Tanggapan untuk komentar di atas yang out of context di postingan ini :
Harus dibedakan 'pompoman biasa' dengan apa yang diminta MSCI kaitannya dengan free float.
Kalau 'pompoman biasa', dia ngajak ritel beli, banyak publik yang ikut beli, yang mana memang kumpulan individu itu pantas disebut free float.
Sementara yang dimasalahkan MSCI adalah institusi-institusi yang sengaja bagi-bagi kepemilikan sahamnya supaya masing-masing di bawah 5%, menyamar di dalam porsi publik, dan selama ini tetap diperhitungkan sebagai free float.
Padahal seringnya institusi-institusi tersebut masih berafiliasi dengan pengendali, mengerek harga saham untuk 'tujuan tertentu'.
Istilah kata 'tujuan tertentu' ini adalah goreng saham terus buang barang ke asing, buang ke MSCI, dll.
Ya MSCI gak bodoh dan gak mau dikibulin terus, jelas itu praktik manipulasi angka free float.
.........................
'Pompoman biasa' menurut keyakinan saya gak bisa serta merta dibilang salah, apalagi kalau didasari analisis yang cukup dan hanya sekedar sharing.
Repot kalo dikit-dikit dibilang pompom dan bisa dipidana. Maka saya dan anda semua kalo nulis di stream Stockbit bahas saham tertentu, bisa aja besok langsung diciduk.
Walaupun memang lebih baik kalau ada regulasi yang mengatur kriteria suatu pihak digolongkan sebagai influencer investasi, dan wajib dibekali dengan syarat lisensi resmi.
Namun untuk saat ini, asal intensinya baik ya biarkan.
Asal jangan intensi buruk, gaet followers atau member, ajak rame-rame beli saham, lalu sengaja buang barang guyur membernya sendiri di saat mereka beli.
Apalagi kelasnya berbayar tapi intensi buruk gitu.
Makanya daripada susah-susah, kedepannya OJK bisa mewajibkan orang-orang yang punya followers sampai jumlah tertentu harus ambil lisensi kalau mau lanjut nulis, buka kelas, atau bikin konten.
..................
Jadi beda urusan antara goreng saham pompoman biasa ke ritel vs goreng saham untuk 'dibuang' ke MSCI.
$BBNI $PANI $WIFI