Apa yang perlu dilakukan ketika saham kita turun?
Melihat harga saham kita turun memang terasa tidak enak. Namun itu adalah fase yang pasti kita lalui saat berinvestasi saham.
Salah satu insting pertahanan diri yang muncul adalah keinginan untuk menjualnya.
Namun, terkadang situasinya tidak sesederhana itu.
Bagi saya, menjual saham sering kali lebih sulit daripada membelinya. Kesulitannya biasanya disebabkan oleh faktor psikologis, seperti:
1. “Sudah capek-capek analisis, masa dilepas gitu aja?” --> sunk cost fallacy
2. “Masa saya salah?” --> ego yang berbicara
3. “Sayang dijual, sudah di-hold lama.” --> loyalitas tanpa dasar yang jelas
Masalahnya, pasar tidak peduli pada semua itu.
Market tidak tahu berapa lama kita menganalisis, seberapa yakin kita, atau seberapa besar rasa sayang kita pada suatu saham.
Jujur saja, kesabaran dan keras kepala itu terkadang batasnya tipis.
Tapi yang saya percaya, setiap keputusan investasi harus berdasarkan data dan fakta.
Sebisa mungkin jangan melibatkan emosi.
Emosi jarang sekali membantu kita membuat keputusan yang benar di market. Dan Ini juga berlaku saat kita menjual saham.
Jadi, kapan saham layak dijual?
Berikut beberapa kondisi rasional yang patut dipertimbangkan.
1. Saat kita menyadari telah membuat kesalahan
- Asumsi yang salah?
- Atau mungkin salah hitung?
- Bisa jadi juga kita salah menilai manajemen dan bisnisnya.
Jika tesis awal terbukti salah, mempertahankan saham hanya demi menjaga ego tidak ada gunanya.
Note: Ini kalau ternyata faktanya lebih buruk daripada perkiraan kita. Kalau ternyata lebih bagus, ya itu namanya blessing in disguise 😀
2. Ketika bisnisnya memburuk secara permanen
Yang paling sering terjadi, bisnisnya sudah tidak relevan lagi. Pada kasus lain. bisnisnya terkena disrupsi dan kehabisan ide untuk berinovasi. Bisa jadi juga bisnisnya rontok karena keputusan bisnis yang salah.
Jika penurunannya bersifat sementara, mungkin masih bisa kita hold. Namun jika kerusakannya permanen dan tidak terlihat jalan keluar yang realistis, menjualnya menjadi opsi yang rasional.
3. Saat Harga Sudah Sangat Overvalued
Kalau sedikit overvalued mungkin masih bisa ditoleransi. Tapi ketika harga sudah jauh melampaui realitas fundamental, risiko dan imbal hasil mulai tidak seimbang.
Di titik ini, biasanya investor merasa sayang untuk menjual. Padahal mungkin risiko sudah tidak lagi sepadan.
4. Ketika ada peluang lain yang lebih baik
Kita bisa menukar dengan saham lain yang memiliki risk-reward lebih menarik.
Apakah ada saham lain yang kualitasnya sama atau lebih baik dan dijual lebih murah?
Kalau iya, pertimbangkan untuk menukar ke saham tersebut.
Kalau tidak ada pilihan lain, boleh tetap hold selama bisnisnya masih prospektif.
Bisa juga kita jual dulu untuk menambah cadangan cash.
Prinsipnya, kita harus menjaga efektivitas alokasi modal.
5. Saat Ada kebutuhan pribadi yang mendesak
Ini skenario yang bikin nyesek, terutama jika terjadi saat harga sedang turun.
Ya mau gimana lagi kalau memang kebutuhannya tidak bisa ditunda.
Cukup beruntung jika masih ada cash dalam portfolio. Pakai itu dulu saja.
Next time, sebisa mungkin gunakan uang dingin agar situasi seperti ini tidak terulang.
Berinvestasi jangka panjang bukan berarti kita tidak pernah menjual saham. Justru sebaliknya, review rutin, entah itu bulanan atau kuartalan adalah bagian penting dari proses.
Tesis investasi bisa berubah, dan peluang baru bisa muncul kapan saja.
Yang paling penting, jangan menjual karena panik atau takut.
Kalau mau survive di market, kita harus bisa tetap berpikir dengan jernih saat di market sedang banyak drama.
Selalu update tesis investasi kita dengan data dan fakta terbaru. Sandarkan keputusan kita pada hasil analisis yang objektif.
Semoga kita semua bisa menjadi investor yang lebih baik. 🙏
$IHSG