Psikologi of Money: Soal Mental, Bukan Sekadar Nominal
dalam buku The Psychology of Money, Morgan Housel menceritakan satu kisah menarik dari masa mudanya. Dulu, ia bekerja paruh waktu sebagai pegawai hotel di pinggir pantai, sambil kuliah. Di hotel itu ada satu tamu langganan yaitu orang super kaya raya.
Orang ini sering datang membawa banyak koin emas. Dengan enteng, koin-koin itu ia lempar ke laut, lalu menyuruh orang-orang berenang untuk mengejarnya. Sebagian koin tenggelam, hilang, tak pernah ditemukan. Baginya? Teu nanaon, biasa wae.
Ia juga gemar pesta, hidup tanpa rem. Suatu hari, ia merusak lampu hotel. Manajer menagih ganti rugi 500 dolar. Apa yang ia lakukan? Ia lempar 5.000 dolar ke tangan si manajer, seolah uang tak ada artinya.
Namun beberapa bulan kemudian, orang kaya itu menghilang. Ternyata, bisnisnya bangkrut. Kekayaannya habis. Hidup mewah yang sudah jadi kebiasaan membuatnya tak mampu beradaptasi saat penghasilan runtuh.
Inilah yang disebut hedonic treadmill:
sebuah kondisi ketika manusia terbiasa dengan standar hidup tinggi, sehingga ketika pendapatan turun, mentalnya tidak siap. Hidup jadi terasa menyiksa, padahal masalahnya bukan miskin. tapi tak bisa menurunkan gaya hidup.
pola mental seperti ini banyak sekali terjadi di negeri kita.
Belum lama ini, saat harga sawit melambung tinggi, banyak petani sawit hidup jaya. Mobil mewah diborong, perhiasan dibeli, rumah dipoles, bahkan berani utang bank demi memenuhi gaya hidup karena merasa “duit bakal terus ada”.
👉 (IDX Channel: Harga Sawit Menanjak, Petani Berlomba Borong Mobil)
Namun roda berputar. Saat harga TBS anjlok, tabungan nihil, cicilan menumpuk. Gaya hidup telanjur tinggi, penghasilan jatuh. Banyak yang stres, depresi, bahkan menebang pohon sawitnya sendiri karena putus asa.
👉 (Tempo: Harga TBS Anjlok, Petani Sawit Banyak yang Depresi)
Bandingkan dengan kisah di belahan dunia lain.
Ada seorang tukang kebersihan SPBU di Amerika yaitu pakde Ronald Read. Penghasilannya biasa saja. Tidak viral, tidak flexing. Tapi karena hidup sederhana, rajin menabung, dan investasi rutin selama puluhan tahun, ia meninggal dengan harta sekitar 100 miliar rupiah.
👉 ( Kisah Ronald Read)
Ironis, ya Baba?
Yang penghasilannya besar bangkrut.
Yang penghasilannya kecil malah kaya.
Karena kuncinya bukan di berapa besar uang masuk, tapi di bagaimana mental kita mengelolanya.
Uang yang kita terima seharusnya dibagi dengan sadar:
• mana untuk dimakan
• mana untuk ditabung
• mana untuk investasi
• mana untuk sedekah
Hidup sederhana bukan berarti miskin.
Hemat bukan berarti pelit.
Justru itu bentuk kemerdekaan mental.
Sebab orang yang paling kaya sejatinya adalah orang yang tidak tergantung pada gaya hidup mahal untuk merasa bahagia.
Wilujeng weekday, pakde bude sadayana.
Mugi-mugi Allah ngaberkahan rezeki urang sadaya,
cukup, berkah, jeung nenangkeun hate. 🤲
$ITMG $BSSR $ADRO
