Bagi banyak orang, cut loss terdengar seperti pengakuan kalah, seolah sebuah keputusan memalukan yang harus dihindari. Padahal dalam praktiknya, cut loss justru adalah rem darurat agar perjalanan investasi tidak berakhir terlalu cepat. Perbedaannya terasa jelas ketika kita membedakan cara pandang trader dan investor.
Trader hidup dari ritme pasar, dari momentum yang cepat berubah. Bagi mereka, memotong kerugian bukan pilihan, melainkan syarat bertahan. Menahan saham yang salah arah hanya menguras tenaga, mengunci modal, dan membebani psikologi. Kerugian kecil yang segera diselesaikan jauh lebih sehat daripada membiarkan portofolio perlahan tenggelam sambil berharap keajaiban. Investor dividen berjalan di jalur lain. Fokusnya bukan pada fluktuasi harian, melainkan pada kesehatan bisnis di balik harga.
Selama perusahaan tetap menghasilkan laba, membagi dividen dengan wajar, dan fondasi usahanya utuh, penurunan harga akibat sentimen sering kali bukan alasan untuk keluar—bahkan bisa menjadi peluang menambah posisi. Namun ketika alasan awal membeli saham itu runtuh, ketika dividen dipangkas, utang membengkak, atau model bisnisnya kehilangan relevansi, maka bertahan justru berubah menjadi kesalahan. Di titik itulah cut loss menjadi keputusan rasional, bukan emosional. Intinya, cut loss bukan soal takut rugi, melainkan soal disiplin. Trader dan investor boleh berbeda jalan, tapi keduanya sama-sama membutuhkan satu hal: keberanian mengambil keputusan dengan kepala dingin, bukan dengan harapan kosong.
$TOTO $ELSA $ADRO
