@Stockbit $BJBR
Penjelasan Singkat
Pertumbuhan uang primer (M0) sebesar 14,7% YoY menunjukkan bahwa Bank Indonesia menambah likuiditas ke dalam sistem perbankan dan sirkulasi uang kartal cukup signifikan. Meski melambat dari bulan sebelumnya (16,8%), pertumbuhan ini tetap tinggi dan mencerminkan kebijakan moneter yang relatif akomodatif.
Dampak terhadap Masyarakat Umum
Daya Beli dan Inflasi: Pertumbuhan uang beredar yang tinggi berpotensi mendorong inflasi jika tidak diimbangi dengan pertumbuhan ekonomi riil. Masyarakat mungkin merasakan harga-harga naik lebih cepat, terutama untuk kebutuhan sehari-hari. Namun, jika dikelola baik, likuiditas ini juga bisa mendorong pertumbuhan ekonomi yang menghasilkan lebih banyak lapangan kerja.
Akses Kredit: Dengan likuiditas perbankan yang meningkat (giro bank di BI naik 30,1%), bank memiliki lebih banyak dana untuk disalurkan sebagai kredit. Ini berpotensi membuat pinjaman lebih mudah diakses dan suku bunga kredit bisa lebih kompetitif, menguntungkan masyarakat yang membutuhkan KPR, kredit kendaraan, atau modal usaha.
Tabungan dan Deposito: Sisi negatifnya, suku bunga simpanan mungkin tertekan karena bank memiliki kelebihan likuiditas. Masyarakat yang mengandalkan bunga deposito sebagai penghasilan pasif bisa merasakan return yang lebih rendah.
Dampak terhadap Bisnis
Pembiayaan Lebih Mudah: Likuiditas perbankan yang berlimpah membuat bisnis lebih mudah mengakses kredit modal kerja atau investasi. Ini positif untuk ekspansi usaha, terutama UMKM yang membutuhkan suntikan modal.
Permintaan Konsumen: Jika likuiditas mendorong pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja, daya beli masyarakat meningkat sehingga permintaan terhadap produk dan jasa bisa naik. Ini menguntungkan sektor ritel, consumer goods, dan jasa.
Risiko Kenaikan Biaya: Di sisi lain, jika inflasi meningkat, biaya operasional bisnis (bahan baku, upah, utilitas) bisa naik. Bisnis dengan margin tipis akan lebih tertekan. Perusahaan perlu mengantisipasi ini dengan strategi pricing dan efisiensi operasional.
Nilai Tukar: Likuiditas berlebih bisa melemahkan nilai tukar rupiah jika tidak ada arus masuk modal asing yang sepadan. Ini merugikan bisnis yang bergantung pada impor bahan baku, tapi menguntungkan eksportir karena produk mereka jadi lebih kompetitif di pasar global.
Strategi yang Disarankan: Bisnis sebaiknya memanfaatkan kondisi likuiditas tinggi untuk ekspansi atau refinancing utang dengan suku bunga lebih rendah, sambil tetap waspada terhadap risiko inflasi dan fluktuasi nilai tukar.