Teori “Mungkin”
Oleh Morgan Housel
Isaac Newton adalah seorang jenius ilmiah pada masa ketika para ilmuwan sering dicap sebagai penganut ajaran sesat.
Ia memiliki satu penangkal atas risiko tersebut: ia harus membuktikan teorinya tanpa menyisakan sedikit pun keraguan, yang menuntut ketelitian nyaris obsesif.
Dalam biografinya tentang Newton, Mitch Stokes menulis bahwa Newton mampu melakukan pengukuran dengan tingkat presisi sedemikian rupa sehingga hampir tidak ada filsuf yang menuduhnya memalsukan hasil penelitiannya. Hanya dengan menggunakan kompas dan penglihatannya, Newton dengan sabar melacak sumber kesalahan pengukuran yang bahkan lebih kecil dari satu per seratus inci—sesuatu yang, pada abad ke-17, tidak akan diperhatikan oleh siapa pun meskipun kesalahannya dua kali lebih besar.
Karya Newton bertumpu pada gagasan bahwa dunia fisik bekerja dengan cara yang dapat diukur, dan bahwa selama kita mengukur dengan cukup teliti, kita dapat memahami apa pun tentang segala hal. Newton begitu unggul dalam pendekatan ini sehingga seluruh bidang tersebut kemudian dinamai berdasarkan namanya: fisika Newtonian.
Selama dua ratus tahun berikutnya, para ilmuwan memandang dunia fisik hanya melalui satu lensa tersebut.
Kemudian fisika kuantum ditemukan, dan segalanya berubah.
Fisika kuantum menunjukkan bahwa sebagian realitas fisik menolak presisi yang selama ini diagungkan Newton. Kita mulai memahami bahwa benda-benda fisik dapat berperilaku dengan cara yang tidak pernah kita bayangkan—cara yang menentang logika. Pergerakan partikel subatomik bersifat kacau dan tidak dapat diprediksi. Teori kuantum mengajarkan bahwa pengukuran yang benar-benar presisi tidak mungkin dilakukan, karena tindakan mengukur itu sendiri mengubah perilaku objek yang diukur.
Dalam biografinya tentang Albert Einstein, Walter Isaacson mengutip Prinsip Ketidakpastian Heisenberg yang terkenal: mustahil untuk mengetahui secara bersamaan posisi pasti suatu partikel—seperti elektron yang bergerak—dan momentum pastinya pada saat yang sama. Semakin akurat posisi diukur, semakin tidak akurat momentum dapat diketahui. Sebuah elektron tidak memiliki posisi atau lintasan yang pasti sampai kita mengamatinya. Ini adalah sifat dasar alam semesta, bukan sekadar keterbatasan alat ukur kita. Prinsip ketidakpastian ini, yang sederhana namun mengejutkan, merupakan pukulan telak bagi fisika Newtonian, karena menyatakan bahwa tidak ada realitas objektif—bahkan posisi objektif suatu partikel—di luar pengamatan kita.
Munculnya dua jenis fisika ini mengajarkan para ilmuwan untuk bersikap rendah hati. Tidak ada yang lebih unggul dari yang lain. Yang penting adalah mengetahui kapan masing-masing pendekatan digunakan. Fisika Newtonian bersifat deterministik dan memberikan jawaban yang pasti. Fisika kuantum bersifat probabilistik dan hanya memberikan petunjuk kasar ke arah yang benar.
Ini adalah cara berpikir yang sangat relevan untuk investasi, karena perbedaan yang sama juga berlaku di sana.
Coca-Cola telah menghadapi penurunan penjualan minuman bersoda selama lebih dari satu dekade, namun harga sahamnya berada di titik tertinggi sepanjang masa.
Snap berhasil membangun salah satu produk paling viral di era modern, namun harga sahamnya turun hampir 50% dalam enam bulan terakhir.
Investasi yang baik bukan sekadar mendukung perusahaan yang berkinerja baik. Investasi yang baik adalah mendukung perusahaan yang berkinerja baik dalam konteks ekspektasi pasar saat ini dan di masa depan.
Kinerja perusahaan dapat diukur secara presisi. Akuntansi bersifat eksak; pembukuan harus seimbang hingga ke satu sen terakhir. Perhitungan dan perencanaan unit ekonomi perusahaan menuntut ketelitian. Bisnis dengan margin tipis membutuhkan pemahaman yang sangat akurat atas struktur biaya. Bank of America, misalnya, mengetahui dengan pasti dampak terhadap laba jika 0,01% peminjam kartu kreditnya gagal bayar. Ini menyerupai fisika Newtonian.
Namun ekspektasi pasar tidak bekerja seperti itu. Ekspektasi adalah suasana hati, dan suasana hati—secara definisi—merupakan jarak antara apa yang terjadi dan bagaimana orang menafsirkannya. Ekspektasi menolak segala upaya untuk dipahami secara rasional. Ia berubah terus-menerus, tanpa peringatan dan tanpa alasan yang jelas. Dua perusahaan yang tampak identik dari luar bisa dipersepsikan secara sangat berbeda. Paling jauh, ekspektasi hanya bisa diperkirakan melalui probabilitas. Ini menyerupai fisika kuantum.
