#2 Pasar Tidak Pernah Berisik, Pikiran Kitalah yang Ribut
Saya baru benar-benar memahami kalimat itu setelah cukup lama berada di pasar saham: pasar tidak pernah berisik, pikiran kitalah yang ribut. Harga naik dan turun dengan tenang, tanpa emosi, tanpa niat menakut-nakuti siapa pun. Tapi setiap kali layar merah muncul, kepala saya langsung penuh suara—takut rugi, takut ketinggalan, takut salah langkah. Padahal jika diperhatikan, yang berubah hanya angka. Yang gaduh justru interpretasi saya sendiri terhadap angka-angka itu.
Dulu, saya mengira kegelisahan datang karena pasar sedang tidak baik-baik saja. Belakangan saya sadar, kegelisahan muncul karena terlalu banyak hal saya masukkan ke dalam kepala: opini orang lain, target yang tidak realistis, dan dorongan untuk selalu bereaksi. Pasar bergerak seperti biasa, tetapi saya memaksanya menjawab kecemasan saya. Saya ingin kepastian di tempat yang memang tidak pernah menjanjikannya. Di situlah ribut itu bermula.
Perlahan saya belajar menarik jarak. Bukan menjauh dari pasar, tapi dari kebisingan pikiran sendiri. Saya mulai membatasi seberapa sering melihat harga, berhenti membaca terlalu banyak prediksi, dan kembali bertanya pada diri sendiri: apakah alasan saya membeli saham ini masih relevan? Anehnya, ketika pertanyaan itu dijawab dengan jujur, suasana langsung lebih tenang. Tidak semua penurunan perlu ditanggapi, tidak semua kenaikan perlu dirayakan.
Hari ini, pasar masih bergerak naik turun seperti dulu. Tidak lebih ramah, tidak lebih kejam. Yang berubah adalah ruang di dalam kepala saya. Saya belajar bahwa ketenangan di pasar saham bukan datang dari kondisi pasar yang ideal, melainkan dari pikiran yang lebih tertata. Ketika pikiran berhenti ribut, pasar terasa jauh lebih sunyi. Dan di kesunyian itulah, keputusan terbaik biasanya lahir.
$IHSG $BBCA $BMRI
