$VKTR : Saham EV yang Lagi Digendong Narasi, Bukan Laba
VKTR sekarang jadi mainan baru market.
Setiap naik dikit, langsung ada yang teriak, “EV Indonesia, next Tesla”.
Masalahnya, banyak yang ngejar PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) cuma karena FOMO.
Malas baca laporan.
Malas cek laba.
Yang penting chart naik dan ada embel-embel “listrik”.
VKTR itu bukan tiba-tiba jadi dewa EV. Ini perusahaan yang lagi dijual narasinya habis-habisan.
Dulu bisnis logam dan baja.
Sekarang rebranding jadi teknologi mobilitas: bus listrik, truk listrik, pabrik CKD di Magelang, kerja sama ke mana-mana.
Secara cerita, kelihatan keren.
Lalu apa yang bikin harganya bisa terbang?
Bukan karena laba mendadak triliunan.
Pendapatan memang sudah tembus sekitar triliunan rupiah, tapi laba bersihnya masih puluhan miliar.
Itu bukan tipe laba yang wajar untuk valuasi yang sudah puluhan triliun.
Harga sahamnya?
Dari level receh sempat lari sampai 1.300-an, naik ratusan persen, dan sekarang masih nongkrong di zona tinggi.
Artinya apa?
Yang dibeli market hari ini lebih banyak ekspektasi dan mimpi, bukan kinerja matang.
Market jual cerita:
Bus listrik Transjakarta.
Truk sampah listrik untuk IKN.
Pabrik CKD EV pertama di Indonesia.
Joint venture dengan grup otomotif besar.
Bagus? Iya.
Tapi jangan bego. Bagus cerita itu beda sama bagus angka.
Coba tanya diri sendiri:
Kalau namanya bukan VKTR dan bukan embel-embel EV, masih mau bayar valuasi setinggi ini untuk laba setipis itu?
Orang ngegas VKTR karena “masa depan EV cerah”.
Pertanyaannya, cerah buat siapa dulu?
Emitennya? Pemegang saham?
Atau cuma pihak-pihak yang dapat proyek dan fee?
Market lagi doyan cari “EV local hero”.
Apa pun yang nyebut listrik, baterai, CKD, langsung dipuja.
Padahal pola kayak gini sudah sering kejadian.
Zaman batu bara, CPO, nikel, dan tema-tema lain.
Nama beda, skenario sama.
Bedanya, sejauh ini VKTR belum kena drama besar macam suspend atau kasus goreng saham.
Secara tata kelola, masih kelihatan lebih rapi dibanding saham gorengan barbar.
Tapi jangan salah bandingin.
Kalau dibanding bisnis matang yang labanya konsisten dan dividennya jelas, VKTR masih di fase cerita dijual mahal.
Yang berbahaya itu satu:
Retail masuk di pucuk karena mikir, “wah ini EV, negara dukung, nggak mungkin turun”.
Sejak kapan negara dukung otomatis bikin harga saham aman?
Kalau besok permintaan EV komersial melambat, anggaran geser, atau proyek mundur, siapa yang nanggung?
Yang nyangkut ya retail, bukan presenter webinar.
Belum lagi kalau sentimen global EV drop atau IHSG koreksi.
Saham beta tinggi kayak gini biasanya jatuhnya lebih kencang dari pasar.
Jangan pura-pura kaget kalau suatu hari candle merahnya lebih panjang dari candle hijaunya.
VKTR itu saham cerita yang sah-sah saja buat trader momentum, asal sadar diri lagi main di atas emosi dan nafsu market.
Buat investor jangka panjang?
Ini bukan saham buat yang mau tidur nyenyak sambil ngandelin dividen.
Soal sistem?
Market kita memang jago memviralkan narasi.
Literasi dan critical thinking sering ketinggalan.
Regulator jalan sesuai buku.
Yang paling sering telat sadar tetap retail yang malas baca tapi pengin ikut ramai.
Jadi kalau mau main VKTR, mainlah dengan mata melek, bukan mata berkaca-kaca karena FOMO.
Market nggak peduli kamu niat “dukung EV Indonesia” atau nggak.
Market cuma peduli satu hal: siapa beli mahal, siapa jadi exit.
Menurut mu, sekarang posisi market lagi fase jual cerita atau sudah mulai nuntut bukti?
$MBMA $INCO