Di tengah pasar yang sedang tertekan, banyak investor justru terjebak pada ilusi paling klasik: menganggap saham murah hanya karena harganya sudah jatuh. Padahal, penurunan harga hanyalah satu potongan kecil dari cerita besar yang seharusnya dibaca utuh. Strategi seperti bottom fishing memang sah, tapi jika hanya berpegangan pada grafik yang turun tanpa melihat metrik lain—fundamental, likuiditas, hingga kualitas kepemilikan—yang muncul sering kali bukan peluang, melainkan jebakan. Terlebih pada saham-saham yang beberapa tahun terakhir menjadi primadona pasar, saham-saham besar yang kerap disebut “konglo” dan selama ini menopang indeks.
Tekanan yang mereka alami belakangan bukan tanpa sebab, melainkan konsekuensi dari dorongan transparansi free float, terutama terkait standar indeks global. Ini bukan soal sentimen atau iri hati, melainkan upaya menutup celah struktural yang, jika dibiarkan, berpotensi membentuk gelembung berbahaya. Pecahnya tekanan lebih awal justru bisa menjadi peringatan, bukan bencana.
Di fase seperti ini, pasar seakan mengingatkan kita untuk kembali ke dasar: berinvestasi dengan fondasi fundamental yang kuat, sementara urusan trading silakan bermain di wilayah teknikal dan momentum. Dan satu hal yang sering terlupakan—saham bukan pasangan hidup. Jangan jatuh cinta pada kodenya. Tujuan kita bukan setia, tapi bertumbuh.
$BBCA $ASII $BBRI
