Update Industri Sarung Tangan Sekali Pakai & Proyeksi Penjualan $MARK 2030
________________________________________
Triwulan 1 2026
Outlook industri sarung tangan sekali pakai di Malaysia masih terlihat cukup suram. Hal ini terlihat dari tergerusnya market share produsen Malaysia di kancah dunia. TA Securities Research mengungkapkan bahwa China semakin memantapkan diri sebagai global cost leader dengan market share yang naik signifikan dari 11% pada 2019 menjadi 34% di tahun 2025. Pada periode yang sama produsen Malaysia mengalami penurunan tajam dari 63% menjadi 35%.
Faktor utama pendorong cost efficiency ini adalah China berhasil mengkapitalisasi cost advantages dari sisi energi dengan didorong oleh kapasitas ekspansi yang masif. Hal ini membuat China dapat menjual produknya dengan ASP USD 13-15 per 1000 pcs dan untuk pabrik di Indonesia dan Vietnam akan menjual dengan ASP USD 16. Harga tersebut sangat sulit untuk disaingi oleh produsen Malaysia yang hanya mampu menjual USD 17-18 itupun mereka masih berdarah-darah.
Satu dari sedikit advantages yang dimiliki produsen Malaysia adalah pengenaan tarif di USA. di tahun 2025 produsen China kehilangan market share dari 32% hanya menjadi 6% sedangkan produsen Malaysia naik dari 44% menjadi 59%. Meksi Malaysia sukses mengambil ceruk yang ditinggalkan produsen China di USA tetapi persaingan ketat di luar USA diprediksi masih akan sangat ketat.
Berbicara mengenai ekspansi, Vietnam dan Indonesia telah menjadi destinasi baru bagi produsen asal China dengan perkiraan akan ada tambahan 60-80 Miliar pcs pertahun (11-15% kapasitas dunia). Para analis memperkirakan pemulihan industri sarung tangan akan sedikit mundur hingga akhir 2027. Kabar terbaru mengatakan bahwa pabrik baru di Indonesia kemungkinan baru akan beroperasi setelah libur lebaran 2026. Jadi terdapat kemungkinan purchasing hand former baru akan terlihat pada laporan Q2 2026 bagi MARK.
Pada tahun ini, permintaan global sarung tangan diperkirakan mencapai sekitar 398 miliar pasang. Dengan asumsi satu hand former mampu memproduksi 10.000 unit, maka kebutuhan hand former secara agregat dapat diturunkan menjadi sekitar 39,8 juta unit. Apabila MARK mampu mempertahankan pangsa pasar sebesar 40%, volume penjualan yang berpotensi diraih Perseroan berada di kisaran 15,92 juta unit. Selanjutnya, merujuk pada penjelasan manajemen bahwa average selling price (ASP) diperkirakan berada pada level USD 4 per unit (dengan asumsi kurs Rp16.500 per USD, setara Rp66.000), serta ditambah kontribusi pendapatan dari segmen peralatan rumah dan pertanian sebesar Rp120 miliar, maka potensi pendapatan MARK pada 2026 diperkirakan mencapai sekitar Rp1,1 triliun.
Apabila proyeksi diperpanjang hingga 2030, dengan estimasi permintaan global meningkat menjadi 600 miliar pasang sarung tangan dan menggunakan metodologi perhitungan yang sama, MARK berpotensi melayani kebutuhan sekitar 24 juta unit hand former. Volume tersebut sejalan dengan kapasitas produksi maksimum MARK saat ini, sehingga relatif aman untuk disimpulkan bahwa hingga 2030 Perseroan masih mampu memenuhi permintaan pasar tanpa memerlukan ekspansi kapasitas atau belanja modal (capex) yang signifikan.
Dengan mempertahankan asumsi yang konsisten, pendapatan MARK pada 2030 diproyeksikan dapat mencapai sekitar Rp1,7 triliun, dengan laba bersih sekitar Rp 581 miliar. Angka tersebut setara dengan estimasi earnings per share (EPS) sekitar Rp152 dan mengimplikasikan valuasi price to earnings ratio (PER) sekitar 5,4x (berdasarkan harga penutupan per 26 Januari 2026).