imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Mundur Bukan Karena Tanggung Jawab Moral

Jumat, 30 Januari 2026, akan tercatat dalam sejarah pasar modal Indonesia sebagai hari yang dramatis. Di pagi hari, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan pengunduran diri. Sore harinya, langkah tersebut disusul oleh Ketua Dewan Komisioner OJK. Narasi yang dibangun seragam dan terdengar begitu "ksatria": mundur sebagai bentuk tanggung jawab moral.

Namun, bagi kita yang berada di lantai bursa, yang melihat portofolio berdarah-darah sejak Rabu, 28 Januari 2026, saat IHSG dihantam bak palu godam hingga mengalami trading halt dua kali, alasan tersebut terdengar sumbang.

Mari kita bicara jujur. Ini bukan tentang moralitas yang tiba-tiba tumbuh. Ini adalah konsekuensi dari kelalaian fatal yang sudah menumpuk terlalu lama.

Surat MSCI yang Diabaikan
Peringatan keras dari MSCI yang memicu kepanikan massal minggu lalu bukanlah petir di siang bolong. Fakta menunjukkan bahwa MSCI telah berkirim surat dan memberikan warning kepada otoritas bursa kita sejak tahun 2025.

Apa respons otoritas saat itu? Dianggap angin lalu. Peringatan strategis yang menyangkut kredibilitas pasar Indonesia di mata global direspons dengan sikap menggampangkan, seolah-olah posisi kita tidak tergoyahkan. Sikap arogan dan lamban inilah yang meledak menjadi bencana koreksi masif yang kita saksikan hari ini. Ketika nasi sudah menjadi bubur, barulah kata "maaf" dan "mundur" terucap. Itu bukan tanggung jawab; itu adalah lari dari kenyataan pahit yang mereka ciptakan sendiri.

Rahasia Umum: "Main Mata" dan Regulasi Pesanan
Lebih dalam lagi, kejatuhan ini membuka kotak pandora yang selama ini menjadi rahasia umum di kalangan pelaku pasar. Patut diduga kuat, independensi regulator telah tergadaikan.

Indikasi "main mata" antara otoritas dengan emiten tertentu dan investor raksasa (Big Money) begitu kental terasa dalam produk-produk regulasi yang diterbitkan belakangan ini. Hampir semua aturan baru condong memfasilitasi kepentingan exit strategy atau manuver bandar besar, sementara investor ritel dibiarkan telanjang tanpa perlindungan.

Lihat saja penerapan aturan UMA (Unusual Market Activity) dan FCA (Full Call Auction).

• Definisi Karet: Apa indikator pasti sebuah saham masuk UMA atau dijebloskan ke papan pemantauan khusus (FCA)? Parameternya abu-abu.

• Subjektivitas: Penindakannya terasa tebang pilih. Saham A yang naik tidak wajar dibiarkan melenggang, sementara Saham B yang baru bergerak sedikit langsung digembok.

• Like and dislike: Regulasi seolah menjadi alat untuk memukul lawan bisnis dan melindungi kawan bisnis.

Ketika wasit ikut bermain atau setidaknya memihak salah satu tim, maka pertandingan itu sudah tidak lagi layak disebut kompetisi yang adil. Itu adalah pengaturan skor.

Edukasi: Integritas Regulator adalah Fundamental Pasar
Pelajaran mahal bagi pemerintah dan praktisi pasar modal: Kepercayaan (Trust) adalah mata uang termahal di bursa.

Valuasi pasar saham bukan hanya soal Earnings Per Share (EPS) atau Book Value emiten. Di dalamnya ada komponen Risk Premium. Semakin buruk tata kelola regulatornya, semakin tinggi risiko pasarnya, dan semakin enggan investor asing (seperti MSCI) menaruh uangnya.

Mundur adalah langkah awal, tapi itu tidak menyelesaikan masalah sistemik.

Harapan: Bersih-Bersih Sampai ke Akar
Kepada pemerintah dan pemangku kebijakan yang tersisa, pesan kami jelas: Jangan biarkan momen ini hanya menjadi pergantian kursi jabatan belaka. Kami menuntut Reformasi Total.

1. Hapus Anasir Jahat: Bersihkan bursa dari oknum-oknum yang menjadikan regulasi sebagai komoditas dagang.

2. Transparansi Aturan: Revisi aturan UMA, FCA, dan suspensi. Buat indikator kuantitatif yang transparan, otomatis, dan tidak bisa diintervensi manusia (non-discretionary).

3. Keadilan Ritel: Kembalikan fungsi bursa sebagai sarana investasi publik, bukan sekadar ladang pembantaian ritel oleh predator finansial yang dilindungi regulasi.

Pembenahan kali ini harus bersifat komprehensif dan tuntas. Jangan sisakan celah bagi praktik-praktik kotor masa lalu untuk tumbuh kembali. Pasar modal Indonesia layak mendapatkan pengelola yang profesional, bersih, dan punya nyali untuk menegakkan aturan, bukan pejabat yang baru "bermoral" setelah pasar hancur lebur.
random tag : $BBCA $ASII $BRPT

Read more...
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy