Skandal Perak: Saat "Kertas" Tak Lagi Berharga dan China Mengunci Fisik Dunia
Kekacauan di pasar keuangan global saat ini bukanlah sebuah kebetulan. Semuanya bermula ketika bank sentral Amerika (The Fed) menyuntikkan dana darurat sebesar
$3 miliar ke bursa berjangka (COMEX).
Suntikan ini dilakukan untuk menyelamatkan institusi besar yang terjepit di posisi jual. Untuk menutupi kepanikan, mereka menggunakan isu pencalonan Ketua Fed baru sebagai kambing hitam. Sang calon sengaja dicitrakan sangat keras dalam kebijakan moneter (hawkish) untuk memberikan alasan mengapa pasar berguncang, padahal itu hanyalah pengalihan isu dari krisis likuiditas yang sebenarnya.
China, yang menyadari permainan ini, segera mengambil langkah agresif di awal Januari 2026. Mereka menuntut pengiriman fisik perak (physical delivery) atas kontrak-kontrak yang mereka miliki. Namun, sebuah rahasia besar terbongkar: COMEX gagal mengirimkan barang tersebut karena jumlah perak di gudang mereka telah menipis ke level kritis.
Data Cadangan Perak COMEX:
Sebagai bukti, data inventori perak di kategori Registered (perak yang siap dikirim) di gudang COMEX dilaporkan telah anjlok hingga di bawah 30 juta ounce—angka terendah dalam beberapa dekade terakhir.
Sementara itu, jumlah kontrak "kertas" yang beredar mencapai ratusan kali lipat dari jumlah fisik yang tersedia.
Marah karena permintaan fisiknya dikhianati, China secara resmi menyetop ekspor perak. Langkah ini langsung memicu rentetan kejadian:
Kelangkaan Massal & Manipulasi
Persentase Pinjaman (Leverage):
Perak fisik menghilang dari pasar. Institusi yang meminjam dana berkali-kali lipat (leverage) untuk bertaruh di harga rendah terjepit dan dipaksa menjual aset mereka, yang kemudian merembet pada aksi jual emas secara besar-besaran.
Pencalonan Ketua Fed Sebagai Tameng: Sementara publik sibuk berdebat soal kebijakan Ketua Fed yang baru, di balik layar terjadi kehancuran sistemik karena harga di layar monitor sudah tidak relevan lagi dengan kenyataan.
Kesenjangan Harga (The Real Price Gap):
Inilah alasan mengapa hari ini kita melihat fenomena aneh: harga emas dan perak dalam kontrak kertas di COMEX terlihat turun atau stagnan, sementara harga fisik di toko emas atau dealer dunia jauh lebih mahal dan barangnya sulit ditemukan.
Kesimpulan:
Perang finansial ini telah mencapai titik di mana "kertas" tidak lagi diakui sebagai nilai yang sah. Ketika sistem keuangan tidak lagi mampu memberikan barang fisik yang dijanjikan, kepercayaan akan runtuh.
Sejarah mencatat bahwa ketika perang ekonomi dan perebutan sumber daya fisik (seperti perak dan emas) sudah mencapai level ini, risikonya tidak lagi hanya di atas kertas—ketegangan ini sangat rentan memicu perang fisik antar kekuatan besar dunia.
$ANTM $ARCI $PSAB