Setiap kali market lagi rusak parah, selalu muncul konten yang bunyinya mirip: “ada analisis rahasia dari fund manager asing, bilang kenaikan kemarin cuma dead cat bounce, siap-siap red Monday.” Kedengarannya keren, berasa dapet bisikan dalam room VIP, padahal yang lo lihat itu udah versi rekaman ulang.
Realitanya, crash IHSG kemarin tuh udah didokumentasi habis-habisan: indeks sempat ambruk lebih dari 7%, semua sektor memerah, asing net sell puluhan triliun, dan ada masalah kepercayaan gara-gara isu transparansi serta drama MSCI. Habis itu, Jumat muncul pantulan +1,18% yang banyak orang labeli “rebound harapan baru”. Konten macam di screenshot itu biasanya nongol setelah semua ini kejadian, lalu dijual sebagai “info bocor”. Padahal, big money udah punya rencana jauh sebelum lo liat videonya di explore.
Masalah utamanya bukan benar–salah isi analisis, tapi timing lo sebagai ritel. Lo dapet konten itu belakangan, seringnya malam atau keesokan harinya, sementara distribusi atau akumulasi serius udah terjadi di jam market. Jadi ketika lo baca kalimat “naik kemarin cuma dead cat bounce buat mancing ritel”, jangan langsung mikir lo lagi dapet early warning. Bisa jadi lo justru orang yang diposisikan jadi bahan bakar narasi itu.
Analogi gampangnya gini: lo dateng ke pesta jam 11 malam, denger gosip “abis ini bakal ada kejutan besar”, terus lo semangat nunggu. Padahal kembang api dan kejutan udah ditembak jam 8, waktu lo masih di jalan. Yang lo dengar sekarang cuma cerita ulang biar pesta keliatan masih seru.
Jadi gimana nyikapinnya?
Pertama, setiap kali ada postingan dramatis soal “dead cat bounce”, “red Monday”, atau “asing siap guyur”, berhenti dulu lima menit. Buka chart, cek level support–resistance, liat foreign flow hari itu, dan bandingin sama volume beneran. Kalau datanya udah nunjukin pergerakan terjadi kemarin-kemarin, berarti info yang lo pegang sekarang itu lagging, bukan senjata rahasia.
Kedua, jangan jadikan konten beginian sebagai alasan instan buat full serok atau full cutloss. Pakai sebagai bahan pertanyaan, bukan jawaban: “kalau benar asing lagi distribusi, jejaknya di mana? Di saham apa? Volume-nya gimana?” Begitu lo biasain diri nanya kayak gitu, lo pelan-pelan keluar dari posisi sebagai korban narasi.
Hard truth‑nya: ritel hampir selalu dapat info terlambat. Yang bisa lo kontrol cuma satu: jangan jadi yang paling terakhir bereaksi. Biarin mereka yang hobi mainkan kata-kata tentang “bocoran fund manager”, lo fokus aja ke price, volume, dan risk management. Market nggak peduli siapa yang paling update konten, market cuma bayar yang paling disiplin jaga posisi.
$IHSG $RATU $ADRO
