imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$GOTO vs $BUKA: Apakah Sama - sama Sudah Bosan dengan Bisnis E-commerce? ๐Ÿค”

Lanjutan dari postingan sebelumnya di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345

GOTO dan BUKA, dua-duanya lahir dari e-commerce, tapi yang menarik justru saat mereka berhenti jadi e-commerce. Marketplace itu gampang jadi komoditas, menangnya bukan lagi soal logo, tapi siapa yang punya mesin laba operasional dan siapa yang cuma punya kas. GOTO dan BUKA sama-sama memilih mundur dari arena paling berdarah, lalu pindah ke medan yang mereka anggap lebih bisa dimonopoli. Hasilnya, investor sekarang melihat dua entitas yang mirip asal-usulnya, tapi beda DNA bisnisnya. Kalau investor masih menilai mereka pakai kacamata e-commerce murni, sinyal paling penting bakal kelewat. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Di GOTO, titik belok besar terjadi ketika Tokopedia tidak lagi dikonsolidasikan sejak Januari 2024 dan posisinya menjadi entitas asosiasi dengan kepemilikan 24,99%. Dampaknya terasa jelas di angka 9M 2025, segmen e-commerce mengecil, lalu fokus uang dan tenaga berpindah ke layanan on-demand dan fintech.

BUKA juga belok, tapi arah beloknya beda. Pusat gravitasi pindah ke Gaming yang menjadi tulang punggung pendapatan, sementara O2O yang dulu menjadi cerita utama justru menyusut tajam. Jadi bukan sekadar ganti produk, melainkan ganti mesin pendapatan, ganti struktur biaya, dan ganti cara membaca kualitas laba.

Kalau lihat ukuran pendapatan 9M 2025, GOTO jauh lebih besar Rp13,29 triliun dibanding BUKA Rp4,72 triliun, sekitar 2,8x. Dari aset, GOTO Rp42,11 triliun melawan BUKA Rp26,14 triliun, sekitar 1,6x. Ini memberi konteks, GOTO bermain di volume besar, BUKA bermain dengan organisasi ramping dan lini yang lebih sempit. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Di level laba bersih, keduanya seperti hidup di dunia berbeda. GOTO masih rugi bersih Rp996,97 miliar untuk 9M 2025. BUKA mencetak laba bersih Rp2,91 triliun, tapi motor utamanya adalah laba nilai investasi Rp2,32 triliun, jadi investor wajib memisahkan mana laba karena operasional, mana laba karena portofolio investasi.

Mesin pendapatan GOTO lebih berlapis dan terlihat urutannya. On-demand menyumbang Rp9,03 triliun atau 67,9% dari pendapatan neto, tumbuh 15,7%, dan sudah untung operasional Rp645,73 miliar dengan margin 7,1%. Fintech menyumbang Rp3,68 triliun atau sekitar 27,6%, tumbuh 85,3%, tapi masih rugi operasional Rp346,68 miliar. E-commerce tinggal Rp627,49 miliar atau sekitar 4,7%, turun 46,1%, namun margin segmennya sangat tinggi 68,3% dengan laba segmen Rp428,67 miliar karena sifatnya makin fee-based.

Di BUKA, mesin pendapatan lebih terkonsentrasi. Gaming menyumbang Rp3,85 triliun atau 81,4% dan tumbuh 215%, tapi hasil segmennya hanya Rp16,60 miliar dengan margin 0,43%, tipis sekali untuk mesin utama. O2O tinggal Rp618,85 miliar dan turun 63% dengan rugi segmen Rp45,74 miliar. Retail Rp280,37 miliar dan investasi Rp44,72 miliar, keduanya juga rugi segmen. Artinya BUKA berhasil menemukan sumber top line baru, tapi belum berhasil mengubahnya jadi profit segmen yang tebal. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Kalau bicara kualitas profit segmen, GOTO punya satu kuda penarik yang sudah jadi, yaitu on-demand yang sudah positif. BUKA justru sedang menghadapi paradoks, pendapatan terbesar datang dari Gaming, tapi yang tertinggal ke bawah sangat kecil. Ini biasanya berarti ada tekanan biaya, struktur take rate, atau sifat bisnisnya memang volume besar margin tipis yang butuh disiplin biaya ekstrem supaya kelihatan hasilnya.

Efisiensi tenaga kerja mempertegas perbedaan karakter. GOTO punya 3.592 karyawan, BUKA 543 karyawan. Revenue per karyawan per bulan sekitar Rp411,2 juta di GOTO, sedangkan BUKA sekitar Rp967,1 juta, jauh lebih tinggi karena basis karyawannya kecil dan pendapatannya terkonsentrasi di penjualan produk virtual. Namun COGS per karyawan per bulan di BUKA sekitar Rp890,1 juta, jauh di atas GOTO sekitar Rp174,2 juta, jadi angka produktivitas BUKA itu datang bersama beban pokok yang juga berat. Di sisi SG dan A, GOTO lebih tinggi sekitar Rp155,9 juta per karyawan per bulan dibanding BUKA sekitar Rp104,5 juta, masuk akal karena operasi on-demand butuh organisasi lapangan, compliance, dan eksekusi yang kompleks. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Arah penyesuaian organisasi juga berlawanan. GOTO menambah karyawan dari 3.352 menjadi 3.592 atau naik 7,1%, sinyal mereka masih membangun kapasitas untuk memperbesar mesin layanan dan fintech. BUKA memotong dari 1.018 menjadi 543 atau turun 46,6%, sinyal restrukturisasi agresif dan fokus ke lini yang dianggap paling tahan. Investor biasanya melihat ini sebagai dua strategi, GOTO mengejar operating leverage di jaringan layanan, BUKA mengejar survivability dan efisiensi ekstrem.

Keduanya memang sama-sama meninggalkan e-commerce, tapi mereka mendarat di dua dunia valuasi yang berbeda. GOTO sedang membayar mahal untuk membangun mesin yang bisa berulang dan akhirnya besar, dengan satu segmen sudah terbukti positif dan satu segmen tumbuh sangat cepat tapi belum profit. BUKA terlihat seperti kombinasi distributor produk virtual margin tipis dan holding investasi, sehingga laba bisa terlihat cantik saat investasi untung, tapi segmen operasional inti harus membuktikan dirinya. Investor yang mencari narasi turnaround operasional biasanya lebih nyambung ke GOTO, investor yang mencari opsi kas dan hasil investasi biasanya lebih nyangkut ke BUKA, tapi dua-duanya tidak bisa dinilai pakai logika marketplace lama. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

๐Ÿ›’ Sama-sama berangkat dari e-commerce lalu mengecilkan porsi marketplace
๐Ÿง  Sama-sama menggeser fokus ke lini yang dianggap lebih defensible dibanding perang diskon
๐Ÿงฏ Sama-sama dipaksa pasar untuk lebih disiplin biaya dan kualitas pendapatan

๐Ÿ›ต GOTO sekarang lebih mirip operator layanan dan fintech
๐Ÿšš On-demand Rp9,03 triliun, 67,9%, tumbuh 15,7%, laba segmen Rp645,73 miliar, margin 7,1%
๐Ÿ’ณ Fintech Rp3,68 triliun, sekitar 27,6%, tumbuh 85,3%, rugi segmen Rp346,68 miliar
๐Ÿงพ E-commerce Rp627,49 miliar, sekitar 4,7%, turun 46,1%, laba segmen Rp428,67 miliar, margin 68,3%
๐Ÿข Entitas kunci on-demand PT GO-JEK Indonesia, Go-Jek Singapore, PT Antar Makanan Anak Bangsa
๐Ÿง  Entitas kunci fintech GoPay lewat PT Dompet Anak Bangsa, Midtrans, Moka, dan entitas pembiayaan terkait

๐ŸŽฎ BUKA sekarang lebih mirip mesin top-up dan holding investasi
๐Ÿ•น๏ธ Gaming Rp3,85 triliun, 81,4%, tumbuh 215%, laba segmen Rp16,60 miliar, margin 0,43%
๐Ÿง‘โ€๐Ÿคโ€๐Ÿง‘ O2O Rp618,85 miliar, turun 63%, rugi segmen Rp45,74 miliar
๐Ÿช Retail Rp280,37 miliar, rugi segmen
๐Ÿ’ผ Investasi Rp44,72 miliar, rugi segmen
๐Ÿงฉ Entitas kunci gaming Buka Korea, Five Jack, Game Multi Realms
๐Ÿงท Entitas O2O PT Buka Mitra Indonesia, PT Bina Nusa Indonesia, Smart Sari, PT Gerakan Digitalisasi Indonesia

๐Ÿ“ˆ Pendapatan 9M 2025 GOTO Rp13,29 triliun vs BUKA Rp4,72 triliun sekitar 2,8x

๐Ÿงฑ Aset GOTO Rp42,11 triliun vs BUKA Rp26,14 triliun sekitar 1,6x

๐Ÿ‘ฅ Karyawan GOTO 3.592 naik 7,1% vs BUKA 543 turun 46,6%

โš–๏ธ Laba bersih GOTO rugi Rp996,97 miliar vs BUKA laba Rp2,91 triliun yang ditopang laba investasi Rp2,32 triliun

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
$EMTK

Read more...

1/10

testestestestestestestestestes
2013-2026 Stockbit ยทAboutยทContactHelpยทHouse RulesยทTermsยทPrivacy