Jujur saja melihat angka laba bersih $BBNI tahun 2025 rasanya seperti melihat teman lama yang biasanya lari kencang tiba-tiba memilih jalan santai sambil memanggul beban berat di punggungnya. Laba dua puluh triliun rupiah itu memang masih masuk akal tapi kalau turun 7% secara tahunan di saat bank-bank besar lain masih sibuk pamer pertumbuhan rasanya tetap ada yang mengganjal. Padahal kalau mau bicara jujur performa operasional mereka sebelum dipotong cadangan kerugian itu sebenarnya sangat bertenaga. Masalahnya manajemen tiba-tiba jadi sangat rajin menabung untuk risiko alias melakukan provisi besar-besaran di akhir tahun. Katanya ini demi bersikap hati-hati karena ada bencana di Sumatra sampai urusan geopolitik global yang tidak menentu. Tapi saya curiga ada sesuatu yang lebih dari sekadar sikap hati-hati yang normatif itu.
Yang membuat saya paling termenung adalah angka pertumbuhan kredit yang melesat sampai 16%. Angka ini terlihat sangat seksi di atas kertas dan jauh di atas target industri namun jika kita bedah lebih dalam ada nama PT Agrinas Pangan Nusantara yang muncul sebagai aktor utama. Bayangkan ada satu entitas yang disuntik dana sampai puluhan triliun rupiah untuk urusan Koperasi Desa Merah Putih. Tanpa pinjaman jumbo ini pertumbuhan kredit BBNI sebenarnya biasa-biasa saja di level 10%. Di sini saya mulai merasa wajah BBNI sebagai bank komersial yang sedang bertransformasi jadi lebih lincah mendadak berubah kembali menjadi wajah bank pembangunan yang sangat patuh pada penugasan negara.
Persoalannya bukan cuma soal besarnya pinjaman tapi soal hitung-hitungan di balik layarnya. Pinjaman ke Agrinas ini cuma dikasih bunga sekitar 6% padahal rata-rata margin bunga bersih bank biasanya jauh di atas itu. Dengan biaya dana yang masih terasa mahal meski Bank Indonesia sudah mulai menurunkan suku bunga ke level 4,75% margin tipis ini tentu jadi beban tersendiri bagi profitabilitas. Kita seperti sedang melihat BBNI yang dipaksa membagi kue miliknya demi sebuah program besar yang manfaat ekonominya mungkin baru terasa bertahun-tahun lagi. Itu pun kalau programnya jalan mulus tanpa hambatan birokrasi yang biasanya cukup merepotkan.
Kondisi ekonomi tahun 2026 ini memang penuh harapan dengan inflasi yang lebih terjaga tapi daya beli masyarakat di sektor ritel sebenarnya masih terasa agak hambar. Inilah mungkin alasan kenapa manajemen BBNI memilih untuk mempertebal cadangan risiko sampai melampaui target awal mereka. Mereka tahu betul bahwa menyalurkan kredit sebesar itu ke satu sektor yang sangat bergantung pada kebijakan pemerintah punya risiko konsentrasi yang tidak main-main. Saya melihat ada semacam ketegangan antara keinginan untuk tetap terlihat mengkilap di mata investor saham dan kewajiban moral untuk menyukseskan agenda ketahanan pangan nasional.
Jadi, berinvestasi di BBNI saat ini bukan lagi sekadar soal menghitung rasio keuangan yang kaku tapi soal seberapa besar kepercayaan kita pada efektivitas program pemerintah tersebut. Jika Agrinas dan koperasi desa ini benar-benar bisa menggerakkan ekonomi akar rumput maka BBNI akan terlihat seperti pahlawan yang punya visi jauh ke depan. Namun jika yang terjadi adalah sebaliknya maka penurunan laba tahun ini mungkin baru awal dari sebuah perjalanan panjang yang melelahkan. Saya sendiri lebih suka bersikap skeptis yang sehat sambil terus memperhatikan apakah strategi jor-joran di kredit penugasan ini benar-benar sebanding dengan risiko yang mereka pikul di pundak mereka sendiri.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
$BBRI $BMRI