Indonesia Bakal Banjir Likuiditas ?
Wamenkeu Thomas Djiwandono sudah disahkan Paripurna DPR untuk menjadi Deputi Gubernur BI.
Entah kebetulan atau tidak, 2 nama yang dikabarkan akan 'tukar guling' posisi yaitu Thomas dan Juda Agung, keduanya saat ini juga menjabat Anggota Dewan Komisioner Ex-Officio di OJK sebagai representasi Kemenkeu dan BI.
Artinya, Pemerintah punya sosok yang jadi 'kepanjangan tangan' di 4 otoritas keuangan tertinggi negara ini yang tergabung dalam KSSK (Kemenkeu, BI, OJK, LPS).
Menkeu Purbaya ketika baru dilantik jadi Menkeu dan meninggalkan jabatan Ketua LPS, maka Wamenkeu Anggito Abimanyu yang diplot jadi Ketua LPS.
Wamenkeu Thomas Djiwandono kini jadi Deputi Gubernur BI, berpeluang besar bertukar posisi Wamenkeu dengan Juda Agung.
Thomas dan Juda sama-sama masuk jadi Dewan Komisioner Ex-Officio OJK.
Memang banyak yang berpandangan miring dengan aneka ragam stigma negatif berbau politis.
Tapi jika mau berprasangka baik, hal ini banyak sisi positifnya, apalagi sudah mendapat dukungan politik penuh dari Komisi XI DPR RI.
Pesannya jelas bagi investor dan pelaku usaha -> sinergi kesamaan langkah antar semua pengambil keputusan keuangan di negeri ini.
Suku bunga turun
Ekspansi likuiditas
Pendalaman pasar (termasuk perbaikan iklim usaha dan investasi)
3 poin utama ini sudah sepaham antar 4 otoritas tersebut, artinya ekonomi Indonesia siap digas.
Kompak, satu otoritas ngegas, semua ikut ngegas, gak takut ada yang nge-rem tiba-tiba.
Demand dan supply domestik jadi fokus untuk dirawat.
Tidak lagi terlalu hati-hati dengan ketidakpastian global yang percuma ditunggu kapan bisa pastinya.
Ekspansi fiskal mendorong pertumbuhan ekonomi lebih cepat.
Bukan lagi menaikkan pajak, cukai, dan beban ini itu yang dampaknya sistemik dan meluas terhadap daya beli masyarakat.
Aturan dipermudah, iklim investasi diperbaiki.
Tidak takut tiba-tiba ada otoritas yang bikin aturan aneh-aneh yang menghambat pasar keuangan dan dunia usaha.
Dampaknya, baik sisi demand maupun sisi supply Indonesia sudah menunjukkan indikasi positif beberapa waktu terakhir.
Lihat data PMI manufaktur, pertumbuhan kredit, pertumbuhan uang beredar, indeks keyakinan konsumen, penjualan ritel, penjualan mobil dan motor.
Tapi arah positif yang paling jelas ada di lampiran slide kedua.
Kredit Investasi melonjak pertumbuhannya hingga lebih dari 20% di Des 2025.
Angka yang tidak pernah tercapai setidaknya dalam 5 tahun terakhir.
Kredit Investasi erat hubungannya dengan ekspansi bisnis, terbukanya aktivitas usaha baru, dan terciptanya lapangan kerja.
Makin banyak masyarakat yang kerja, penghasilan membaik, demand pun meningkat, konsumsi naik, ekonomi tumbuh.
Buat kita-kita yang jadi pelaku pasar, lebih baik memanfaatkan sinyal positif ini.
Kalau anda bukan politisi atau ekonom, tidak perlu lah banyak mikir negatif, gak ada untungnya.
Banjir likuiditas dampak negatifnya apa ?
Bubble, duarrr, pecah, krisis, ulang lagi dari nol.
Tapi, ekonomi Indonesia belum sampai ke pertumbuhan potensialnya, yaitu kisaran 6,5% menurut Menkeu Purbaya.
Selama angan-angan masih belum terlalu jauh dari realitas, realitas masih bisa tumbuh mengimbangi, ya masih aman.
Jadi kalau mau krisis, setidaknya tunggulah GDP growth naik dulu melewati level potensial, pas orang-orang udah pada halu gak karuan.
Belum apa-apa udah krisas krisis, kapan mau majunya.
Inget, krisis global di luar sana belum tentu jadi krisis domestik.
Kalau Indonesia bisa memaksimalkan potensinya, itu malah bisa jadi peluang.
$BBRI $BBCA $IHSG
1/2

