imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Catatan malam ini :

Dalam seminggu terakhir, IHSG mengalami tekanan yang sangat ekstrem.
Turun sekitar 18% hanya dalam hitungan hari, disertai trading halt sampai 2 kali.

Secara kecepatan dan intensitas, ini bahkan terasa lebih brutal dari fase awal COVID, dan wajar kalau banyak investor merasa bingung, lelah, bahkan kehilangan pegangan.
Yang membuat situasi ini terasa “tidak masuk akal” adalah satu hal:
ekonomi Indonesia secara makro justru sedang membaik.

Inflasi relatif terkendali, pertumbuhan ekonomi masih positif, konsumsi berjalan, dan tidak ada tanda krisis sistemik seperti saat pandemi.
Namun pasar saham justru runtuh lebih cepat dari ekspektasi siapa pun.


Di titik ini, penting untuk memisahkan emosi pasar jangka pendek dengan mekanisme institusional jangka menengah–panjang.

Dalam waktu berdekatan, pasar dibanjiri sentimen negatif:

evaluasi dan perhatian dari MSCI
pandangan Goldman Sachs
perubahan outlook Moody’s
isu tata kelola, saham gorengan, hingga pembekuan izin underwriter
Semua datang tanpa jeda, menciptakan tekanan psikologis yang sangat besar.
Akibatnya, yang terjadi bukan koreksi sehat, tapi panic flush + forced selling.

Namun jika dilihat lebih dalam,
banyak headline tersebut belum berada pada tahap keputusan final.
MSCI, misalnya, bukan lembaga yang bereaksi instan.
Prosesnya berbasis data, observasi berbulan-bulan, dan keputusan biasanya baru terlihat minimal 1 bulan setelah evaluasi, bahkan sering kali baru jelas di bulan Maret.

Selama masih ada perbaikan kebijakan (free float, transparansi data, respons regulator), peluang keputusan ekstrem masih terbuka untuk berubah.

Hal yang sama berlaku untuk Moody’s.
Yang terjadi saat ini adalah penurunan outlook, bukan penurunan rating.
Secara standar global, outlook negatif adalah fase observasi — biasanya 6 bulan — sebelum ada tindakan lanjutan, dan itu pun sangat bergantung pada respons pemerintah dan stabilitas fiskal.

Artinya, secara struktur dan institusi: ➡ Belum ada “vonis akhir” terhadap Indonesia.
Namun di sisi lain, kita juga tidak bisa menutup mata bahwa pasar bisa bereaksi jauh lebih cepat dan lebih kejam daripada lembaga pemeringkat.


Algoritma, margin call, forced sell, dan kepanikan retail membuat harga bisa jatuh lebih dulu, jauh sebelum keputusan resmi apa pun keluar.

Di sinilah dua sudut pandang ini bertemu.
Secara makro dan institusional, tekanan ini masih dalam fase evaluasi.
Secara psikologis dan teknikal, pasar sedang berada di fase kapitulasi.
Trading halt yang terjadi bukan sekadar alarm bahaya,


tapi sinyal bahwa pasar sedang mengalami reset emosi besar-besaran.
Sejarah pasar menunjukkan:
kejatuhan yang cepat dan ekstrem sering kali terjadi saat pembersihan struktural
bukan saat ekonomi runtuh, melainkan saat pasar dipaksa menjadi lebih sehat
Karena itu, fase ini memang menyakitkan.

Bukan karena Indonesia hancur, tapi karena pasar sedang dipaksa jujur.
Yang terpenting sekarang bukan soal berani atau tidak berani masuk,
melainkan tetap rasional, memahami konteks waktu, dan menjaga mental.


Market tidak selalu jatuh karena ekonomi buruk,
dan tidak selalu naik karena berita baik.
Kadang market hanya butuh satu hal untuk berhenti jatuh:
kehabisan penjual.

Semoga kita semua bisa melewati fase ini dengan kepala dingin,
karena dalam banyak siklus,
fase paling menyakitkan sering kali menjadi fase paling dekat dengan perubahan arah.

Dan semoga market ihsg pulih dengan cepat dan porto kita menghijau kembali

$BUMI $MINA $BUVA

Read more...
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy