Saya termasuk yang percaya Indonesia sangat sangat kecil sekali kemungkinannya turun ke frontier market. Alasannya:
1. Reaksi pemerintah dan regulator yang serius berbenah menerima masukan dan menyesuaikan permintaan MSCI.
2. Kita termasuk G20 yang GDPnya tidak bisa dipandang sebelah mata, apalagi diproyeksikan akan jadi top 5 GDP, mereka tentu mau kue nya, apalagi kecil kemungkinan sebuah indeks tidak proportional benchmarking nya, ada big market tapi masuk bobotnya sedikit.
3. Adani Group di India (yang seperti Pak PP) pernah kena short Firma Riset Investasi Hidenburg Research dan bahkan di reportnya bukan cuman transaksi semu tapi juga dituduh ada kongkalikong dengan regulator bursa disana, itupun cuman diblacklist sementara dan tidak pernah diancam diturunkan ke frontier market, sekarang pun sudah lepas dari blacklist masih masuk di indeks MSCI.
4. Kalau kita turun jadi frontier market, bukan kita saja yang rugi, passive fund yang benchmark EIDO yang sdh terlanjur masuk pun harus terpaksa keluar di harga yang jauh dibawah nantinya karena outflow yang begitu besar sekaligus.
5. Saham-saham bluechip malah diserok big boys asing seperti AK BK KZ YU di saat rating negara kita diturunkan jadi neutral, harusnya mereka keluar tapi malah masuk.
Jadi bisa jadi lebih ke arah gertakan saja, ingin serok bawah dan ingin mengubah beberapa kebijakan di bursa kita yang mereka kurang cocok seperti suspend atau FCA yang membuat likuiditas tiba-tiba hilang dan freefloat minimal yang masih kecil 7,5%. Belajar dari salah satu alasan Vietnam masuk frontier juga karena ada batasan settlement yang lebih lama dan Foreign Ownership Limit atau FOL. MSCI masih sama tidak melihat rasio keuangan, hanya melihat liquidity (market cap, ATVR dan FFMC) dan accessibility (no foreign ownership restriction or limitation) .
$BBRI $BUVA $PTRO