PHOTOVOLTAIC GLASS
Selama ini, pemahaman kita salah terhadap solar panel. Komposisi terbesar solar panel adalah kaca, bukan sel surya.
Saya sebenarnya ingin menulis dua artikel berbeda. Namun setelah dipikir-pikir, sepertinya akan lebih efisien jika diringkas dalam satu postingan.
Pertama, saya punya kabar bagus untuk industri pasir silika. Saya tag saham terkait $KLAS $MITI $LAPD
Kabar positifnya adalah mulai 15 Januari 2026 kemarin, furnace solar glass milik Xinyi Glass resmi beroperasi. Kabar ini diumumkan langsung oleh website resmi xinyi solar di china, anda bisa baca sendiri beritanya di sini https://cutt.ly/mtvef6l4 (gambar)
Dari artikel tersebut saya quote “On January 15, 2026, the ignition ceremony for Xinyi Solar's first photovoltaic glass furnace in Indonesia…..The line achieves a daily melting capacity of 1,200 tonnes, with an annual output exceeding 360,000 tonnes.”
Di situ tertulis kapasitas harian 1200 ton dan kapasitas tahunan melebihi 360 ribu ton. Karena komposisi pasir silika mencakup 70-75% dari bahan baku, maka dengan beroperasinya pabrik solar glass atau PV glass ini akan ada permintaan tambahan sekitar 300 ribu ton pasir silika.
300 ribu lumayan lah, tinggal kita lihat siapa aja yang kecipratan orderan. Karena MITI dan LAPD belum operasional, maka berharapnya KLAS ikut kecipratan hehe. Lagipula KLAS sudah jualan ke Xinyi dengan jumlah relatif besar, jadi siapa tahu ada tambahan orderan.
Ini juga mungkin bisa jadi penjelasan kenapa 3 kapal punya KLAS, yakni TB Semesta 6, TB Semesta 7, dan TB Sakti 10, terdeteksi berada di perairan Gresik secara bergantian.
Xinyi sebenarnya sejak awal menegaskan alasan membangun pabrik di Indonesia adalah karena pasir bangka belitung yang melimpah dan mempunyai kadar silika tinggi. Saya menemukan artikel dari katadata tahun 2023, yang secara jelas menyebutkan pasir bangka dan belitung (gambar)
——
SOLAR PANEL ADALAH KACA
Saya dulu pernah menulis mengenai hilirisasi silika menjadi polysilicon, bahan aktif sel surya. Setelah mempelajari kembali, ternyata bukan hilirisasi silika ke arah industri polysilicon ini yang menjadi nilai tambah utama, melainkan hilirisasi ke arah industri kaca.
Lho kok bisa?
Karena teman-teman, setelah saya kulik lebih jauh, solar panel hanya terdiri dari 3-6% solar cell. Komoposisi terbesar panel surya adalah Photovoltaic Glass 75%, aluminium frame 10-15%, dan sisanya komposisi lebih kecil seperti kabel, encapsulan, dan junction box. (lihat gambar)
Jadi misalkan ada pembuatan 1 juta ton solar panel, maka 75% alias 750 ribu ton ini berupa kaca photovoltaic. Hanya 3% alias 30 ribu ton yang berupa sel surya.
Karena 70% bahan baku kaca photovoltaic adalah pasir silika, maka jumlah pasir silika yang dibutuhkan 525 ribu ton. Sementara pasir silika yang digunakan dalam bentuk sel surya hanya 30 ribu ton.
Memang benar bahwa harga pasir silika untuk sel surya lebih mahal, yakni sekitar USD 150-300 per ton dibandingkan harga rata-rata pasir silika untuk photovoltaic sebesar USD 60-120 per ton. Namun volume pasir untuk PV yang lebih besar 17 kali lipat daripada pasir untuk sel surya membuat perbedaan harga menjadi tidak bermakna.
Btw, harga pasir untuk PV glass dan float glass berbeda ya. PV Glass cenderung lebih mahal daripada float glass. Harga rata-rata pasir untuk float glass sendiri saya ini ada di USD 40-60 per ton
——
INDUSTRI PASIR SILIKA SEDANG BOOMING
Mungkin, saat ini kita sedang berada di tengah era booming industri Silika.
Dalam jangka waktu 3 tahun terakhir, banyak industri kaca dibangun di Indonesia. Mulai dari yang sudah beroperasi seperti Xinyi Glass di Gresik, KCC Glass di Batang, dan SEG Solar di Kendal, hingga yang masih berupa perencanaan seperti Xinyi Glass di Rempang Eco City serta PT Quantum Luminous di Pulau Galang. KCC dan Xinyi bahkan membangun dua jenis kaca, yakni PV dan float glass.
Terkhusus Xinyi, mereka invest besar karena setelah Gresik, mereka akan melakukan hal yang sama di Pulau Rempang, Batam.
Belum lagi jika kulik lebih lanjut, ada nama-nama produsen industri kaca lebih kecil yang juga sedang membangun pabrik seperti Seruni Glass, Magi Glass, Bintang Jinjing, dan Sanno Abadi Cemerlang..
Industri kaca Indonesia tidak hanya berkembang di float glass saja. Dari pengumuman Xinyi di atas kita tahu bahwa industri PV glass juga mengeliat. Kaca jenis lain seperti kaca industri, otomotif, dan elektronik juga mulai diproduksi di Indoneia.
Dan jangan lupa, setiap ada informasi terbaru mengenai pembangunan solar panel, maka ini adalah kaca.
—-
Kesimpulan :
Dengan kenaikan demand setinggi ini, wajar saja MITI, LAPD, CUAN, dan KKGI masuk di industri silika. Walaupun saat ini yang operasional baru KLAS. hehe.
Cheers.
1/4