Gagal membedakan keduanya dalam investasi adalah hal yang berbahaya. Ada hal-hal yang bisa kita ketahui dan ukur dengan sempurna, dan ada hal-hal yang harus kita pahami secara probabilistik—bahkan filosofis. Keduanya menuntut keterampilan yang berbeda dan sering kali menarik orang-orang yang berbeda pula, banyak di antaranya tidak menyadari perlunya cara berpikir alternatif.
Ambil contoh imbal hasil pasar di masa depan. Secara teori, kita hanya perlu mengetahui tiga hal untuk menentukan ke mana arah saham: imbal hasil dividen, pertumbuhan laba, dan perubahan kelipatan valuasi.
Imbal hasil dividen mudah diukur hari ini. Pertumbuhan laba lebih sulit, tetapi masih bisa diperkirakan secara masuk akal. Namun perubahan kelipatan valuasi? Tidak ada yang tahu. Untuk memperkirakan imbal hasil saham hingga tahun 2027, kita harus tahu suasana hati investor pada tahun 2027. Tidak ada orang waras yang bisa mengklaim mampu melakukan itu. Kita bahkan tidak tahu suasana hati kita sendiri malam ini, apalagi suasana hati ratusan juta orang sepuluh tahun ke depan.
Indeks S&P 500 menghasilkan laba 100 dolar pada tahun yang berakhir Februari 2014. Obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun saat itu memberikan imbal hasil 2,5%, dan indeks diperdagangkan pada kelipatan 18,5 kali laba. Pada tahun yang berakhir Maret 2017, laba indeks tetap 100 dolar dan imbal hasil obligasi 10 tahun juga tetap 2,5%, tetapi indeks diperdagangkan pada kelipatan 23,9 kali laba.
Perbedaan kelipatan tersebut mencerminkan perubahan suasana hati investor. Pada 2017, investor merasa lebih percaya diri dibandingkan 2014. Mengapa? Tidak ada yang tahu, dan tidak ada yang bisa mengukurnya. Mungkin karena luka krisis keuangan 2008 mulai memudar. Mungkin karena lebih banyak orang memiliki pekerjaan. Mungkin karena ramalan suram yang terdengar masuk akal pada 2014 mulai terasa usang. Atau mungkin—dan kemungkinan besar—karena campuran kompleks yang tak terbayangkan dari cara puluhan juta orang memprediksi masa depan berdasarkan pengalaman hidup masing-masing dan menyesuaikan investasinya. Apa pun penyebabnya, fenomena ini bersifat seperti fisika kuantum: tidak hanya tak terduga, tetapi juga tak terukur, bahkan ketika kita tahu apa yang sedang kita amati.
Begitulah cara pasar bekerja. Dan begitulah banyak hal dalam hidup bekerja.
Seorang fisikawan pernah berkata bahwa alam semesta bukanlah Newtonian. Jika kita ingin mensimulasikan alam, kita harus membuatnya bersifat kuantum.
Albert Einstein menghabiskan sebagian besar kariernya menentang teori kuantum karena terasa bertentangan dengan seluruh pemahaman fisika sebelumnya. Ia pernah berkata bahwa seseorang tidak dapat membangun teori dari sekumpulan “mungkin”. Namun pada akhirnya, Einstein berubah pikiran. Ia bahkan menominasikan para perintis teori kuantum untuk Hadiah Nobel, dan menulis bahwa ia yakin teori tersebut mengandung bagian dari kebenaran tertinggi.
Faktanya, kita memang bisa membangun teori dari sekumpulan kemungkinan.
Perkembangan fisika kuantum berdampingan dengan fisika Newtonian menunjukkan betapa sulitnya menerima bahwa ada hal-hal yang dapat diukur dan dikendalikan, serta ada hal-hal yang tidak dapat diukur dan tidak berada dalam kendali kita—terutama ketika keduanya berada dalam bidang yang sama. Ketegangan yang sama juga dialami para investor.
Menerima bahwa investasi terdiri dari fakta-fakta presisi dan teori-teori “mungkin” adalah hal tersulit bagi investor. Teori “mungkin” kadang bisa diterjemahkan ke dalam probabilitas, tetapi itu pun tidak menyelesaikan masalah, karena kita tidak dapat menghitung probabilitas dari hal-hal yang tidak kita ketahui. Sejarah pasar selalu—dan akan selalu—menjadi kisah tentang peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya sampai akhirnya terjadi. Ini sulit diterima oleh pola pikir Newtonian, yang dimiliki banyak investor.
Menjadi nyaman dengan ketidakpastian membutuhkan dua hal: kerendahan hati dan ruang untuk kesalahan. Kerendahan hati untuk mengakui bahwa ada banyak hal yang tidak dapat kita ketahui, dan ruang untuk kesalahan sebagai satu-satunya perlindungan terhadap ketidakpastian tersebut. Inilah satu-satunya cara bertahan di industri di mana sebagian variabel terpenting tidak dapat dihitung, diukur, atau dipahami sepenuhnya.
Menariknya, Newton sendiri akhirnya menyadari hal ini. Setelah diduga kehilangan kekayaan besar akibat investasi, ia berkata bahwa ia mampu menghitung pergerakan benda langit, tetapi tidak mampu menghitung kegilaan manusia.
Diterjemahkan dari website collabfund
$BBCA $MIDI $BBRI