar saat ini jika kinerjanya belum stabil menurut opini saya.
Metode 3: Discounted Cash Flow (DCF) Sederhana
Menggunakan Free Cash Flow per share (19.61) dengan asumsi pertumbuhan 5% dan tingkat diskonto 10%.
Rumus: FCF \ per\ share x10 (Multipler konservatif untuk perusahaan kecil)
Perhitungan: 19.61 x 10 = Rp196,10
Metode 4: Price to Free Cash Flow (P/FCF)
Menggunakan rata-rata P/FCF sektor sejenis (misal 8x).
Rumus: Free\ Cash\ Flow\ Per\ Share x 8
Perhitungan: 19.61 x 8 = Rp156,88
Kesimpulan Akhir harga wajar:
Metode P/S (Konservatif) Rp54,70
Metode DCF (Cash Flow) Rp196,10
Metode P/FCF Rp156,88
Harga Rata-Rata Wajar Rp135,89
Catatan Strategis:
High Risk: Harga pasar saat ini (sekitar Rp294) jauh di atas harga wajar fundamentalnya (Premium).
Turnaround Play: INTD adalah spekulasi pada pemulihan. Jika di Q4 2025 laba melonjak drastis, harga saham bisa terjustifikasi. Namun, jika kembali merugi, risiko penurunan ke area Rp150 sangat terbuka lebar.
Uang Kas: Kekuatan utama INTD saat ini hanya pada Arus Kas Operasional yang positif.
Disclaimer : Analisis ini merupakan opini/ pendapat pribadi berdasarkan data kesytat yang tersedia saat ini, Bukan Rekomendasi
Ajakan Jual/Beli.
1/3


