#6 Tidak Semua Penurunan Perlu Respon
Saya pernah berada di fase di mana setiap penurunan harga terasa seperti alarm darurat. Sedikit merah di layar, dan pikiran langsung sibuk menyusun skenario terburuk. Saya merasa harus selalu melakukan sesuatu: jual, beli lagi, pindah saham, atau setidaknya membuka aplikasi lebih sering. Diam terasa seperti kesalahan. Padahal, semakin sering saya merespons setiap gerakan kecil, semakin kacau hasilnya. Bukan karena pasar makin buruk, tapi karena saya sendiri kelelahan bereaksi.
Seiring waktu, saya mulai menyadari satu pola yang jujur tapi tidak nyaman: banyak penurunan tidak pernah benar-benar membutuhkan tindakan. Harga turun karena sentimen, karena emosi pasar, atau karena hal-hal yang sama sekali tidak mengubah kualitas bisnis yang saya miliki. Namun saya terlanjur menganggap semua penurunan sebagai ancaman. Di situlah saya keliru—saya menyamakan pergerakan harga dengan perubahan nilai, padahal keduanya sering berjalan di jalur yang berbeda.
Saya mulai belajar menahan diri, bukan dengan menutup mata, tapi dengan mengubah pertanyaan. Bukan lagi “kenapa harga turun?”, melainkan “apa yang benar-benar berubah?”. Jika jawabannya tidak menyentuh alasan awal saya berinvestasi, maka respons terbaik sering kali adalah tidak melakukan apa-apa. Ternyata, menahan diri itu jauh lebih sulit daripada bertindak. Tapi justru di situlah ketenangan mulai terbentuk—saat saya tidak lagi merasa wajib bereaksi pada setiap fluktuasi.
Hari ini, penurunan harga masih datang, dan rasa tidak nyaman tetap ada. Namun saya tidak lagi memperlakukannya sebagai panggilan aksi otomatis. Saya belajar bahwa respons yang berlebihan sering kali lebih merugikan daripada penurunan itu sendiri. Tidak semua penurunan perlu respon, dan tidak semua keheningan berarti pasrah. Kadang, keputusan paling dewasa di pasar saham adalah memberi ruang bagi waktu untuk bekerja, sementara kita menjaga pikiran tetap tenang.
$IHSG $BJBR $ADMF
