Jujur saja saya sempat agak garuk-garuk kepala waktu melihat rilis kinerja $BMRI hari ini. Sepertinya bukan cuma saya karena kalau kita ingat-ingat lagi hampir semua analis di sekuritas besar itu sudah pasang badan bilang kalau laba bank ini bakal jeblok tahun 2025 kemarin. Konsensus pasar kan sempat meramal kalau laba mereka bakal turun sampai -8% tapi yang terjadi malah sebaliknya. Mereka malah pamer laba tumbuh 1% jadi sekitar Rp56 triliun. Mungkin buat sebagian orang angka 1% itu kecil ya tapi kalau konteksnya adalah melawan ramalan buruk pasar ini sebenarnya sebuah anomali yang menarik buat kita obrolin lebih dalam.
Satu hal yang bikin saya kepikiran terus itu soal dari mana sebenarnya pertumbuhan ini datang kalau kita mau jujur melihat jeroannya. Oke memang kredit mereka tumbuh kencang sampai 13% tapi kalau kita teliti lagi di sana ada peran besar dari program Koperasi Desa Merah Putih punya pemerintah. Kalau kita buang angka dari program itu sebenarnya pertumbuhan kreditnya cuma di kisaran 9% saja. Ini yang bikin saya merenung sendiri soal seberapa besar sih kemandirian bank yang namanya Mandiri ini kalau tanpa dorongan kebijakan negara. Ya memang tidak ada yang salah dengan itu tapi rasanya kok seperti ada bumbu penyedap tambahan yang bikin masakannya jadi terasa lebih enak dari yang seharusnya.
Lalu ada bagian yang menurut saya paling seru sekaligus bikin dahi mengernyit yaitu soal biaya pencadangan atau provisi mereka yang turun drastis. Di kuartal terakhir kemarin beban provisi mereka itu cuma Rp900 miliar saja padahal tahun sebelumnya jauh di atas itu. Alasannya karena mereka merasa standar penyaluran kredit sudah makin ketat jadi mereka berani mengubah metodologi pencadangannya. Saya jadi mikir sendiri apakah ini murni karena kualitas kredit yang makin oke atau memang sebuah langkah taktis buat menyelamatkan angka laba bersih supaya tidak terlihat merah di depan investor. Mengubah aturan main di tengah jalan itu kan selalu jadi cara paling gampang buat bikin hasil akhir kelihatan lebih cantik daripada aslinya.
Kondisi ekonomi kita sekarang pun sebenarnya tidak sedang baik-baik saja kalau mau bicara jujur tanpa jargon. Suku bunga Bank Indonesia yang masih tertahan di 4,75% itu sebenarnya bikin napas industri perbankan jadi agak sesak. Belum lagi urusan inflasi pangan yang bikin daya beli teman-teman kita di pasar atau di kantor jadi agak mampet. BMRI sendiri sudah kasih kode kalau tahun 2026 ini margin bunga mereka bakal turun dan biaya kredit bakal naik lagi ke level normal. Jadi sepertinya sulap cantik lewat pemotongan cadangan yang mereka lakukan kemarin itu mungkin tidak akan bisa dipakai lagi sebagai senjata utama di masa depan.
Saya jadi membayangkan bagaimana manajemen BMRI duduk di ruang rapat sambil melihat angka-angka ini dan mencoba meyakinkan kita semua kalau semuanya aman-aman saja. Memang efisiensi operasional mereka kelihatan membaik tapi ya itu tadi apakah efisiensi ini bakal bertahan lama kalau persaingan dana di luar sana makin berdarah-darah. Bank-bank lain juga pasti tidak akan tinggal diam melihat BMRI bisa bermanuver seperti ini. Pada akhirnya perbankan itu kan bisnis soal bagaimana kita mengelola risiko yang tidak kelihatan bukan cuma soal bagaimana kita menyusun angka supaya analis di pasar modal jadi senang dan berhenti memberikan rating jual.
Mungkin memang benar kalau di pasar saham itu persepsi seringkali lebih penting daripada realitas yang sebenarnya terjadi di lapangan. BMRI berhasil membalikkan keadaan dengan sangat lincah lewat penyesuaian sana-sini yang mungkin bagi investor ritel biasa terdengar seperti bahasa planet lain. Tapi kalau kita mau duduk tenang sebentar dan melihat polanya kita bakal sadar kalau tahun 2026 ini bakal jadi ujian yang lebih jujur buat mereka. Tanpa bantuan penyesuaian metodologi atau program khusus pemerintah kita baru akan benar-benar tahu apakah raksasa ini memang sekuat itu atau cuma sedang pandai menata meja makan supaya terlihat penuh.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
$BBRI $BBNI