imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

#123
Jum, 30 Jan 2026


Edisi Spesial ๐Ÿ‘
Selamat Membaca, Semoga bermanfaat โ˜•


Siapa yang Lebih Kejam: Manusia atau Pasar? (Rahasia Mental yang Bikin Banyak Orang Rugi Besar)


Bayangkan ini: Kamu lagi scroll, lihat teman-teman pada posting "cuan gila" di saham X, Grup / Stream rame bilang "masuk sekarang atau nyesel seumur hidup". Kamu FOMO berat, langsung beli tanpa baca prospektus, tanpa hitung valuasi, tanpa margin of safety. "Udah banyak yang masuk, pasti aman lah."

Beberapa minggu kemudian? Harga mulai turun. Kamu mikir "ini cuma koreksi kecil, bentar lagi balik naik." Tapi market bilang lain harga terjun bebas. Mentalmu kena: panik, deg-degan tiap buka app, akhirnya cut loss rugi 40-50%. Lalu apa yang kamu lakuin? Cerita ke teman, post di stream "saham ini jelek banget, jangan masuk!", ikut nyebarin ketakutan. Karena kamu nggak mau rugi sendirian.

Cerita kayak gini terjadi setiap hari di Indonesia, terutama pas bull run 2025 atau koreksi tajam seperti IHSG drop 7.35% di Januari 2026 gara-gara panic selling setelah keputusan MSCI. Banyak rookie (dan bahkan senior) jatuh ke lubang yang sama: masuk karena FOMO, keluar karena panic, tanpa dasar fundamental.

Jadi, siapa yang kejam? Manusia atau pasar?

Pasar itu netral. Ia cuma mencerminkan apa yang orang-orang lakukan secara kolektif. Pasar nggak punya emosi, nggak dendam, nggak pilih kasih. Ia naik-turun berdasarkan supply-demand, berita, sentimen, dan perilaku massal. Benjamin Graham di The Intelligent Investor bilang: "Pasar adalah voting machine jangka pendek, tapi weighing machine jangka panjang." Artinya, short-term pasar irasional karena emosi manusia, tapi long-term ia akan kembali ke nilai sebenarnya.

Yang kejam sebenarnya manusia terhadap dirinya sendiri. Kita yang bikin FOMO (fear of missing out) jadi alasan masuk tanpa persiapan. Kita yang nggak punya margin of safety konsep inti Graham: beli saham di harga jauh di bawah nilai intrinsiknya (intrinsic value), biar ada "ruang kesalahan" kalau estimasi salah atau market lagi gila. Graham bilang margin of safety adalah "central concept of investment" beli aset senilai Rp 1 dengan Rp 0.5-0.7, supaya meski salah sedikit, tetap aman.

Tanpa margin of safety:

โ€ข Kamu beli karena "banyak yang masuk" (herd mentality).

โ€ข Masuk all in tanpa diversifikasi.

โ€ข Saat turun, mental breakdown โ†’ panic selling.

โ€ข Rugi, lalu nyebarin fear ke orang lain (contagion emosi).

Ini siklus klasik: greed โ†’ euphoria โ†’ denial โ†’ fear โ†’ panic โ†’ despair. Dan manusia yang paling menderita di tahap fear-panic, karena kita overreact. Studi behavioral finance (dari Kahneman & Tversky) bilang loss aversion: rugi terasa 2x lebih sakit daripada untung terasa senang. Makanya orang lebih cepat cut loss daripada hold sabar.

Contoh nyata:

2022-2023: IHSG koreksi tajam gara-gara BI rate naik, banyak retail panic sell di bottom.

2025 bull run: Banyak FOMO masuk saham hype, untung besar awal, tapi pas koreksi 2026, panic lagi.

Global: Dot com bubble 2000, crypto crash 2022 sama pola: manusia yang bikin gelembung, manusia yang bikin crash.

Pasar cuma "mengatakan": "Kamu yang masuk tanpa dasar, ya tanggung konsekuensinya." Pasar nggak kejam ia adil. Yang kejam adalah ketidakdisiplinan kita sendiri.

Cara Keluar dari Siklus Kejam Ini (Jadi Investor Pintar, Bukan Korban Emosi)

1. Selalu pakai Margin of Safety
Hitung intrinsic value dulu (misal pakai DCF sederhana atau PE wajar historis). Beli hanya kalau harga < 70% dari nilai itu.

2. Hindari FOMO
Kalau semua orang bilang "masuk sekarang", itu sering sinyal top. Sebaliknya, beli pas orang takut (Warren Buffett: "Be greedy when others are fearful").

3. Diversifikasi & DCA
Jangan all in satu saham. Rutin beli indeks atau reksadana saham pasif.

4. Atur mental
Buat rencana exit sebelum masuk. Kalau turun 20-30%, jangan langsung CL cek fundamental dulu. Pakai stop loss rasional, bukan emosi.

5. Belajar dari buku
Baca The Intelligent Investor Graham, atau The Psychology of Money Morgan Housel keduanya bilang: perilaku > pengetahuan.

Kesimpulan: Pasar nggak kejam kita yang sering kejam ke diri sendiri dengan biarkan emosi menguasai. Pasar cuma guru keras: ia hukum ketidakdisiplinan, tapi reward kesabaran & logika. Mulai sekarang, tanya diri: "Aku beli karena data atau karena takut ketinggalan?"

Dyor ya ๐Ÿ“Œ $IHSG $CDIA $BUMI

Read more...
2013-2026 Stockbit ยทAboutยทContactHelpยทHouse RulesยทTermsยทPrivacy