$CITA cita itu belum terpengaruh oleh harga aluminium, Krn cita belum jual aluminium (yang dijual cita adalah bauksit). Bauksit nya di jual ke entitas asosiasi nya yaitu WHW (Kepemilikan cita 30%). WHW ini adalah smelter alumina yang menghasilkan Alumina sebesar 2 juta ton per tahun. Dimana, harga alumina itu jauh lebih murah dari aluminium, alumina harganya 360 an USD, sementara ALUMINIUM Udh diatas 3 RB USD.
Produksi bauksit cita menurun di tahun 2024 (dibanding tahun 2023 kebawah), karena larangan ekspor bauksit. Tahun 2025, (guidance manajemen) produksi bauksit akan sama dengan produksi 2024 sekitar 4,7 juta ton, dan akan dijual semua ke WHW. Ini masuk akal karena untuk menghasilkan 2 juta ton alumina, di butuhkan 4 juta ton bauksit (CMIW). Dari publik expose, belum ada rencana peningkatan produksi bauksit ataupun alumina, sehingga perlu cari cara untuk meningkatkan laba.
Manajemen CITA kreatif, untuk meningkatkan laba, cita punya strategi lain (bukan dengan meningkatkan produksi bauksit atau alumina) cita ikut patungan membuat Smelter Aluminium, smelter nya ADMR, dengan kepemilikan 12,5%. Dengan proyeksi produksi Aluminium 500 RB ton tahun 2026 dari ADMR, cita akan dapat tambahan pendapatan dr bagiannya (12.5% x 500 RB Ton). Bukan itu saja, CITA ikut juga dalam proyek PLTU yg akan digunakan untuk area smelter tersebut, denga patungan sebesar 16%, target operasi 2026 sama dengan smelter aluminium.
Untuk laba bersih 2026, masih belum ada gambaran, karen belum ada rilis resmi tentang produksi smelter aluminium, dan pendapatan dr PLTU tersebut. Namun ini bisa menjadi langkah bagus, setidaknya ada 2 kemungkinan benefit, yaitu kemungkinan kontrak utk penjualan alumina semakin pasti (alumina di proses di Smelter untuk menjadi aluminium), krn bisa saja WHW akan jadi pemasok untuk smelter aluminium tersebut, ke dua, akan ada tambahan laba entitas asosiasi dari 2 entitas baru tersebut.
Sebagai pembanding, tahun 2025, dr WHW saja, per 9M 2025, laba entitas asosiasi ini sdh mencapai 1,5 T. Jumlah ini bisa naik turun di tahun tahun berikutnya tergantung harga Alumina. Lonjakan laba di tahun 2025 ini, disamping karena kapasitas sdh maksimal, juga di topang harga Alumina yg sempet ATH akhir 2024, di kisaran 800 an USD, mulai turun perlahan dan sekarang mulai normal ke kisaran 360 an. Jadi kemungkinan laba FY 2025 tidak akan sampai 2 kali lipat dr laba FY 2024.
Menarik di tunggu, apakah strategi ini bisa meningkatkan laba bersih perusahaan untuk tahun tahun mendatang, dimana produksi aluminium smelter juga akan di tingkatkan ke 1,5 juta ton hingga 2030. Good luck cita
Maaf belepotan
$ADMR $ADRO