Cacing, Naga, dan Seni Menjaga Harga Saham $AMOR
Inilah wajah investasi zaman now. Bukan lagi soal fundamental, laporan keuangan, atau valuasi wajar. Sekarang dunia saham lebih mirip kebun binatang mini: ada cacing-cacing setia yang nabung rutin sambil berharap jadi naga, dan ada naga sungguhan yang kenyang sejak IPO. Saham dibeli, disimpan, lalu dibiarkan… sambil tiap hari dicek, “kok makin kecil ya?”
AMOR adalah contoh klasik. Harga turun perlahan, volume tipis, chart rapi ke bawah seperti tangga darurat gedung perkantoran. Tidak ada drama, tidak ada panic sell massal. Semuanya sopan. Terlalu sopan. Seolah-olah harga memang dipelihara agar tidak jatuh terlalu dalam, tapi juga tidak naik—karena naik itu berisik, dan berisik itu berbahaya.
Lalu datanglah isu free float wajib 15%. Di sinilah seni tingkat dewa dimulai. Bagaimana caranya nambah free float tanpa bikin harga jeblok? Jawabannya: distribusi perlahan, setetes demi setetes. Seperti menyeduh kopi mahal—pelan, sabar, dan jangan sampai tumpah. Cacing beli dikit-dikit, naga jual dikit-dikit. Semua bahagia, kecuali chart.
Akhirnya kita paham, inilah investasi modern:
bukan soal cuan cepat, tapi soal ketahanan mental.
Bukan siapa yang paling pintar, tapi siapa yang paling kuat pura-pura tenang.
Dan bukan lagi bull vs bear, tapi cacing vs naga—dengan harga saham yang entah dijaga… atau memang sengaja dibiarkan tertidur panjang.
Selamat datang di pasar modal.
Tempat di mana sabar itu wajib,
dan berharap tetap gratis.
$BBCA $BBRI
1/2

