📢 IHSG Sentuh Trading Halt seiring Pengumuman MSCI terkait Free Float
IHSG sempat anjlok -8,8% dan memicu trading halt pada perdagangan intraday hari Rabu (28/1), sebelum ditutup di level 8.320,6 (-7,3%). Kejatuhan IHSG hari ini ditekan oleh pengumuman MSCI pada Selasa (27/1), yang menyebut akan menerapkan perlakuan sementara untuk pasar Indonesia dengan membekukan sejumlah perubahan terkait indeks review (termasuk indeks review Februari 2026), yakni:
▪️Pembekuan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS).
▪️Pembekuan penambahan konstituen ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI).
▪️Pembekuan perpindahan naik antar–indeks segmen ukuran, termasuk dari Small Cap ke Standard.
MSCI menjelaskan bahwa perlakuan tersebut dimaksudkan untuk mengurangi index turnover dan risiko kelayakan investasi (investability), sembari memberi waktu bagi otoritas pasar terkait untuk menghadirkan perbaikan transparansi.
Sebelumnya, MSCI pada Oktober 2025 mengumumkan tengah meminta masukan kepada para pelaku pasar terkait rencana penggunaan Monthly Holding Composition Report yang dipublikasikan oleh KSEI sebagai tambahan referensi dalam menghitung free float saham emiten Indonesia. MSCI menyebut bahwa berdasarkan hasil konsultasi dengan para pelaku pasar, para investor menyoroti permasalahan fundamental terkait investability di pasar Indonesia masih dapat berlanjut akibat kurangnya transparansi struktur kepemilikan saham serta kekhawatiran atas kemungkinan perilaku perdagangan terkoordinasi yang mengganggu proses pembentukan harga yang wajar.
Untuk mengatasi sebagian kekhawatiran tersebut, MSCI menjelaskan bahwa pasar Indonesia memerlukan informasi struktur kepemilikan saham yang lebih rinci dan reliable — termasuk kemungkinan pemantauan konsentrasi kepemilikan yang tinggi — guna mendukung penilaian free float dan investability yang kuat. MSCI menambahkan, jika progres untuk mencapai peningkatan transparansi yang diperlukan tidak tercapai hingga Mei 2026, MSCI akan menilai ulang status aksesibilitas pasar Indonesia. Dengan mempertimbangkan konsultasi pasar, hal ini dapat berujung pada:
▪️Penurunan bobot dalam MSCI Emerging Markets Indexes untuk Indonesia.
▪️Potensi reklasifikasi Indonesia dari status Emerging Market menjadi Frontier Market.
Menyusul pengumuman MSCI tersebut, BEI bersama self–regulatory organization (SRO) lain yang terdiri dari KSEI, KPEI, dan OJK pada Rabu (28/1) menegaskan komitmen untuk terus memperkuat koordinasi dengan MSCI. BEI dan SRO juga memandang masukan yang disampaikan MSCI sebagai bagian penting dalam upaya memperkuat kredibilitas pasar modal Indonesia.
BEI dan SRO mengatakan bahwa mereka memahami pembobotan MSCI memiliki peran strategis bagi pasar keuangan global serta menjadi salah satu referensi utama bagi investor, sehingga mereka berkomitmen untuk mengupayakan yang terbaik dalam rangka meningkatkan bobot saham Indonesia dalam indeks MSCI. Selanjutnya, BEI bersama SRO akan terus berkoordinasi dengan MSCI guna memastikan keselarasan pemahaman serta implementasi peningkatan transparansi informasi.
🔑 Key Takeaway
Tekanan jual terjadi secara keseluruhan dengan 753 dari 910 saham di IHSG mengalami penurunan pada perdagangan Rabu (28/1), merefleksikan efek domino dari penurunan signifikan harga saham–saham konglomerasi. Mengingat tenggat waktu yang diberikan MSCI hingga Mei 2026, kami menilai bahwa investor — setidaknya dalam waktu dekat — dapat berfokus pada saham–saham yang memiliki fundamental solid, terutama yang tidak termasuk dalam indeks MSCI Indonesia sehingga memiliki risiko yang lebih terbatas. Dalam waktu dekat, kita juga akan memasuki musim pembagian dividen (mulai April 2026), sehingga koreksi harga saham bisa dijadikan peluang dividend play oleh investor.
Stockbit Snips 28 Januari 2026:
https://cutt.ly/ptcttFoZ
